Review Film : AVE MARYAM - Kisah Cinta Terlarang

Jumat, April 19, 2019

“Jika surga belum pasti untukku, mengapa aku harus mengurusi nerakamu?” 

Demikian kata Suster Monic kepada Suster Maryam.

Sepenggal kalimat ini menyiratkan tentang kodrat manusia. Bahwa kita ini manusia biasa yang bisa saja berbuat salah, walopun sudah berusaha untuk hidup di jalan yang benar, memperdalam keimanan kepada Tuhan.

Poster film

Adalah film AVE MARYAM, sebuah film apik berkualitas yang saya tonton tanpa direncanakan sebelumnya.

Siang itu, saya iseng aja buka aplikasi XXI di HP, cuman pengen tau film apa yang lagi tayang di bioskop. Poster film Ave Maryam ada di urutan pertama dari deretan film yang sedang tayang. Poster yang menampilkan foto Maudy Koesnaedi dengan baju biarawati itu langsung aja menyita perhatianku. Segera saya baca sinopsisnya dan nonton trailernya. Daaaan... Kupenasaran pengen nonton selengkapnya!

Tapi, film bergenre drama seperti ini gak cocok kalo nontonnya bareng Atu, lebih pas kalo bareng Alifah. Walopun Alifah sebenarnya belum jelas saya ngajak dia nonton film apa. Saya cuman kasi tau kalo film ini tentang Suster yang jatuh cinta sama Romo.

Akhirnya di hari Senin sore, tanggal 15 April, kami pun bergegas ke TSM XXI, eeh... Rupanya filmnya udah gak tayang, padahal baru masuk bioskop tanggal 11 April lho. Akhirnya kami melipir ke Cinemaxx di Pipo Mall yang Alhamdulillah masih menayangkan film itu. Dan bener aja dugaanku, film ini sepi penonton. Di dalam bioskop mungkin hanya ada sekira 30 orang, dan hanya saya, Alifah dan seorang lagi yang berjilbab, hihi... 😁

Film dibuka dengan adegan segala aktivitas dalam asrama biarawati, tepatnya di Asrama Suster Girisonta Ambarawa, Semarang. dalam suasana yang temaram bahkan gelap, Alifah sampe kira itu adalah film horor! #eaaa.

Yup, filmnya memang berkisah tentang tentang kehidupan para biarawati atau yang biasa disebut suster. Mereka menjalani kehidupan selibat (tidak menikah dan hanya melayani Tuhan), tinggal dalam asrama, dimana suster muda merawat suster tua, mulai dari terbit matahari hingga terbenam. Bahkan kadang di tengah malam buta pun para suster muda harus tetap mengurus yang tua jika sedang sakit.

Maudy Koesnaedi yang berperan sebagai Suster Maryam, salah satu biarawati yang bertugas mengurusi para suster-suster sepuh. Suatu malam, Romo Martin (Joko Anwar) membawa Suster Monic (Tutie Kirana) tinggal di asrama susteran. Suster Monic ditemani oleh Romo Yosef (Chicco Jerikho). Di sinilah drama dimulai. Suster Maryam dan Romo Yosef saling jatuh cinta!

Pertemuan pertama Suster Maryam dengan Romo Yosef
*screenshot from trailer

Awalnya Suster Maryam menolak segala cara pendekatan Romo Yosef, mulai dari sekedar ngobrol, janjian ketemuan, hingga ajakan jalan-jalan, karena Suster Maryam sudah akan mensucikan dirinya jelang usia 40 tahun. Hingga akhirnya Suster Maryam luluh juga. 
*hmm, siapa sih yang gak luluh kalo dideketin sama cowok ganteng, bertubuh atletis, rambut gondrong dan jago musik? Walopun dia seorang Romo, Hihi... 😍

Tapi, tentu saja itu adalah sebuah jalinan cinta yang terlarang, Esmeralda!

