Khitanan Adat Bugis Makassar & Ulang Tahun ke-6 Faizah

Selasa, Agustus 25, 2020


Assalamu alaikum.

Alhamdulillah, pada tanggal 22 Agustus 2020 lalu kami sekeluarga sudah menunaikan hajat, yaitu mengkhitankan Faizah, bertepatan di hari ulang tahunnya yang ke-6.

Ketika saya share foto-fotonya di medsos, manteman dari daerah lain banyak yang nanya tentang prosesi khitanan ini. Ada yang bilang beda dengan yang diadakan di daerah asalnya, tapi ada juga yang terheran-heran karena katanya di daerahnya gak mengenal khitanan atau sunatan untuk perempuan.

So, ini menginspirasi saya untuk menuliskan di blog tentang khitanan yang diadakan kemarin.

Well, sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya ngadain khitanan. Sebelum Faizah, saya udah pernah adain khitanan Alifah, si sulungku, sewaktu berumur 2 tahun (tahun 2001) dan Nadhif, si anak tengah, sewaktu dia umur 11 tahun (tahun 2015). Jadi ceritanya udah lengkap lah pengalaman saya ngadain khitanan anak cewek dan cowok 😁.

Baca juga : Khitanan Nadhif

Pica di bawah lellung

Namun sebenarnya untuk hal seperti ini saya sih ngikut keluarganya Atu (suami saya), yang memang masih memegang teguh adat istiadat dan selalu menyelenggarakan ritual budaya macam ini. Soalnya kalo gak diikutin juga jangan sampai nantinya terjadi yang namanya silang pendapat antara saya dan Atu, khususnya mertua, hihihi... 🤭

Dalam adat Bugis Makassar, khitanan anak perempuan disebut dengan ma'katte. Prosesinya dilakukan oleh seorang perempuan yang ahli dan dipercayai oleh keluarga, disebut sanro.

Diawali dengan passili atau membersihkan tubuh dengan percikan air yang telah dibacakan ayat suci Al Qur'an. Airnya ditempatkan di wajan besar yang diisi dengan sejumlah uang logam, lalu air diambil menggunakan daun (entah daun apa itu, yang pasti bukan timba atau gayung, hehe...), kemudian dengan daun itu digunakan untuk memercikan air ke bagian-bagian tertentu pada tubuh. Passili ini dilakukan di depan pintu rumah, filosofinya adalah agar segala yang buruk keluar dari rumah. Setelah dipassili, Faizah kemudian dibawa ke kamar mandi untuk mandi besar dan berwudhu. Seluruh pakaian yang dikenakan saat passili tadi harus dilepas dan diberikan kepada sanro. Hal ini juga bermakna dalam passili.

Prosesi Passili


Kemudian Faizah diantar masuk ke kamar dan duduk di atas di tempat tidur, dengan dipangku oleh saya, lalu dituntun untuk membaca kalimat Syahadat. Di samping kiri dan kanan saya duduk Mami dan Petta (mertua saya), sedangkan Atu berdiri di samping tempat tidur. Sanro duduk di hadapan kami, bersiap-siap melakukan tugasnya. 

Dalam prosesi khitanan, ada juga disediakan ayam jantan yang diambil sedikit darah di kepalanya. Kalo yang ini sih saya kurang paham maknanya apa. Tapi sebagian besar anak-anak yang dikhitan akan histeris ketika ayam ini diperlihatkan, termasuk Faizah 😆 dia nangis karena mengira ayam itu yang akan mematuk sebagai tanda khitanan, padahal tidak, hhaha...

Prosesi Ma'katte

Prosesi Appabaju

Prosesi selanjutnya adalah memasangkan baju bodo di badan Faizah sebanyak 7 lapis, dengan warna yang berbeda-beda. Prosesi ini disebut Appabajui atau memakaikan baju. Hal ini bermakna memantaskan segala yang baik buat anak, dan yang terbaik itulah yang akan dipakai seterusnya.

Selanjutnya Faizah disompo (dibopong di pundak) oleh Atu dan dibawa menuju ke luar rumah untuk kemudian menerbangkan ayam kampung jantan tadi. Dalam prosesi ini biasanya ada juga yang membawa anak ke bagian rumah yang lebih tinggi, dengan harapan meninggikan atau mengangkat derajat anak.

Pica disompo oleh Atu & Mami menerbangkan ayam jantan

Setelah itu kami kembali ke ruang tengah untuk duduk bersama membacakan doa untuk kesehatan, keselamatan dan keberkahan hidup Faizah ke depannya. Di sini tersaji aneka penganan khas Sulawesi Selatan yang semuanya punya makna tersendiri. Ada beras dalam ember, yang di atasnya ditancapkan lilin merah atau yang disebut juga tai banno. Terdapat pula gula merah yang diletakkan di atas beras tersebut. Selain itu ada pisang raja sebanyak 3 sisir.

