Top Social

Sakit di Awal Tahun

Senin, Januari 25, 2021

Assalamu alaikum, manteman.
Semoga semua yang baca blog saya ini dalam keadaan sehat wal'afiat dan dalam rahmat Allah SWT. Aamiiin...

Di usia saya yang udah kepala 4 ini, saya jadi semakin sadar akan pentingnya kesehatan. Apalagi di masa pandemi, hampir setiap hari ada aja kabar teman atau orang-orang yang saya kenal terkonfirmasi positif Covid-19 dan juga hampir setiap minggu ada kabar duka meninggalnya para penderita atau pun yang menginap penyakit lain seperti jantung atau kanker. Mau gak mau hal itu bikin saya jadi agak waswas juga akan kesehatanku dan keluarga.
 

Sebenarnya gak enak juga sih sering-sering menulis artikel yang sedih atau seperti berkeluh kesah, tapi ya mau gimana lagi... Menulis di blog jadi semacam self healing buat saya karena bisa mencurahkan perasaan yang kadang gak bisa saya ungkapkan secara lisan.

Di awal tahun 2021, qadarullah saya dan Atu jatuh sakit. Bukan karena Covid-19 tapi karena penyakit lain. Setelah sembuh, lanjut Alifah lagi yang gak enak badan dan Faizah pun ikutan sakit.

Jadi ceritanya gini,
*eh jangan lupa siapin cemilan sebelum baca, soalnya agak panjang nih... 😁

Di hari Selasa tanggal 5 Januari, sepulang dari kantor, Atu ngerasa gak enak badan. Kami pikir sih mungkin kecapean aja, karena sejak akhir tahun memang dia kurang istirahat. Jadi dia cuman minum suplemen dan beristirahat. Keesokan harinya tetap ngantor seperti biasa karena harus hadiri rapat di DPR, walopun berangkatnya agak siangan menjelang rapat dimulai. Sepulang kantor, Atu merasa agak meriang. Kali ini dia minum Sanmol biar demamnya turun dan istirahat. Seluruh badannya saya pijitin biar dia rasa enakan.

Atu di hari Rabu saat rapat di DPR

Di hari Jumat pagi, koq gantian saya yang rasa meriang. Badan terasa gak enak, pegel gitu, leher gatal dengan batuk berdahak dan kepala pun rasanya sakit banget. Seluruh badan saya termasuk pelipis dibekam oleh teman dari komunitas Rehab Hati yang bisa dipanggil ke rumah untuk bekam dan rukyah. Setelah dibekam, nih kepala mulai terasa agak enakan dikit. Sedangkan Atu, walopun masih agak lemes tapi tetap ngantor seperti biasa.

Hari Sabtu dan Minggu ada arisan keluarga, terpaksa saya gak hadir untuk menghindari orang lain tertular, walopun saya belum tau nih penyakit apa yang saya derita. 


PERIKSA DI DOKTER

Saya dan Atu berinisiatif mendaftarkan diri Swab PCR Test di RS. Ananda untuk hari Senin pagi. Tapi di hari Minggu sore itu saya menghubungi Ibu Maya, Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, pimpinan Atu, sekedar bersilaturahim dan mengucapkan selamat karena beliau baru aja sembuh dari Covid-19. Kepada beliau saya menceritakan kalo saya dan Atu sedang sakit dan menceritakan gejala yang saya rasakan. Oleh Ibu Maya, saya dan Atu disarankan untuk segera periksakan diri ke dr. David Kurnia, Sp.PD. di RS. Akademis Makassar. Ibu Maya bercerita kalo sebelum terkonfirmasi Covid tempo hari, gejalanya hampir sama dengan yang saya rasakan dan beliau langsung mendatangi dr.David sehingga penanganannya lebih cepat. Kami pun mengikuti saran Ibu Maya, mendaftar di dr. David Kurnia untuk hari Senin pagi tanggal 11 Januari dan membatalkan rencana Swab PCR di RS. Ananda.

Di hari Senin pagi, akhirnya saya dan Atu bertemu dr. David Kurnia, secara bergantian. Dokter menanyakan apa gejala yang saya rasakan, ada berapa orang di dalam rumah, siapa-siapa saja orang rumah yang sakit, bagaimana kondisi yang tidak sakit, dan sebagainya. Saya menjawab semua pertanyaan dokter dan juga bertanya beberapa hal terkait kondisiku. Saya diperiksa, mulai dari tekanan darah hingga gula darah, termasuk nafas juga. Dokter lalu merujuk saya dan Atu untuk rontgen thorax. Cukup lama kami menunggu hasilnya. Setelah hasilnya keluar, kami kembali masuk ke dalam ruang praktek dokter.