Kisah cinta terlarang sebenarnya sudah banyak diangkat temanya dalam layar lebar, tapi kisah cinta terlarang antara Suster dan Romo ini memang belum pernah ada sebelumnya dalam film Indonesia. Sang sutradara, Ertanto Robby Sumoediskam mengangkat kisah ini dengan apik. Gak heran kalo film ini masuk ajang festival film internasional, sebelum ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia. Baik dari segi cerita, cinematografi, properti, soundtrack, dan sebagainya, semua berpadu, menghadirkan film yang berkelas.

Mungkin buat penonton yang "gak suka mikir kalo nonton film", film ini pasti dirasa membosankan karena berjalan lambat, terlalu serius dan minim dialog. Ditambah lagi dengan suasana gelap yang ditampilkan dalam film, serta soundtrack lagu bernada lirih yang dinyanyikan oleh The Spouse (yang juga penyanyi soundtrack film Pengabdi Setan). Dan emang seperti itulah adanya. Kita hanya melihat dengan seksama ekspresi para pemain, menangkap yang terjadi di sekeliling adegan dan menginterpretasikan makna dari adegan tersebut. Seperti saat Suster Maryam dan Romo Yosep makan malam di sebuah restoran, mereka gak bicara, hanya sesekali saling menatap, dan dialog dari film yang diputar di resto itulah yang jadi pengantar apa yang tersirat.

Saya paling suka ekspresi Suster Maryam sepulang dari pantai, matanya sendu gimanaaa gitu... Seakan-akan menyesali sesuatu yang udah terjadi dan juga ekspresi Romo Yosef yang terlihat dari kaca spion dalam mobil, sedang menatap ke Suster Maryam. Soalnya sebelum adegan itu, ada scene dimana mereka berdua duduk di tepi pantai dan tetiba Suster Maryam membuka bajunya. Aah, yang dewasa pasti udah tau, hihih...

Scene favorit saya adalah yang di pantai itu. Cantik banget cinematografinya. Gambar pantai sebagai background, dengan mobil vintage di depan dan Suster Maryam meniup lilin kue ulang tahun yang diberikan Romo Yosef.

Adegan di pantai
*screenshot from trailer

Namun sayang, film ini banyak disensor, hingga 12 menit! Jadinya ada adegan penting yang jadi latar belakang yang gak ditampilkan di bioskop. Padahal kita perlu tau nih, diamnya Suster Monic itu karena apa dan terutama apa penyebab Suster Maryam yang terlahir sebagai muslim lalu berpindah agama menjadi Katolik dan menjalani kehidupan selibat. Semua adegan yang kena guntingan sensor itu memang merupakan isu yang sensitif di tengah masyarakat.

Etapiii... Walopun banyak yang disensor, gambar-gambar keren tetap tersaji di layar bioskop, suasana alam mulai hutan, pantai, termasuk juga perkotaan dan gedung-gedung tua. Properti yang digunakan pun semuanya vintage, terutama di dalam asrama suster, busananya, hingga mobil keluaran tahun 60'an. Walopun dari beberapa review yang saya baca, film ini sebenarnya berlatar tahun 1998. Dan dari semua yang ditampilkan itu, bikin saya makin greget pengen segera liburan ke Semarang, kota lokasi syuting film ini. Hihi... #modus 😅

Salah satu adegan di gedung tua Kota Semarang

Film berkelas seperti ini memang sudah sangat jarang dibuat. Lebih banyak diproduksi untuk diikutkan di festival-festival film internasional. Kalopun akhirnya masuk bioskop, biasanya masa tayangnya bentar banget. Dianggap kurang komersil, kayaknya. Dan tau gak, faktanya film ini ternyata udah diproduksi oleh Ertanto Robby Soediskam sejak awal tahun 2016 dan diberi judul "Salt is Leaving The Sea".

Jadi penasaran pengen nonton? Saya pun jadi pengen nonton 2 kali, tapi yang versi tanpa sensor. Itu bisa didapat di mana ya?Kalo ada yang tau, infoin di kolom komen donk...

