Situs Taman Sari Yogyakarta - Bukan Sekedar Taman

Senin, Desember 02, 2019

Jogja Kota Budaya.
Bener banget julukan yang disematkan untuk Kota Jogja ini.
Masyarakat Jogjakarta, khususnya Kota Jogja memang masih memegang teguh adat istiadat dan budayanya. Kerajaannya pun masih tetap berdiri, berdampingan dengan sistem pemerintahan negara kita.

Itulah sebabnya masih banyak bangunan tua, warisan kerajaan yang bisa kita lihat dan kunjungi di Kota Jogja. Salah satunya adalah situs cagar budaya Taman Sari.

TAMAN SARI adalah situs bekas taman atau kebun istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman yang mendapat sebutan "The Fragrant Garden" ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Kebun yang digunakan secara efektif antara 1765-1812 ini pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai tenggara kompleks Magangan (WOW!). Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.
*sumber : Wikipedia.

Saya sih tau tentang Taman Sari ini dari foto-foto yang beredar di Instagram (thanx to Instagram!). Cantik banget keliatan orang berfoto di depan kolam bernuansa antik. Selain itu ada juga yang foto di atas tangga-tangga yang unik. Bikin saya penasaran dan membatin "saya harus ke sana!"

Dan taraaa... 🎉
Di awal Desember 2019 Allah mengizinkan saya ke sana. Tepatnya tanggal 2, hari Senin. Bukan di hari libur, jadinya gak rame.
Pagi hari jam 9, saya dan rombongan traveling #BatikTripEM yaitu Faizah, Khansa, Sherif dan Ika, udah cuzzz ke Taman Sari yang terletak di dekat Keraton atau masih dalam kawasan Malioboro. Harga tiket masuknya hanya Rp.5000/orang.

Pertama kita melewati dulu gerbang masuk yang megah dengan patung naga di sisi kiri kanan. Di bagian dalamnya saya yakini dulu berupa taman bunga, karena sampai sekarang di tempat itu banyak pot bunga dan beberapa tanaman. Taman itu berupa halaman berbentuk segi delapan dengan 4 buah bangunan yang sama dengan ukuran yang tidak begitu besar. Bangunan tersebut dinamakan Gedong Sekawan, yang merupakan tempat istirahatnya Sultan beserta keluarganya.

Gerbang masuk Taman Sari

Suasana Adem di Pasiraman Umbul Binangun

Setelah itu ada gerbang berikutnya yang terdapat tangga untuk turun menuju ke area kolam. Di sini saya mulai merasa merinding, terbawa suasana. Apalagi ketika melewati gerbang itu dan hamparan 2 kolam yang saling berhadapan dengan air yang jernih terpampang di depan mata, nama kolamnya adalah Pasiraman Umbul Binangun.

Di sisi setiap kolam terdapat bangunan. Bangunan pada kolam sebelah kanan berfungsi sebagai ruang ganti pakaian, dan bangunan pada kolam sebelah kiri berlantai 2 dengan model seperti menara. Konon menara itu adalah ruang Sultan memantau para selir yang sedang berenang. Dan yang bodynya terlihat paling sexy langsung dipanggil naik ke atas menara oleh Sultan. Namun rupanya cerita yang beredar ini tidak benar. Ruangan itu memang dibangun sedemikian rupa, yang juga berfungsi sebagai pemantau suasana sekeliling, supaya kalau ada bahaya, Sultan dan keluarga yang sedang beristirahat di Taman Sari bisa menyelamatkan diri ke luar kota melalui lorong bawah tanah yang sekarang sudah ditutup.

Umbul Binangun

Sebenarnya ada 3 kolam di Umbul Binangun ini, tapi yang 1-nya lagi posisinya berada di belakang bangunan menara, lebih kecil dan merupakan kolam khusus untuk Sultan.


Setelah puas berfoto di area kolam, kami pun keluar melalui pintu bagian belakang. Gerbang bagian belakang itu dulunya bernama Gedhong Gapura Hageng. Sebenarnya ini dulunya adalah gerbang utama, namun sekarang berbalik jadi pintu keluar.