Dr. David menjelaskan tidak ada terdeteksi virus Corona di dalam paru-paruku, hanya saja terlihat saya menginap Bronchitis. Demikian juga Atu. Dokter mengatakan karena saya dan Atu tidak merokok, sumbernya bisa saja dari debu, serbuk bunga, pakan ternak atau bulu hewan. OMG! Bisa jadi dari bulu-bulu kucing yang ada di rumah nih... 

Dokter lantas kembali merujuk kami untuk periksa darah di laboratorium, termasuk Rapid Test, dan kembali datang hari Kamis tanggal 14 Januari. Dokter juga meresepkan obat-obatan untuk paru-paru dan imunitas tubuh.

Sepulang dari dokter, di sore hari ketika mandi, saya gak mencium aroma sabun yang saya pakai. Lidah juga ikut-ikutan terasa pahit. Aduduh... Jadi khawatir deh saya, "jangan-jangan Covid nih!" pikirku. Untungnya si kecil Faizah udah diungsikan ke rumah Oma waktu hari Minggu. Kalo Alifah dan Nadhif tetap harus di rumah, biar ada yang bisa bantuin saya dan Atu selama sakit. Tapi mereka sudah kami bekali aneka suplemen, vitamin dan sebagainya agar imunnya tetap terjaga.

Dalam rentang waktu hari Senin hingga Kamis, saya dan Atu gak pernah keluar rumah. Kami mengisolasi diri dalam kamar.


BUKAN COVID

Akhirnya hari Kamis pun tiba. Pagi-pagi banget saya dan Atu bergegas ke RS. Akademis. Kami langsung ke laboratorium mengambil hasil pemeriksaan darah. Dengan penuh rasa penasaran sambil berdoa semoga hasilnya bagus, saya langsung membuka hasil Rapid Test. Tertulis dengan jelas Non-Reactive. Alhamdulillah. Sedangkan hasil lainnya saya gak tau, karena berupa kode dan angka yang hanya dokter bisa membacanya.

Kami pun masuk ke ruang praktek dr. David Kurnia secara bergantian. Ketika giliran saya, perasaan sedikit lega melihat kening dokter yang gak berkerut membaca hasil pemeriksaanku. Berarti hasilnya gak mengkhawatirkan.

"HBnya bagus sekali ini. 15. Seperti HB laki-laki." dokter mulai buka suara. Haha... Alhamdulillah. Dokter lalu menjelaskan kalo secara umum hasilnya bagus, hanya ada sedikit gangguan fungsi hati. Katanya bisa jadi disebabkan pola makan yang tidak sehat, seperti suka makan gorengan dan makanan bersantan. 

Saya lantas bertanya, "Tidak ada ji Covid, dok?".
Mata dokter terlihat masih membaca dengan seksama lembaran hasil pemeriksaanku yang ada di atas mejanya.
"Kalo dari hasil lab ini, tidak ada. Aman."
ALHAMDULILLAH. Sekali lagi lafadz itu terucap dalam hati.
"Tapi dok, kenapa penciumanku hilang dan lidahku rasanya pahit sekali?" saya berusaha meyakinkan diri.
"Biasa ji itu. Bukan cuma Covid yang sebabkan hilang penciuman. Virus lain juga bisa, tapi tidak berbahaya." jawab dr.David.
Akhirnya hilang sudah kekhawatiranku.

Dokter kembali membuat resep untuk penyakit gangguan fungsi hati yang terdeteksi dan menyuruh saya istirahat selama seminggu, gak boleh keluar rumah tapi tetap berkativitas seperti biasa dalam rumah asal tidak terlalu capek.

Karena diagnosa dokter yang sangat menyakinkan itu, sepulang dari rumah sakit, saya langsung menjemput Faizah di rumah Oma. Kangen ta', hampir seminggu gak ketemu.

IKUTAN SAKIT

Keesokan harinya, Alifah mengeluh gak enak badan dan indera penciumannya yang samar. Dia jadi ketakutan. Saya jelasin aja sesuai kata dr. David tentang hilangnya indera penciuman, biar dia gak khawatir berlebihan. Alifah tetap saya berikan suplemen penambah imun dan vitamin.

Alifah yang sangat membantu saat Maminya sakit

Lalu, Ika, iparku menginformasikan di grup WA keluarga kalo Khalila, anaknya, terkena cacar air. Saya langsung cek badan Faizah, jangan sampai udah kena cacar juga, soalnya Faizah dan Khalila abis nginap bareng di rumah Oma. Dan bener saja... Di badan Faizah udah ada beberapa benjolan berisi air. Dia tertular cacar air! Malam harinya saya langsung membawa Faizah ke dokter untuk diobati.