Oiya, nih trailernya silahkan ditonton...





40 komentar on "Review Film : AVE MARYAM - Kisah Cinta Terlarang"
  1. Wah jadi kepengen nonton filmnya nih. Oh iya sekedar info. Aku suka nonton di indoXXI.com disitu semua film tanpa sensor. Film2 yg ada di bioskop bisa di tonton gratis. Tapi yg baru tayang di bioskop sih belum bisa langsung nonton. Paling nunggu beberapa bulan dulu baru bisa di lihat versi originalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iyaaa... Anakku juga biasa nonton di indoXXI. Semoga cepat nongol di sana deh.

      Hapus
  2. eh iya samaan hehe.. salam kenal ya :) benerrr banget penasaran versi aslinya. kabarnya versi asli hanya diputar saat festival. begitu masuk pasar terpaksa kena sensor, sedih banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, soalnya isu agama sensitif banget. Apalagi suasana politik lagi hot-hotnya, hihi...

      Hapus
  3. Saya termasuk penggemar film2 festival. Seneng waktu denger akhirnya film ini masuk bioskop. Sayangnya sy nggak bisa nonton karena ternyata cuma tayang di 1 bioskop yang letaknya jauh dari rumah. Ada bayi juga yang nggak bisa ditinggalin. Skrg tinggal berharap mudah2an bisa nonton versi streamingnya, biasanya agak susah nemu kalau film festival ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Makassar aja cuman main 3 hari di XXI, untung saya masih dapat di Cinemaxx.

      Hapus
  4. Review-nya bikin penasaran. 😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha.. Soalnya filmnya juga bikin penasaran karena disensor panjang.

      Hapus
  5. Duh... Semoga masih tayang di Magelang ya? Lupa nggak ngintip jadwal bioskop padahal udah ngincer nonton ini sejak lihat trailernya keluar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cek aja di IGnya @avemaryammovie mbak. Kalo udah gak main ya wassalam, hehe...

      Hapus
  6. Jadi sebagai muslim, apa opini Mbk terhadap judul film ini? Layak gak ditonton oleh emak-emak yang biar enggak bingung memilih film dengan pesan moral? Ikutan nyimak review filmnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Layak donk, saya malah pengen cari yang versi uncenssored-nya, biar lebih jelas latar belakang ceritanya.

      Sebenarnya film apapun itu, selama positif, pantas aja kita tonton sebagai bagian dari seni. Toh keimanan kita tidak akan berubah kan yaa setelah nonton film yang bercerita tentang agama lain.

      Hapus
  7. duuuuuh aku tuh penasaran banget5 sbnrnya. dan dr kmrn udh cari di yutub trailernya yg ada adegan ngomong walo sedikiiiit aja. tp g nemu hhahahaha... semu trailernya sma, yg kayak mba attach di atas. udh jd kayak film bisu yaa :D.tp mau nonton ini, suami udh pasti ga bakal mau -_-. film berat ato minim dialog dia ga bakalan sentuh, huuuh.

    dan kalo ada yg verai ga disensor aku jg mau mba :D. banyak baca review film ini, dan pada bilang adegan yg disensor bikin filmnya jd ngebingungin dikit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun pertama kali nonton trailernya jadi makin penasaran karena hanya lagu doank, tanpa dialog.

      Tungguin aja tayang di indoXXI , mbak. Hehe..

      Hapus
  8. nontonnya sama Alifah, nanti ke Semarang bareng Atu :D
    Iya Kak, saya juga merasa film jadi tidak lengkap karena penggambaran karakter Suster Maryam jadi tidak tergali, padahal ini penting banget sebenarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suster Monic juga, kurang jelas penyebab diamnya. Tadinya saya pikir dia sebel sama Suster Maryam.

      Nah Alifah mi itu yang mau sekali ke Semarang dan Jogja. Ngamuk mi pasti kalo saya ke Semarang cuman berdua sama Atu, hahaha....