Beras adalah makanan pokok masyakat kita. Sedangkan lilin sebagai sumber penerang. Gula merah bermakna manisnya kehidupan dan pisang raja atau pisang pada umumnya adalah buah yang banyak terdapat di Sulawesi Selatan, yang seluruh bagian dari pohonnya bisa berfungsi dalam kehidupan.

Tak ketinggalan pula kue-kue Bugis yang manis, seperti cucuru' bayao, biji nangka, barongko, onde-onde kelapa serta bubur yang entah bahan utamanya apa tapi yang pasti manis banget karena berlimpah gula merah.

Acara baca doa ini kami lanjutkan dengan perayaan ulang tahun Faizah. Tapiiii... Sesuai permintaan, dia maunya dinyanyiin dalam bahasa Korea, wakwkakkk... Baru kali ini kami dikerjain anak 6 tahun, disuru nyanyi lagu Happy Birthday dalam bahasa Korea 😅🥴 Saeng-il Chughahamnida!

Faizah senang banget hari itu, karena  selain dia berulang tahun, juga karena memang dia udah tunggu-tunggu banget momen sunatan ini. Dia pikir udah jadi anak gadis kalo udah sunatan, haha... 

Usai baca doa & tiup lilin ultahnya Pica


So, mohon doanya ya manteman...
Semoga Faizah jadi anak sholehah, berkah selalu dalam kehidupannya. Aamiin allahumma aamiiin.

By the way, kalo pengen lihat selengkapnya, bisa klik video di bawah ini yaa...

 We love you,. Pica








9 komentar on "Khitanan Adat Bugis Makassar & Ulang Tahun ke-6 Faizah"
  1. Serunya acara sunatan Pica, jadi pengen hadir di sana, Picaaa..sehat selalu ya Nak jadi anak soleh dan pintar...

    BalasHapus
  2. Unik Mbak, sunatan anak perempuan masih ada di adat Makassar. Saya baca di awal tadi menyerengit, soalnya tak pikir seperti sunatan perempuan di Africa yang mengutak-atik alat kelamin anak. Insya Allah di makassar enggak ya...

    Dan ikut bangga pada dirimu Mbak Ery. Ikut melestarikan budaya bangsa. Jadi ngerti sedikit sekarang tentang sunatan anak perempuan di Sulawesi Selatan

    BalasHapus
  3. Proses memotong bagian atas ayam jantan selalu memancing anak perempuan untuk histeris saat disunat dan di situlah hebobnya. Jadi ingat Nabila waktu disunat, dia setuju disunat hanya karena akan memakai baju bodo berlapis-lapis hahaha. Sehat terus ya Pica dan jadi anak shalihahnya mami dan atu.

    BalasHapus
  4. Wah, ada upacara adatnya khusus utk khitanan anak perempuan ya, Mbak. Di daerahku anak perempuan juga di khitan, Mbak. Tapi khitannya seminggu setelah anak lahir, dan ga pake acara adat apapun. Cuma doa keluarga aja. Beda daerah, beda tradisi. Tapi aku yakin maksudnya sama, ya.

    BalasHapus
  5. Mbaaaa tp pas Santo td melakukan tugasnya, itu pica nangis ga? Anakku yg cewe pun di sunat, tp pas bayi semuanya. Sempet drama tuh, Krn dokter anaknya ga mau ngelakuin khitan, Krn dlm agama dia anak cewe ga boleh disunat. Bahaya.

    Laaah, dalam Islam kan disunat semua. Jd lah aku ke bidan yg bisa ngelakuin, dan Fylly yg msh bayi disunat Ama dia. Nangis sih anaknya, dan aku baru pertama kali itu liat anak perempuan di sunat. Slama inikan ga pernah liat Krn rata2 dilakuin pas masih bayi. Ga inget jadinya :p.

    Baru tau kalo budaya di Sulawesi begitu :).

    BalasHapus
  6. Luar biasa adatnya ya ada khitanam perempuan jadi bayangin khitanan versi cowok di jawa kak hahha. Kemarin ponakanku juga di khitan. Sehat selalu Pica cantik

    BalasHapus
  7. Ya Allah...
    Pica gemeesshnyaa...uda jadi anak gadis, sholiha cerdas dan semoga bisa lancar Bahasa Koreanya.
    Saengil chukhamnidaaa...anak cantiikk~

    Selamat Mami Ery dan keluarga.

    BalasHapus
  8. MasyaAllah, baru tahu anak perempuan dikhitan dan dirayakan seperti itu. Di Makasar ada ya perayaannya. Sekalian kumpul keluarga besar yaa, apalagi Faizah pas lagi ultah juga. selamat yaa ..

    BalasHapus
  9. saya senang liat foto2 Pica dan keluarga yg turut melestarikan kebudayaan Sulawesi Selatan di acara khitanan ini.. bangga juga karna acara ini bisa jadi ajang silaturahmi keluarga..

    BalasHapus

Kalau kamu suka dengan tulisan ini silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.