Pandemi Virus Corona & Kekhawatiran Keluarga

Sabtu, September 12, 2020

Sungguh pandemi ini berhasil meluluh lantakkan seluruh sendi kehidupan di seluruh dunia. Berimbas pada segala sektor, mulai dari pariwisata, pendidikan hingga perekonomian. Setiap dari kita harus mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan, bahkan pemerintah gak segan melakukan pembatasan aktivitas bila penderita Covid 19 makin bertambah.

Buat kami sekeluarga, yang kadang mengkhawatirkan adalah adik-adik saya yang tinggal dan bekerja di kota lain. Dalam tulisan ini saya pengen cerita tentang adik saya Sherief, yang merupakan salah satu karyawan di salah satu kantor kementerian di Jakarta.

Baca juga : Rindu Adik

Saya & Sherief saat liburan ke Semarang akhir tahun kemarin

Kekhawatiran Keluarga

Di awal pandemi, kami di Makassar dikejutkan dengan informasi yang dia share ke grup Whatsapp keluarga tentang seorang pejabat di kantornya yang positif terinfeksi virus corona dan meninggal dunia. Setelah itu bertambah lagi beberapa orang yang positif hingga akhirnya diberlakukan Work From Home. Dan itu berlaku di seluruh Indonesia pada seluruh instansi pemerintah dan perusahaan swasta.

Saat ini sudah berlaku yang namanya New Normal atau kenormalan baru, yang diberlakukan sebagai upaya untuk beraktivitas di luar rumah seoptimal mungkin, sehingga dapat beradaptasi dalam menjalani perubahan perilaku yang baru. Dibarengi dengan menjalani protokol kesehatan sebagai pencegahan penyebaran dan penularan Covid-19. Itu berarti orang-orang yang dulunya ngantor dari rumah, udah harus balik lagi ke kantor untuk bekerja. Malah Sherief udah mulai dinas ke luar kota.

Sejak setelah Idul Fitri kemarin, dia sudah mengunjungi beberapa kota di Indonesia dalam rangka tugas kantor. Ika, istrinya dan anak-anaknya, akhirnya mudik dulu ke Makassar, karena selain sering juga ditinggal dinas, di Makassar tentunya Ika lebih mudah dan banyak terbantu jika harus keluar rumah untuk urusan belanja logistik dan lain sebagainya. Dibanding kalo dia tetap di Jakarta, hanya sekeluarga kecil aja yang tinggalnya di apartment lantai 7. Apalagi sebentar lagi di Jakarta akan kembali diberlakukan PSBB, yang artinya ruang gerak makin terbatas.
Setiap kali akan melakukan perjalanan dinas, Sherief selalu Rapid Test terlebih dahulu. Terhitung sudah 7 kali dia menjalani Rapid Test. Dan setiap kali dia akan Rapid Test, kami selalu berdoa semoga hasilnya non-reaktif. Alhamdulillah doa kami diijabah Allah.

Namun, baru-baru ini kembali sebuah kabar mengejutkan Sherief share di grup Whatsapp keluarga, ketika dia akan perjalanan dinas ke keluar kota lagi, salah seorang teman yang melakukan Rapid Test bersamaan, hasilnya Reaktif. Gak sampai di situ, 3 hari kemudian dia menginfokan lagi kalo temannya yang reaktif itu sudah di-Swab Test dan hasil PCR Test-nya adalah Positif. Kami sekeluarga jelas aja kembali khawatir, dan hanya bisa mengingatkan agar ia tetap mematuhi protokol kesehatan, gak lupa minum vitamin agar imunnya selalu baik dan tentu saja mendoakan agar ia terhindar dari segala marabahaya, termasuk infeksi penyakit.

Akhirnya pihak kantornya berinisiatif untuk mengadakan Swab Test bagi karyawan yang sering berinteraksi dengan orang itu, termasuk Sherief, pada hari Sabtu pagi ini (12 September 2020). Pada saat akan dilakukan Swab Test, Sherief dan teman-temannya dikarantina di hotel, yang dijaga ketat oleh TNI, selama 2 malam karena sekaligus menunggu hasil Swab Test yang katanya akan keluar Minggu malam besok. Kami sih berharap semoga aja hasilnya negatif. Aamiiin.

Sherief saat Swab Test
Sabtu, 12 September 2020

Baca juga : Vibrasi Positif Tingkatkan Imun Tubuh

*update per tanggal 14 September 2020

Hasil Swab dan PCR Test nya Sherief udah keluar dan hasilnya Alhamdulillah NEGATIF. sesuai yabg tercantum di bawah ini.
Apa Itu Rapid Test, Swab Test dan PCR Test?

Well, beberapa manteman yang membaca tulisan ini mungkin masih bingung, gak bisa membedakan apa itu Rapid Test, Swab Test dan PCR Test.