Gedhong Gapura Hageng

Saya kemudian bermaksud mencari keberadaan tangga-tangga tempat orang biasa berfoto cantik di atasnya, tapi beberapa orang bilang lokasi tangga itu adanya di bawah tanah. "Ikuti saja orang yang jalan itu, mereka pasti menuju ke sana" kata seorang Ibu, warga sekitar Taman Sari. Kami pun terus berjalan, lalu disamperin oleh seorang perempuan yang merupakan pemandu wisata di Taman Sari. Saya tau itu karena semua pemandu wisata di Taman Sari dilengkapi dengan name tag yang tergantung di lehernya. Perempuan itu menawarkan jasa pemandu, saya mikir bener juga kami harus dipandu karena apalah guna mengunjungi tempat wisata sejarah kalo kita gak tau sejarahnya. Tapi sebelumnya tentu saja saya tanyain dulu berapa tarifnya, dijawab "Seikhlasnya aja bu, tapi biasanya orang kasi Rp.50.000". Masuk akal lah...

Sumur Gumuling itu Ternyata Mesjid!

Rupanya pemandu kami itu orangnya interaktif banget. Sepanjang jalan dia gak berhenti cerita tentang sejarah Taman Sari. Bahkan saya baru tau kalo tempat yang ada tangga-tangganya itu dulunya adalah mesjid! Ya, Mesjid Bawah Tanah, demikian orang menyebut. Nama sebenarnya adalah Sumur Gumuling. Disebut sumur karena pada zaman dulu dari kejauhan, bangunan yang tampak dari danau buatan hanya berupa bulatan seperti sumur.

Sekilas bangunan itu memang gak seperti bangunan mesjid pada umumnya. Masuknya dari bawah tanah karena posisinya memang berada di tengah danau. Bentuknya melingkar yang terdiri dari 2 lantai, jadi kalo kita masuk akan langsung dapat lantai bawah yang merupakan area sholat jamaah perempuan dan lantai atas khusus jamaah pria. Ada mihrab, tempat imam memimpin sholat, di kedua lantai tersebut. Ada pula ruang semedi Sultan di lantai atas. Saya kembali merinding ketika melihat ke dalam ruang semedi itu. Entah kenapa... 😁

Suasana mesjid lantai 2

Dan akhirnya, tampaknya lokasi yang saya cari sedari tadi! Di bagian tengah bangunan masjid, ada tangga dengan pijakan di tengahnya. Tangganya berjumlah 5 yang melambangkan jumlah rukun Islam. Titik tengah dari tangga itu dulu berfungsi sebagai mimbar bagi pemuka agama untuk berdakwah. Persis di bawah tangga yang saling bertemu di tengah terdapat kolam air dari Sumur Gumuling.

Tangga ini yang jadi spot foto favorit pengunjung, tapi rada susah juga kalo pas lagi rame. Harus ada yang bantu halau orang-orang biar gak melewati tangga. Dan karena kami datangnya bukan pas hari libur, jadi pengunjungnya gak begitu rame. Alhamdulillah.

Tangga impian!

Mesjid yang didirikan tahun 1765 ini merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono I dan difungsikan hingga masa kepemimpinan Sultan HB II. Selain sebagai mesjid, juga difungsikan sebagai benteng perlindungan bawah tanah. Itulah sebabnya temboknya terlihat sangat tebal dan kokoh, dengan perekat alami untuk batu batanya yakni putih telur.
Sejak tahun 1812, setelah ada gempa besar, bangunan masjid sudah tidak difungsikan lagi.

Pulo Kenanga - Gedung Pertunjukan yang Kini Sisa Puing

Selanjutnya sang pemandu membawa kami keluar dari bawah tanah menuju ke 1 tempat lagi, yaitu Pulo Kenanga. Tapi sebelumnya kami singgah dulu di salah satu warung yang terletak persis dekat pintu keluar dari Mesjid Bawah Tanah. Jangan sampai dehidrasi bo, cuman karena keliling situs sejarah, hehe..

