Apa Kabar Makassar?

Senin, September 07, 2020
Hola!
Apa kabar Makassar?
Kampung halamanku,
Kota kelahiranku.

Banyak hal yang bisa dilihat dan dilakukan di Makassar. Bukan sekedar Coto Makassar atau Pantai Losari yang orang tau selama ini., tapi ada banyak potensi, khususnya pariwisata yang bisa dijelajah, dilihat dan dirasakan sebagai sebuah pengalaman tak terlupakan.

Apa aja itu?

So, biar manteman, khususnya yang tinggal di daerah lain gak penasaran tentang Makassar, saya ngadain obrolan secara langsung di Instagram bareng Muhammad Roem, Kabid Pemasaran & Promosi Dinas Pariwisata Kota Makassar, pada hari Sabtu tanggal 5 September 2020 lalu.

Baca juga : Sosialisasi Branding Explore Makassar

Suasana saat live di Instagram bareng Roem

Sama dengan live IG sebelum-sebelumnya yang saya adakan, konsep obrolan dengan narasumber dikemas sesantai mungkin. Apalagi Roem ini, walopun berstatus pejabat di Pemkot Makassar, tapi karena usianya masih muda jadi enak aja ngobrolnya. Dulunya, Roem ini teman sekolah adik saya dan sekarang jadi rekan sejawat suami saya di Pemkot Makassar. Jadi emang udah akrab sebelumnya 😁

Makassar sedang tidak tidak baik-baik saja.

Demikian jawaban Roem saat saya bertanya, "Apa kabar Makassar?".

Well, kondisi "sedang tidak baik-baik saja" ini memang dirasakan hampir semua kota di dunia karena adanya pandemi virus corona. Dan industri pariwisata adalah yang paling terdampak parah karena mengandalkan kunjungan wisatawan ke destinasi wisata. Seperti yang kita tau, adanya beberapa kota yang lockdown, larangan untuk ke luar rumah, himbauan untuk jaga jarak dan sebagainya, sudah pasti berimbas pada pariwisata.

Adapun Makassar bergantung pada kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), dimana 60% orang yang berkunjung ke Makassar adalah untuk urusan itu. Sedangkan hanya 40% yang datang memang khusus untuk kegiatan leisure. Makanya, untuk leisure ini yang akan ditingkatkan persentasenya.

Pariwisata Makassar

Berikut ini yang bisa kamu dapatkan di Makassar, sesuai obrolan saya dengan Roem :

📍 Wisata Bahari

Ada 12 pulau di sekitar Makassar yang sedang dikembangkan dan bisa dikunjungi, yaitu :

1. Pulau Lae-lae
2. Pulau Khayangan
3. Pulau Gusung
4. Pulau Samalona
5. Pulau Barang Lompo
6. Pulau Barang Caddi
7. Pulau Lumu'-lumu'
8. Pulau Kodingareng Keke
9. Pulau Kodingareng Lompo
10. Pulau Langkai
11. Pulau Bone Tambung
12. Pulau Lanjukkang

Pulau yang terdekat adalah Lae-lae dengan jarak tempuh hanya 4 menit dari Dermaga Kayu Bangkoa. Sedangkan yang terjauh adalah Pulau Lanjukkan, yang bisa sampai 3 jam untuk ke sana. Semua pulau tersebut berpasir putih dengan air yang jernih. Sebagian besar sudah siap sarana dan prasarananya, walaupun masih seadanya seperti gazebo untuk beristirahat dan air bersih serta toilet yang dikelola oleh Masyarakat Sadar Wisata yang merupakan penduduk pulau tersebut. Pemkot Makassar sudah merencakan untuk melakukan revitalisasi di Pulau Kodingareng Keke dan melakukan perbaikan sarana dan prasarana di Pulau Lanjukkang, karena potensi di pulau tersebut besar sekali.

Di Dermaga Kayu Bangkoa juga akan dibuat papan informasi lengkap tentang pulau-pulau yang bisa dikunjungi, termasuk tarif kapal menuju ke pulau agar ada keseragaman harga dan tidak merugikan wisatawan.