Berikut ini penjelasan dan perbedaannya :

- Rapid Test adalah metode pemeriksaan secara cepat didapatkan hasilnya, kurang lebih 30 sampai 60 menit, dengan cara mengambil sampel darah dari kapiler (jari) atau vena (urat).  Pemeriksaannya menggunakan alat catridge untuk melihat adanya antibodi dalam tubuh ketika terinfeksi virus. Tingkat akurasi rapid test mencapai 90%.

- Swab Test adalah cara untuk memperoleh bahan pemeriksaan (sampel). Swab dilakukan dengan mengusap rongga nasofarings atau orofarings (rongga-rongga yang berhubungan dengan pernafasan, melalui hidung dan tenggorokan) dengan menggunakan alat seperti kapas lidi khusus.

- PCR Test adalah singkatan dari polymerase chain reaction atau reaksi berantai polimerase atau "fotokopi molekuler". Merupakan metode pemeriksaan virus SARS Co-2 dengan mendeteksi DNA virus. Hasil yang didapat adalah positif atau negatif terinvesksi virus sars Co-2 atau yang kita dengan Covid-19.

Swab dan PCR Test tak terpisahkan, karena hasil dari Swab Test itulah dilakukan PCR Test. Kedua test inilah yang direkomendasikan oleh WHO untuk mendeteksi Covid-19 karena keakuratannya, dan karena akuratnya itu maka wajar jika prosesnya rumit dan biayanya cenderung mahal.

Untuk lebih jelasnya bisa kamu lihat di infografis berikut ini :

Infografis milik CNN Indonesia

Nah, kalo manteman pengen tau apakah terkena virus Corona atau tidak, bisa memeriksakan diri ke rumah sakit rujukan virus Corona di seluruh Indonesia. Kalau pun ingin cara yang lebih praktis untuk sekedar bertanya langsnung kepada dokter yang ahli dan terpercaya mengenai fakta kesehatan, bisa menggunakan aplikasi Halodoc. Lewat aplikasi ini, manteman bisa menghubungi dokter kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Memudahkan banget kan?

Jadi, sudahkah manteman mengunduh aplikasi Halodoc?




36 komentar on "Pandemi Virus Corona & Kekhawatiran Keluarga"
  1. Sayapun akhirnya sama dg Adiknya. Sy memboyong istri dan anak keluar dari Jabodetabek ke rumah kami di Jawa Timur. Walaupun Jatim jg tinggi tapi setidaknya di sana ada keluarga besar yang mampu memberikan daya dukung yg besar dibandingkan jika masih di Jabodetabek yang sendirian saja.

    Sayapun sama harus beberapa kali ralid test, dan Alhamdulillah s.d. sekarang Non Reaktif. Semoga seterusnya sehat.

    BalasHapus
  2. iya masa ini menjadi masa sulit bagi semua orang ya.

    BalasHapus
  3. Sama Mbak, adikku pernah juga rapid test karena awal masuk kerja lagi setelah long time wfh. Pas dia lagi gak fit, jadi hasilnya reaktif danharus diswab. Alhamdulillah hasilnya negative. Beneran ya mbak masa pandemi ini membuat waswas. Semoga kita semua sehat selalu yaa

    BalasHapus
  4. Dengar kabar klo Makassar akan PSBB kembali. Ya Allah... semoga kita semua sll sehat2. Amin

    BalasHapus
  5. Kayakmi saya ini kak, tinggal berjauhan dengan keluarga besar. Was-was terus, apalagi ayahnya Ridwan sudah ngantor kembali sejak sudah lebaran. Semoga sehat-sehatki semua selalu dalam lindunganNya

    BalasHapus
  6. Cukup praktis ya, sebelum ke dokter bisa tanya tanya dulu di Halodoc. Soalnya mau langsung ke RS pertimbangannya banyak.

    BalasHapus
  7. 3x swab test, dan aku msh aja kesakitan tiap idung dimasukin alatnya. Padahal ada temen yg katanya ga sakit samasekali. Kurasa dia dpt petugas yg bener2 mengerti anatomi hidung makanya bisa pas masukin alatnya sampe dlm :(.

    Semoga adekmu selalu dijauhkan dari virus ini ya mba. Krn kadang orang yg terkena virus ini tapi tanpa gejala, dan walopun sudah melakukan isolasi mandiri 2 Minggu hanya saja tidak melakukan tes swab ulang, belum tentu loh dia sudah negatif. Case yg aku dan suami alamin , kami udh sebulan lebih,msh tanpa gejala dan ttp sehat, swab 3x msh aja positif dan ttp bisa menularkan kalo ga isolasi.

