Memetik Hikmah dari Kehilangan

Minggu, Oktober 11, 2020


Bismillah...

Tepat seminggu yang lalu, hari itu, Minggu tanggal 4 Oktober 2020, saat jam menunjukkan pukul 14.20, HP saya berdering.


"Halo ibu, ini dari JNE." kata penelpon di seberang sana.

"Halo. Oh iya, ada paket ya?" Saya balik bertanya.

"Iya bu." jawabnya.

"Paket dari mana, pak? Lemonilo ya?"

"Iya bu, dari Lemonilo. Lagi nda' di rumah ki', bu?"

"Aih... Iya, nda' di rumah ka' sekarang. Rumah juga lagi kosong."

"Oh, kosong ini rumah ta' bu? Tapi terbuka lebar pintunya. Saya ketok-ketok pagar, saya panggil-panggil juga, tapi tidak ada yang keluar. Saya kira ada orang karena pintunya terbuka."

"HAH?? Pintu terbuka? Nda' salah rumah ji ki', pak? Rumahku pagar hitam, nomor 32."

"Iya bu, cocok mi. Pas depan Pangkas Madura kan?" jawab kurir, menegaskan.


Ya Allah.. Kaget banget saya mendengar penjelasan kurir pengantar paket. Katanya pintu rumahku terbuka lebar, padahal kami semua sedang di luar rumah. Saya, Alifah dan Faizah sedang di rumah Mami menghadiri arisan keluarga. Nadhif lagi ke warnet bareng teman-temannya. Sedangkan Atu, kalo hari Minggu memang jadwalnya keluar rumah menyalurkan hobi beternak.


Baca juga : Mam, Jangan Panik!


Setelah memastikan pada kurir tersebut kalo rumah yang dia lihat terbuka itu adalah rumahku, bergegas saya pulang ke rumah bareng Alifah, ditemenin juga sama Papi. Mobil saya kebut dengan lampu sen yang menyala dan sesekali membunyikan klakson supaya kendaraan di depan menyingkir. Sedangkan Alifah bertugas menelfon Nadhif dan Atu untuk segera pulang, tapi dengan pesan agar berhati-hati jika sudah sampai di rumah jangan langsung masuk, siapa tau pencurinya masih yang ada di dalam. Saya juga menelfon tetangga sebelah rumah, sebagai yang terdekat dari lokasi kejadian, termasuk tukang cukur yang di depan rumah.


Kepada tukang cukur, saya mintain tolong untuk cek langsung ke rumah dan dia membenarkan kata kurir pengantar paket tersebut kalo pintu rumah saya terbuka lebar. Mendengar itu, saya tetap berusaha tenang. Sedangkan Alifah sudah terlihat panik dan shock. Dari jok belakang, Papi berusaha menenangkannya.



Yang ada di pikiranku saat itu cuman rasa bersalah karena kami memang jarang mengunci pagar setiap kali keluar rumah. Bahkan kunci rumah hanya disimpan seadanya di tempat yang kami sepakati. Rasanya nyesal banget udah teledor, padahal daerah rumah kami rawan pencurian karena memang berada di pinggir jalan raya. Saya pun teringat sepeda Brompton milik Atu yang diparkir secara terlipat di ruang tengah dan laptop yang baru aja saya pakai sebelum keluar rumah dan masih tersimpan di atas meja makan yang juga berada di ruang tengah. Sambil tetap berkonsentrasi menyetir mobil, saya terus berzikir "Astaghfirullah al'adziiim..."


Atu & Brompton-nya


Baca juga : Charge Iman


Sekira 15 menit, kami pun tiba di rumah. Dari kejauhan tampak para tetangga sudah berkumpul di depan pagar yang tertutup. Kata tukang cukur, tadi Nadhif sudah ada tapi sekarang lagi ke kantor Polsek untuk melaporkan kejadian. Sedangkan Atu belum tiba di rumah.


Begitu membuka pagar, tampak pintu rumah yang terbuka dan rusak di bagian pegangan dan kuncinya karena dibuka dengan paksa. Semuanya berserakan di lantai. Dalam hati saya bergumam "Alhamdulillah, berarti pencuri itu tidak membuka pintu dengan kunci yang disimpan seadanya.". Saya langsung berjalan ke meja di ruang tengah, terlihat masih ada laptop dan juga sepeda Brompton masih terparkir di lantai.


Pintu rumah yang dirusak pencuri


Lalu terdengar suara Alifah berteriak dari kamarku, "Mamiii, emas ta'!!". Saya dan Papi segera berlari ke kamar, dan... Astaghfirullah.. Kotak dan toples penyimpanan emas-emasku terhambur di atas tempat tidur, sudah kosong semua. Sedangkan laci lemari terbuka lebar. Selain itu, gak ada yang acak-acakin, gak ada baju yang dibongkar atau lemari lain yang dibuka. Sepertinya pencurinya fokus mengambil emas dan merasa sudah cukup dengan yang didapat di laci lemariku.