      Hapus
  9. Saya mau sarankan versi dari web, tapi karena itu bukan resmi jadi nda enak. Hasil produksi dalam negeri soalnya hahaha.

    Biasanya ada ji DVD resminya nanti.

    Film-film seperti ini memang semacam film idealis untuk produser dan sutradaranya. Nda laku di bioskop, tapi buat mereka sudah bikin orgasme karena bisa berkreasi sebaik-baiknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh gosh! Orgasm...
      Tapi emang bener, tema gak lazim itu biasanya yang laku di festival film internasional.

      Hapus
  10. Kelihatan dari foto-fotonya ya kak, kalau ini bukan jenis yang ngepop gitu filmnya. Bukan drama receh ala ala anak sekarang ya.... Hmmm....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha.. Drama receh anak sekarang sih gampang ketebak alur dan endingnya yak!

      Hapus
  11. Wah kayaknya keren ya kak filmnya. Sayangnya kemarin gak sempat nonton :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saking kerennya saya sampe pengen nonton lagi dan penaaaran sama versi aslinya tanpa sensor.

      Hapus
  12. Mbaakk, aku suka quote paling awal dari tulisan ini. semacam pengingat untuk nggak dikit2 judging orang lain sebagai penghuni neraka. Hihi. Filmnya pasti menarik. Bakalan kucari di Cinema Indo. Haha. Makasih reviewnyaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Owh ada Cinema Indo ya, noted. Hehe... Mau saya cari juga nanti di sana.

      Hapus
  13. Suka openingnya, "Ngapain saya urusi nerakamu kalau surgaku saja belum jelas" 😁. Ini film based on true story ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan true story, tapi bikin penasaran pengen datangi lokasi-lokasi syutingnya.

      Hapus
  14. Awalnya aku skeptis, tapi sepertinya bagus ya. Baiklah aku akan bersabar tunggu di Indoxxi

    BalasHapus
  15. Nah, rasa penasaran saya waktu pertama kali tahu film Ave Maryam dari blog lelakibugis ini akhirnya sedikit terjawab lewat review kak Ery di atas. Tapi tetap ya saya masih penasaran dengan suster Maryam yang lahir dari keluarga muslim tapi pindah ke katolik dan jadi biarawati. Mungkin bagusnya klu nonton filmnya langsung ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Owh Oppa LeBug pernah tulis juga review film ini di blognya? Wah, saya harus baca tuh...

      Hapus
  16. Mauka nonton filmnya tapi yang dak pake sensor deh. Di mana bisa di nonton yang tanpa sensor di? Harusnya film berkualitas seperti ini yang sering tayang di bioskop jadinya saya dak malas lagi nonton film Indonesia di bioskop

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo film seperti ini gak komersil, kurang penontonnya. Bisa-bisa bioskop jadi bangkrut, heheh....

      Tungguin aja di website indoXXI atau CinemaIndo.

      Hapus
  17. Ini filmnya masih tayang di bioskop ga ya mbak.. Tiba2 pengen nonton juga....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba cek di IGnya @avemaryammovie. Semoga aja masih ada bioskop yang tayangin.

      Hapus
  18. Aku sempat tertarik nonton ini mbak, cumaa karena gak ada yg mau diajak nonton karena takut berbau agama atau apa gt. Jd batal deh . Wkwkw. Pdhl kan ceritanya tentaang percintaan, baca reviewnyaa makin pengen nonton. Kaayaknya udah bbrp bioskop udah g tayang.:(

    BalasHapus
  19. makasih reviewnya jd penasaran juga

    BalasHapus
  20. Pengen nonton Kak..ada lomba kritik film Indonesia lho..siapa tahu bisa ikutan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuih baru baca ini.
      Saya gak sanggup kalo ikut lomba, entah kenapa gak PD aja.hhiii..

      Hapus

Kalau kamu suka dengan tulisan ini silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.