    Temen adekku swab k-6 sekitar 3 bulan, baru bersih dan negatif. Tanpa gejala juga. So, ga ada yg jamin org kliatan sehat, tapi tidak terinfeksi :D. Yg ptg jaga imun selalu sih. Aku bersyukur immune ku msh kuat makanya tidak bergejala sampai skr. Semoga swab k4 aku negatif, doain yaaa mbaaa ;)

    BalasHapus
  8. Pandemi ini semakin mengkuatirkan ya Mbak. Bukannya berkurang, eh, sekarang malah bertambah parah. Aku kira, new normal, tidak sepenuhnya disadari orang bahwa virus berbahaya ini masih mengintai, jadi agak abai pada protokoler kesehatan. Yah selain berusaha mematuhi semua protokol, sekarang kita perlu menjaga kesehatan paripurna, selain berdoa tentunya

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah sehat ji Sherief ya Kak, memang makin mengkhawatirkan ini covid, semakin dekat..semoga kita semua dilindungi Allah aamiin..

    BalasHapus
  10. alhamdulillah mba Ery hasilnya negatif ya, semoga pandemi ini segera berakhir dan kembali new normal, aku sedihnya belum ketemu ibuku sudah hampir 8 bulan karena mau pulang juga worry gitu

    BalasHapus
  11. Deh sangat mengkhawatirkan memang inj Covid gank. Pai kerja di RS dan banyak sekali mi positif di sana huhuhu... Tapi waktu dinas ke Ambon ki di tes PCR, alhamdulillah negatif ji, pulang ke sini juga negatif ji hasil PCR-nya. Tanteku pernah reaktif ki hasil rapidnya, 2x tes pula reaktif, paniknya mo kodong tapi OTG ki ia. Nanti swab ke 2 kali baru dinyatakan sembuh. Halodokter ini lumayan membantu buat daftar rapid tawwwa. Semoga kita sehat selalu

    BalasHapus
  12. Ngeri ngeri sedap ya mbk Covid-19. Alhamdulillah hasilnya negatif. Beberapa kali lihat swab test lumayan bikin orang nangis ya, huhuhu. Semoga kita selalu diberi kesehatan, aamiin

    BalasHapus
  13. Semoga kita semua sehaaaattt ya Mba
    Memang harus saling menguatkan di kondisi yg super-challenging seperti sekarang.
    HaloDoc juga memudahkan banget ya

    BalasHapus
  14. Hiks, pandemi ini memang menghajar dunia dengan telak. Tapi manusia tidak akan menyerah 💪 sekarang udh di tahap menerima kondisi dunia karena sudah saking terbiasanya 7 bulan ini.. sisi positifnya, jadi makin sadar diri tentang pentingnya kesehatan dan menjaga daya tahan tubuh.. kalopun harus rapid test, aku udh download halodoc juga kak, udh pakai 2 tahun terakhir.. memudahkan sekali untuk konsultasi dan pembelian obat.

    BalasHapus
  15. Alhamdulillah hasil pemeriksaan terakhir hasilnya negatif ya, Mbak.. semoga sehat selalu adiknya, juga Mbak dan keluarga semua.
    Btw kalau aku ya lebih enak tanya-tanya via Halodoc gitu daripada dateng langsung. Takut ke RS soalnya :)

    BalasHapus
  16. Halodoc udah install. Bermanfaat banget untuk konsultasi ke dokter tanpa tatap muka. Karena di masa pandemi ini, sebisa mungkin kami menghindari rumah sakit kalau tidak mendesak. Semoga kita semua dan adik Mbak Sherief selalu diberi kesehatan melaluinya. Aamiin.

    BalasHapus
  17. Kmrn Pak Suami juga rapid test lewat halodoc. Lebih cepet prosesnya dan murah. Karena rapid trstnya milih di Prodia. Kalau ga lewat halodoc kita harus ada surat keterangan dokter dr klinik, rumkit atau puskesmas. Ngeri yaaa kalau hrs kesana di masa pandemik gini, padahal cuma minta surket. Alhamdulillah tuh lewat halodoc ga perlu gitu2.

    BalasHapus
  18. Sungguh zaman pandemi membuat semua orang ketakutan yaa, kak..
    Instal halodoc agar masalah seputar kesehatan tidak lagi membuat khawatir.
    Tetap tenang dan selalu berpikir yang baik-baik.
    Semoga sehat-sehat selalu, kka Ery dan keluarga.