Alifah mulai menangis sejadi-jadinya, sepertinya dia ketakutan dengan apa yang menimpa kami. Papi berusaha menenangkannya dengan pelukan. Gak lama kemudian Atu datang. Beberapa keluarga yang tadi arisan di rumah Mamiku juga pada berdatangan. Termasuk mertua dan ipar-iparku.

*terima kasih buat seluruh keluarga atas perhatiannya 🙏


Nadhif yang tadi pergi melapor ke kantor Polsek akhirnya pulang, diikuti 2 orang polisi berpakaian dinas. Kami dilarang menyentuh apa pun dan diinterogasi kronologi kejadian. Lalu datang lagi 2 orang polisi berpakaian biasa. Mereka adalah reserse, alias detektifnya polisi. Menginterogasi kami lebih dalam, termasuk meminta rekaman CCTV dari rumah tetangga terdekat. Datang pula Tim INAFIS yang bertugas mencari sidik jari pelaku.


Tim INAFIS melakukan olah TKP


Saya jadi teringat kejadian di malam hari sebelumnya dan saya ceritakan kepada tim reserse bahwa ada laki-laki dan perempuan yang datang, mengetuk pagar dan ketika saya buka pintu, si perempuan bertanya "Ibu, kita di' yang mau cari pembantu?", spontan saya jawab tidak , karena memang saya gak pernah ada niat mau pakai pembantu alias asisten rumah tangga. Si perempuan itu lantas balik ke arah laki-laki yang datang bersamanya dan bilang "Oh, bukan tawwa... Salah rumah ki' kapang?" lalu mereka pun pergi. Saya pun sampein hal itu ke Atu dan langsung bilang "Ah, modus ji kali' itu...". Mungkin itu semacam pertanda ya?... Dan tim reserse pun membenarkan penyatan saya, bahwa bisa saja mereka mengecek  dengan membunyikan pagar dan kalo saya gak keluar, mungkin malam itu juga rumah saya dibobol. Mungkin ya....


Ketika saya meminta rekaman CCTV dari tetangga yang gak jauh dari rumah, sebuah tempat laundry kiloan, salah satu pekerjanya cerita kalo sewaktu jam 13.00 dia lagi duduk-duduk sambil merokok di depan laundry, dia lihat pagarku terbuka lebar. Sekira sejam kemudian, dia keluar lagi dari laundry, dia melihat pagar udah tertutup dan ada kurir yang teriak-teriak beri salam sambil mengetuk pagar. Berarti kejadian pencurian itu jam 13.00 dengan pagar yang terbuka lebar. Mungkin pencurinya sengaja, biar kalo ada yang masuk rumah, dia bisa leluasa untuk kabur keluar karena gak ada pagar yang menghalangi.


Malam harinya, setelah kejadian dan olah TKP udah selesai oleh polisi, Atu langsung memanggil tukang untuk memperbaiki pintu yang rusak, termasuk juga bikin pintu besi sebagai pengaman.


Pintu besi


Well, dari kejadian ini saya bisa memetik hikmahnya...


Bahwa yang namanya kehilangan memang bisa saja terjadi. Matahari saja bisa hilang dari pandangan kita. Bajkan nyawa sekali pun bisa hilang dari raga. Apalagi kalo cuman harta benda.


Semua ada masanya, termasuk harta yang kita miliki. Bisa jadi kita yang meninggalkannya dalam bentuk menjualnya, memberikan ke orang lain, atau mungkin kematian. Tapi bisa juga dia yang meninggalkan kita dengan hilang begitu saja. Dan jika kita kehilangan harta, berarti harta itu bukan lagi rezeki kita. 


Kehilangan bisa jadi ujian skaligus pengingat bahwa itu bukan hal yang mustahil. MungkIn Allah menegur saya yang lalai, baik dalam pengamanan atau mungkin kurang sedekah, atau bisa aja sebagai tolak bala akan musibah yang lebih besar. Who knows?


Istighfar saja hadapi kehilangan dengan tabah dan sabar. Serta camkan pada diri bahwa kita tidak bisa memiliki segala sesuatu selamanya.


Baca juga : Ketika Kenyataan Tak Seindah Harapan


Lalu, di malam itu Alifah bertanya, "Mami, sedih ki'?"

Saya balik bertanya, "Menurutmu?"

"Kenapa ki' tidak menangis atau marah, pale'? Santai ji ki' saya lihat." Alifah nanya lagi. Seolah gak percaya akan respon yang saya tunjukkan atas kejadian ini.

"Untuk apa? Ikhlaskan saja, Duna ji ini. Insya Allah ada gantinya. Kan kita sudah tau kalo orang yang mencuri itu tidak berkah dia makan uang hasil curian dan tidak akan diterima amal ibadahnya sebelum dia bertobat." jawab saya, berusaha tegar.


❤😇❤


Hari ini, tepat seminggu yang lalu setelah kejadian, saya semakin sadar bahwa respon kita terhadap suatu kejadian akan mempengaruhi kejadian selanjutnya.


Insya Allah saya ikhlas.