Pica yang walaupun sakit cacar, tetap aktif.
Main make up.

Oiya, Nadhif apa kabar? 
Alhamdulillah baik dan selalu baik. Karena Nadhif memang imunnya selalu terjaga sebab rajin olahraga, istirahatnya cukup, dan terutama makannya banyak, hehe. 
Dia emang paling jarang sakit dan gak gampang tertular penyakit.

Nadhif yang sangat jarang sakit. Alhamdulillah

Baca juga : Mam, Jangan Panik!

Hari ini, Senin 25 Januari 2021, kami sekeluarga sudah dalam keadaan sehat wal'afiat. Tinggal menghabiskan obat dari dokter dan tetap minum rajin suplemen. Aktivitas keluar rumah udah saya kurangi kecuali untuk hal yang sangat penting.

So, doakan kami ya, manteman. Semoga sehat selalu, gak sakit lagi yang mengkhawatirkan. Aamiiin 🙏
Doa yang sama juga saya kirimkan buat kalian sekeluarga. 





8 komentar on "Sakit di Awal Tahun"
  1. mba Er big girls sama big boy nya cakep-cakep ya, semoga semuanya sehat selalu. aamiin, kapan-kapan kalau ke Makassar mau ah main ke rumah mba Err

    BalasHapus
  2. Sekarang ini akupun sedikit parno kalo sakit mba. Lgs kuatirnya covid.. anakku sednag pilek , tp daya penciuman dan perasa normal, badan ga panas. Ga batuk. Udh ke dokter sih dan diksh obat. Suplemen ga brenti aku kasih. Ama air putih yg buanyaaaak.

    Pusing yaaa, aku kdg capek juga hrs trus2an parno tiap baca berita mba. Makanya udh bbrp bulan ini aku malah ga mau baca update yg covid. Bukan ga peduli, tapi aku mau menjaga mood ku supaya ga drop yg ntr berefek ke imun.

    Tapi walo ga mau baca berita update, jgn kuatir aku slalu ketat kalo soal prokes :D

    BalasHapus
  3. Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan dan perlindungan ya kak. Semoga dengan sehat, kita bisa menebar banyak kebahagiaan, energi positif dan bermanfaat untuk orang banyak, Aaamin.

    BalasHapus
  4. lega ya kak. bukan covid.
    aku pun meriang nih batuk juga dah sebulan, kayaknya gejala Bronchotis seperti yang Atu derita. Apalagi di rumah juga ada mertua sakit semua. Yang satu asam urat ga bisa bangun yang satu struk ringan tangan kanan dan kaki sudah melemah. Allah kasih ujian double-double moga kita semua diberikan kekuatan dan kesabaran dalam kesembuhan aamiin

    BalasHapus
  5. Semoga kita selalu diberi kesehatan ya kak 🙏☺️. Curah hujan juga tinggi sekali jadi kalau daya tahan tubuh kendor bisa terinfeksi berbagai macam virus. Alhamdulillah semuanya sudah sembuh

    BalasHapus
  6. Idem dengan Fanny.
    Apa-apa kalau berasa tak enak badan, yang teringat Covid mulu.

    Kalau di rumah, selama pandemi, kami bertiga pernah terkena, hiiiks, diare, hihihi.
    "Penyakit gak bonafid" menurut hubby.
    Ada-ada saja, ya.

    Memang yang bonafit, apa coba?
    Yang susah disebutkan dan sound cool di pendengaran, such as diabetes melitus, jantung koroner, gitu kali ya?
    Hahaha. Ada-ada saja ahh.

    Alhamdullillah,
    Sudah kembali sehat seperti sedia kala, ya Mom Ery
    Berasa banget nikmat sehat kalau pas sakit ya.

    Itulah kenapa kita selalu dianjurkan berdoa minta kesehatan dalam setiap kesempatan.
    Tentu saja bukan melulu doa yang dimunajatkan, kudu disertai tindakan!
    YES!

    BalasHapus
  7. Ya Allah...
    Syafakumullah untuk keluarga, kak Ery.

    Kemarin keluargaku di Surabaya juga mengalami hal yang sama.
    Sakit dan di SWAB.

    Qodarulloh, mas positif.
    Alhamdulillahnya Ibu engga.

    Jadi isoman dan kami semua turut menguatkan mas yang sakit.

    Semoga Allah lindungi kita semua dari beratnya sakit dan wabah seperti ini.
    Aamiin~

    BalasHapus
  8. Alhamdullilah semua kembali sehat ya Mbak. Di atas aku baca ikut deg2an soalnya, habis gejalanya mirip covid 19 ya. Ah ternyata tidak. Alhamdulillah

    BalasHapus

Kalau kamu suka dengan tulisan ini silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.