    BalasHapus
  19. Aplikasi Halodoc saya ada dari dulu, buat beli obat, tanay dokter..eh sekarang ada layanan rapid dan swab tes, lengkaaap!
    Semoga adiknya gapapa ya Mbak, selalu sehat dala lindungan-Nya
    Suami perdua minggu rapid tes wajib di kantor (drive thru) jadi jika ada hasil yang mencurigakan bisa segera diatasi

    BalasHapus
  20. Bersyukur adek kak ervya test PCR-nya negatif.
    Beberapa teman yang sudah swab bilang, proses pengambilan sampelnya itu cukup menyakitkan. Saya sendiri belum pernah swab, baru rapid pas mau terbang ke Makassar. Oh ya, salam kenal ya Kak..saya penduduk baru di Sulsel (mau bilang Makassar tapi tempat tinggalnya sudah masuk Gowa hehehe)

    BalasHapus
  21. Alhamdulillah hasilnya negatif. Memang ngeri deh wabah ini. Apalagi sebagian besar itu yang gak bergejala. Tanpa sadar jadi bisa menularkan ke yang memiliki risiko tinggi

    BalasHapus
  22. Wah, jadi tahu bedanya rapid test, SWAB dan PCR. Semoga semua sehat dan pandemi ini lekas berlalu yaa..Amin

    BalasHapus
  23. Bersyukur ya hasilnya negatif, jadi deg-degan rasanya kalo ada teman sekantor yang positif gitu ya. Suamiku harusnya berangkat ke BAtam untuk ngurus kerjaannya. Tapi ditunda terus karena aku minta diurus dari Semarang dulu lah. Karena suami ada riwayat sakit jantung juga meski sekarang udah pasang ring

    BalasHapus
  24. Sampai skrg aku masih siweur and bingung, ketuker² antara swap, rapid and PCR.
    Rasanya itu sakit gak sih pas ditest?
    Alhamdulillah ya, kalo hasilnya ternyata negatif. Yg paling deg²an itu klo menunggu hasilnya ya..

    BalasHapus
  25. Suka deg2an ya kalau orang terdekat kita berinteraksi dgn org yg kena corona, ternyata di tesnya pun sakit sepertinya karena melalui jaringan vena juga. Nah jadi tahu kan bagaimana perbedaan Swap, rapid dan PCR yang ternyata kadang dianggap sama oleh orang2

    BalasHapus
  26. alhamdulillah hasilnya negatif ya mba.... semoga keluarga sehat selalu. Aku juga ngerasain waktu adik aku di swab rasanya deg degan banget lebih deg-degan daripada pas mau nikah huhuhuhu

    BalasHapus
  27. Alhamdulillah ya, Mbak, adiknya negatif. Pandemi ini memang berdampak luas di semua sektor kehidupan. Semoga segera berlalu dan kita semua sehat-sehat selalu

    BalasHapus
  28. Memang bikin khawatir ya, Mbak, buat keluarga kalau anggota keluarga kita sering perjalanan dinas dan disuruh rapid tes begitu. apalagi ada rekan kerja yang positif saat perjalanan bersama. Semoga kita semua selalu sehat.

    BalasHapus
  29. Seminggu yg lalu aku juga akhirnya rapid test SAR COV19 yg diambil darahnya 3 sampling, alhamdulillah hasilnya rabu kemarin keluar negatif. Emang khawatir sih tapi daripada panik emang lebih baik test. Alhamdulillah hasilnya negatif ya mba adiknya, semoga teman adiknya yg positif itu lekas pulih.

    BalasHapus
  30. semoga keluarga kita selalu diberikan kesehatan ya mbaa, soalnya suamiku 2 minggu kemarin dinas ke Bogor dan harus swa test, jadi makin worry bangettt

    BalasHapus
  31. alhamdulillah negatif ya mak.. ngga kebayang paniknya sekeluarga.. Huhu.. menurut aku tes PCR emang lebih terpercaya hasilnya dari sekedar rapid tes aja. Bismillah, semoga sehat sehat selalu sekeluarga ya maaaak

    BalasHapus
  32. Alhamdulillah ya Kak sekarang ada Halodoc serba membantu dan membuat tenang
    pelayanannya apapun ada dan komplit.

    BalasHapus
  33. Kebayang rasa deg-degan nya, been there ketika suami PCR juga kemarin. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah ya Mba.

    BalasHapus
  34. Suamiku sempat reaktif rapid test. Khawatir juga waktu itu. Tapi pas PCR Alhamdulillah negatif. Mending langsung swan aja ya kalo khawatir gitu. Rapid test banyak gak akuratnya

    BalasHapus
  35. Sudah dong mba, aku sudah punya app Halodoc. Selama ini kugunakan untuk membeli obat dan mencari informasi konsultasi di RS. Ternyata bisa juga ya digunakan untuk mencari lokasi pelaksaan PCR test gitu.

    BalasHapus
  36. Aku juga sudah pernah tes swab mba utk pastikan RT yang reaktif tidak positive Corona. Alhamdulillaaaah negative dan sebenarnya tesnya juga ngg sakit kok.. hanya aneh ajaa rasanya

    BalasHapus

Kalau kamu suka dengan tulisan ini silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.