12 komentar on "Memetik Hikmah dari Kehilangan"
  1. Semoga Allah SWT mengganti barang yang hilang dengan rezeki yang lebih banyak lagi ya mam. Kehilangan mengajarkan banyak hal pada siapapun termasuk yang mendengar cerita tentangnya. Inshaallah saya pun bisa mengambil hikmahnya ����.

    BalasHapus
  2. Innalillahi, saya baru tau, semoga dapat ganti yang berlipat dan rejeki yang lebih lagi kak

    BalasHapus
  3. Innalillahi. sabar ya kak. Semoga Allah menggantikan barang yang hilang dengan rezeki yang lebih banyak. Pasti ada hikmahnya dibalik kehilangan.

    BalasHapus
  4. Duuuh ikut prihatin mba. Semoga diganti dengan rezeki yg LBH baik yaaa. Aku yakin si pencuri juga ga akan berkah itu. Mencuri ttp mencuri.

    Akupun belajar utk mengikhlaskan sesuatu kalo hilang. Krn toh sbnrnya ini semua bukan milik kita. Ga ada satupun yg bisa kita klaim bener2 milik kita. Anak, keluarga, perhiasan, hewan peliharaan, suatu saat bisa diambil oleh pemilikNya kapan aja. Berat sih yaa utk belajar ikhlas. Tapi memang hrs bisa. Jadi jika kehilangan itu datang, setidaknya ga terlalu berat mengikhlaskan. Di mindset harus diinget, semua itu hanya titipan :)

    BalasHapus
  5. Subhanallah Mbak, aku tegang bacanya dari atas. Berani banget ya malingnya, bongkar rumah orang di siang hari. Aku yakin mereka pasti sudah lama, dan acara mengetuk pintu untuk menanyakan apakah butuh pembantu itu adalah modus. Kehilangan emas emas perhiasan itu tentu bikin sakit hati ya mbak. walaupun belum pernah mengalami tapi bisa membayangkan. Insyaallah dapat ganti yang lebih danberlipat ya Mbak. amin in

    BalasHapus
  6. Turut prihatin Ji. Semoga terganti dengan yg lebih bagus & baik. Rumah Saya juga dulu pernah kemalingan, dan tidak ketangkep malingnya. Akhirnya mengikhlaskan & lebih waspada di masa depannya

    BalasHapus
  7. Ketika mendengar kabar Dari kurir saya sudah pasti panic itu Mbak. MasyaAlllah Mbak Erry masih bisa tenang dan bisa nyetir sampai rumah. Saya kalaubegitu biasanya gemetaran dan ga bisa ngapa ngapain. Shock.

    Semoga Allah ganti dengan yang leboh baik ya mbak. Ketenangan dan hati yang ikhlas juga anugerah dari Allah.

    Sepakat mbak, Sabar itu dari permulaan, pertengahan dan diakhir. Moga kita bisa semakin waspada dan lebih dekat dengan Allah. Aamiin

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. seperti biasa tulisan mba Ery selalu menghipnotis untuk dibaca detail dan seksama, aku kayak bener-bener berimaginasi bayangin ceritanya mba Ery. Saya jadi ingat pengalaman saya pas kehilangan laptop, kamera, perhiasan, bahkan sampai pakaian-pakaian yang bermerk gitu diambil, termasuk hp. saat itu saya ngekos awal kerja. bisa jadi dibilang teledor sama orang lain, aku suka mempercayai bahwa semua orang tuh di dunia baik semua. Jadi kayaknya ga mungkin lah. padahal saat itu tahu kalau kamar A kuncinya bisa ngebuka kamar lain. Suka gitu mba aku juga, jadi kadang kami juga kalau pergi rumah ga dikunci simpan sembarangan di tempat yang disepakati sama tuh mba hehehe. Insyaallah nanti mba bakal diganti rezekinya dengan yang lebih baik ya Mba Ery atau bahkan berlebih dari yang sekarang. tetep positif thinking ya mba

    BalasHapus
  10. Kak Ery...
    turut prihatin atas kejadian ini...ya Allah, sungguh bisa bersabar dan berbesar hati ini adalah pelajaran yang paling penting.

    Semoga Allah gantikan dengan yang lebih baik, kak..
    In syaa Allah.

    BalasHapus
  11. Aku bacanya pelan-pelan, mba.
    Dan setuju bangetterutama di bagian ini:

    "... mungkIn Allah menegur saya yang lalai, baik dalam pengamanan atau mungkin kurang sedekah, atau bisa aja sebagai tolak bala akan musibah yang lebih besar. Who knows?"

    ... aku pun Insya Allah selalu begitu, mba.

    Ini pasti aku kurang sedekah...

    Orang mau "naik kelas", memang kudu diuji, ji

    Insya Allah, Allah SWT akan ganti dengan yang lebih "berkah" lagi.

    Insya Allah.

    Peluuuk, ji...

    BalasHapus
  12. Ya Allah peluuk...semoga dihukum pencurinya Kak..maaf baru ka baca ini..

    BalasHapus

Kalau kamu suka dengan tulisan ini silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.