Keindahan Pantai Akkarena di Makassar

Baca juga : Senja di Pantai Losari

📍 Wisata Alam

Selain wisata bahari, wisata alam pun ada di Makassar.

Saat ini Pemkot Makassar mengunggulkan Kampung Lakkang yang bisa dikunjungi melalui daerah Kera-kera (samping Universitas Hasanuddin) dengan menyusuri sungai yang di sisi kiri kanannya ditumbuhi Pohon Nipah. Waktu yang paling tepat untuk ke sana adalah di sore hari, sehingga bisa menikmati sunset dari hutan bambu di Kampung Lakkang.

Sungai Tallo, yang merupakan akses ke Kampung Lakkang akan dibuatkan paket wisata yaitu Tallo River Tour, dimana para wisatawan akan dibawa menyusuri Sungai Tallo menuju ke Kampung Lakkang dan singgah di Lantebung, hutan Mangrove yang dalam 2 tahun terakhir ini digencarkan untuk ekowisata. Adapun sarana dan prasarana untuk paket wisata tersebut seperti dermaga dan perahu akan dilakukan perbaikan.

📍 Wisata Budaya

Unsur budaya di Makassar juga gak bisa dikesampingkan.

Pengembangan 2 tahun terakhir dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kota Makassar adalah Kampung Paropo di Jalan Abdullah Daeng Sirua Makassar, yang disebut juga Kampung Berbudaya. Sebuah kampung di tengah kota yang masih eksis memegang budaya. Bersebelahan dengan Kampung Rama yang juga hampir sama, mengusung kebudayaan.

Tari Peppe-peppe ka Ri Makkah adalah tarian yang lahir dari Kampung Paropo. Bahkan ada juga story telling tentang KerajaanTallo dan Gowa. Gak heran, karena di kampung itu ada 8 sanggar budaya yang masih eksis hingga saat ini Ditargetkan tahun depan akan dibangun tempat pertunjukan dengan konsep rumah panggung khas Bugis Makassar yang diperuntukkan untuk tamu-tamu yang datang menikmati makan malam sambil mendengarkan story telling.

Tari Peppe-peppe Ka Ri Makkah
*sumber Wikipedia
📍 Wisata Sejarah

Sebagai kota peradaban, Makassar menyimpan banyak sejarah. Destinasi wisata untuk wisata sejarah selain Fort Rotterdam yang selain bangunannya bersejarah, juga terdapat Museum Lagaligo di dalamnya, ada juga Museum Kota Makassar di mana kita bisa melihat sejarah terbentuknya Kota Makassar, pergantian nama menjadi Ujung Pandang, tempat pengambilan keputusan penting terkait pengembangan kota dan sebagainya. Selain itu ada pula Monumen Korban 40.000 Jiwa, Monumen Emmy Saelan, Makam Raja-Raja Tallo, bahkan Makam Pangeran Diponegoro pun ada di Makassar.

Ery di Fort Rotterdam Makassar

📍 Wisata Kuliner

Ada 10 ikon kuliner Makassar yang mewakili banyak menu lainnya yang jadi andalan kota ini dari segi gastronomi. Bahkan Makassar dinominasikan sebagai Gastronomy Region pertama di Asia lewat International Gastronomy Association yang berpusat di Barcelona, Spanyol.

Bukan hanya menu tradisional yang diminati oleh para wisatawan, tapi juga makanan urban seperti Mie Titi, Bakso Ati Raja, Ayam Goreng Sulawesi, Kopi Phoenam, Kopi Ujung, dan semacamnya, kerap dicari dan dijadiin ole-ole.

Asyiknya ngobrol dengan Roem, yang notabene adalah pihak pemerintah kota, saya jadi tahu banyak soal rencana Pemkot untuk pengembangan pariwisata ke depannya, salah satunya adalah rencana membuat kawasan segi empat, mulai dari Jalan Ahmad Yani, Jalan Sudirman, Jalan Haji Bau dan Jalan Penghibur, yang akan ditata rapi tentang kepariwisataan, mulai dari area pejalan kak,  papan informasi, destinasi-destinasi cagar budaya yang ada di kawasan itu. Terutama karena di daerah perkotaan banyak bangunan cagar budaya.
Makassar memang tidak bisa berdiri sendiri tapi butuh kota-kota lain di sekitarnya. Seperti Gowa, Maros, Bulukumba, Toraja dan sebagainya. Sebagai kota transit, Makassar yang menyediakan hotel, mobil dan sebagainya untuk wisatawan menuju ke daerah-daerah lain.ini. Inilah yang disebut Makassar Beyond. Nah, bagaimana membuat para wisatawan bisa tinggal lebih lama di Kota Makassar adalah tugas Pemkot khususnya Dinas Pariwisata untuk menggalakkan potensi pariwisatanya.