Salah satu sudut Pulo Kenanga
Adikku Sherief duduk di atas puing Pulo Kenanga
Pulo Kenanga letaknya gak jauh. Sama seperti ketika mau menuju ke Mesjid Bawah Tanah, kita harus melewati pemukiman penduduk. Dulu Gedong Pulo Kenanga berfungsi sebagai tempat peristirahatan dan beberapa kegiatan seni, dan untuk melihat panorama sekitar kompleks pasanggrahan Tamansari dan sekitar keraton.

Dinamakan Pulo Kenanga karena letaknya berada di tengah danau, persis seperti pulau. Sedangkan Kenanga karena dulunya banyak pohon kenanga di situ. Sekarang sih kondisinya sisa puing-puing saja. Gempa besar sudah menghancurkan gedung pertunjukan nan megah itu, tapi menyisakan puing-puing cantik dan eksotis. Saya malah membayangkan seperti setting lokasi syuting film berlatar Mexico sewaktu berdiri di antara puing-puingnya.


Akhirnya perjalanan menyusuri situs sejarah Taman Sari Yogyakarta berakhir di Pulo Kenangan ini. Dan saya pun berkesimpulan bahwa fungsi Taman Sari ini mencakup 3 hal, yaitu religius, hiburan dan pertahanan. Luasnya area Taman Sari membuatnya dulu bagaikan istana ke-2 untuk Kesultanan Yogyakarta. Saya bahkan jadi membayangkan jaman dulu saat Taman Sari masih bagus dan masih difungsikan secara aktif. Hmm....
Kira-kira seperti apa ya?

Simak aja videoku yuk!





12 komentar on "Situs Taman Sari Yogyakarta - Bukan Sekedar Taman "
  1. Waaaah, terakhir ke Jogja belum sempat kesini aku mbak. Seru yaa serasa jadi Permaisuri di Taman Sari. Bagus banget juga untuk foto-foto sekaligus wisata historis untuk anak-anak.

    BalasHapus
  2. Aku bberapakali ke yogya malah belom prnh masuk ke taman sari mbak hahhaha. Selalu kelupaan krn saya kebanyakan belanja batik kalau ke yogya.

    BalasHapus
  3. Omg bagus banget, biasanya cuma liat yang tangga-tangga itu :O
    Pengen ke sana!

    www.bigdreamerblog.com

    BalasHapus
  4. ini kamar mandinya sultan, salah satu kamar mandi terbesar didunia hahaa.
    nd bisa bayangkan bgmn kalau sultan dulu mau mandi dari kraton ke taman sari

    BalasHapus
  5. Masya Allah, cantik-cantik spot fotonya, Mam. Terutama yang ada tangganya itu ... artistik. Beruntung ke sananya pas sedang sepi ya

    BalasHapus
  6. Kalau ada ke Jogja harus mampir nih ke sini. Apalagi tarif masuknya cuma 5000/orang tapi sudah bisa mendapatkan pemandangan yang waw di dalamnya. Spotnya cantik-cantik deh terutama di "tangga impian" itu. Masjidnya yang dikira sumur itu juga unik yah.

    BalasHapus
  7. Wah cakep2 semua kak fotonya. Pas ke sana kolamnya lagi dikuras jd gagal deh foto kece depan kolam. Yang di tangga tengah2 pun pas aku ke sana penuh banget:"")

    BalasHapus
  8. Bagus banget ini tempatnya jadi kalau ke Jogja bisa main mampir kesini ya kak Eri...seneng deh aku jadinya liatnya

    BalasHapus
  9. Wuiih mauka juga ke sana mamiii kerennya. Beberapa kali ke Jogya, belum pernah ke sini, kalau bukan ke Borobudur, Prambanan, Malioboro yaah ke Pasar Brimharjo deh.
    Padahal ada pale yang bagus sekali, situs sejarah yang keren sekali. Makasih infonya

    BalasHapus
  10. Desember kemarin ke Jogja tp gak sempat eksplore semua tempat yang ada di tulisan Mami diatas. Yg jelas Jogja tuh selalu dirindukan.

    BalasHapus
  11. Belum pernah ke Jogja, tapi sering sekali lihat situs Taman Sari Yogyakarta sebagai spot foto andalan teman-teman kalau ke sana. Noted. Besok-besok kalau ke Jogja mampir ke sini juga ah.

    BalasHapus

Kalau kamu suka dengan tulisan ini silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.