Namun, kita juga ketahui bersama bahwa inti dari pariwisata adalah keamanan dan kenyaman. Untuk itu, masyarakat Kota Makassar juga diharapkan berperan serta untuk aktif menjaga kedua hal tersebut agar wisatawan betah berlama-lama di kota kita tercinta ini.

So, setelah pandemi berlalu tentu saja kita semua udah gak sabar pengen traveling kan?
Jadi, ayo mi ke Makassar!



8 komentar on "Apa Kabar Makassar?"
  1. Membaca artikel ini jadi kepengen ke Makassar lagi, explore wisata. Terutama pulau2nya. Kalau kuliner sudah pastilah. Semoga setelah covid 19 beres, bisa segera berkunjung kesana

    BalasHapus
  2. Dari banyak pulau, cuma Samalona yg pernah aku datangin :). Luamyan suka, apalagi liat mercusuarnya itu. Tapi sayang pas aku DTG, itu ruameee banget mba, jd ga terlalu nyaman.

    Kalo ke Makasar, yg paling berbekas sih kuliner yaa kalo buatku. Aku mau banget ksana lagi, tp hanya untuk wisata kuliner :D. Ga bisa ngelupain makanan2 yg kmrn aku coba di sana :D. Cuma Jumat pulang kantor, trus Sabtu Minggu doang, tapi yg dicoba enak semua. Ga kebayang kalo LBH lama di Makasar :D. Belum lagi pas belanja souvenir. Ya ampuuuun, di bawa ke pusat oleh2 Ama guide kantor, dan aku beli banyak, tapi harganya ttp di bawah hitungan, berarti murah2 :D.

    BalasHapus
  3. Aku setuju banget apalagi di bagian ini:

    "... termasuk tarif kapal menuju ke pulau agar ada keseragaman harga dan tidak merugikan wisatawan."

    Membuat keseragaman harga itu krusial, supaya mencegah oknum membuat harga seenaknya.

    Kadang-kadang oknum ini yang membuat wisatawan jera untuk datang lagi apalagi memberi rekomendasi.

    Yang ada, kesan buruk jadinya yang dibagi, dan akhirnya merugikan semua stokholder pariwisata.

    Bak kata pepatah, "Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga!"

    BalasHapus
  4. Ngiler aku kak dipamerin wisata Makasar. Banyak Bang destinasi yang harus disamperin kudu banyak nabing nih hahahha. Pulaunya aja banyak dan bagus-bagus.

    BalasHapus
  5. Kalau suatu saat sampai ke Makassar lagi pengen deh mengunjungi salah satu pulau dari 11 pulau yang ada di sana. Betapa kayanya negeri kita ya, di Makassar aja ada banyak pulau yang tentu punya keunikan masing-masing

    BalasHapus
  6. Aku, baru sekali ke Makassar, itu pun karena 'kerja' dan baru ke beberapa tempat aja, kayak Pulau Samalona, dan Pantai Losari. Makanan di sana penuh santan ya kak hehe. Makassar, aku rinduuuu

    BalasHapus
  7. Jadi kangen jalan-jalan ke benteng sombaopu lagi

    BalasHapus
  8. Dulu Bapak pernah tugas di daerah Timur dan mashaAllah...
    Gak habis pujian diberikan untuk Makassar.
    Bahkan untuk emas pun...gak sebagus Makassar.

    MashaAllah~
    Kekayaan budaya, alam dan kesempurnaan semuanya berpadu menjadi satu.

    BalasHapus

Kalau kamu suka dengan tulisan ini silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.