148 COFFEE - Dahulu Warkop Tradisional, Sekarang Warkop Kekinian

Rabu, Februari 20, 2019
Menjamurnya warung-warung kopi di Kota Makassar seolah merupakan tuntutan dari masyarakat, kaum urban, yang butuh tempat buat sekedar nongkrong, ngumpul bareng teman atau emang pengen suasana baru dalam menikmati menu-menu, terutama kopi, yang disajikan. Makanya warung kopi atau cafe yang instagramable banyak bermunculan, walopun kadang akhirnya gak banyak juga yang bisa bertahan karena gempuran persaingan bisnis dan trend desain yang selalu terus berubah mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia maya. Selain itu juga sesuai tabiat orang Makassar, di mana ada yang baru, di situlah yang rame 😀

Salah satu yang masih bertahan hingga saat ini adalah 148 Coffee.

148 Coffee


Sore itu saya berkesempatan berkunjung ke 148 Coffee yang terletak di jalan Pongtiku nomor 148 Makassar atas undangan dari ownernya langsung, mom Sri Rezeki. Tampak dari luar, di pinggir jalan raya, deretan mobil dan motor parkir, gak menyisakan lagi tempat buat mobilku yang memang bodynya agak bongsor itu. Terpaksa parkir agak jauh dan jalan kurang lebih 100 meter menuju ke TKP.

Gimana suasananya?

Suasana di teras cafenya lumayan rame dan sebagian besar pengunjung adalah pria dewasa yang sedng menikmati kopi sambil merokok. Saya pun bergegas masuk, mendorong pintu yang terbuat dari kaca dengan hiasan stiker berwarna putih. Di dalam cafe, mom Sri menyambut dengan ramah, mempersilahkan duduk dan langsung memanggil pegawainya untuk membawakan daftar menu.  

Sembari menunggu pesanan datang, saya gunakan waktu untuk berkeliling sambil mengambil foto-foto. Cafe ini di bagian dalamnya tidak begitu luas. Berbentuk segi empat yang diisi dengan bar untuk barista yang nyambung dengan kasir. di depannya ada berbagai souvenir dari luar negeri sebagai pemanis. Meja dan kursi tidak terlalu banyak di dalam ruangan ini, untuk menghindari kesan sesak pada ruangan. Sedangkan di teras yang tadi saya lewati ada banyak meja dan kursi yang memang selalu penuh.

Meja barista

Baca juga : Sepi & Kopi

Sebenarnya cafe ini terdiri dari 2 lantai, dimana lantai 2 lebih luas dengan konsep outdoor dan langsung berhadapan dengan balkon yang mengarah ke jalan raya. Tapi masih dalam tahap perampungan. Saya sempat naik ke lantai untuk menggunakan mushollah yang terletak di sana.

Menu apa aja?

GPL alias gak pake lama, pesanan saya pun diantarkan. Saya pesan menu yang jadi andalan cafe ini, yakni Kopi Susu 148 dan Songkolo 148 atau nasi ketan khas Makassar, yang disajikan lengkap dengan serundeng dan ikan teri.

Kopi Susu 148 - Rp.13.000
Songkolo 148 - Rp.10.000

Kopi susunya enak banget. Ada sedikit rasa asam, karena kopinya emang kopi Toraja asli. Konon menurut Sri, kopi susu ini gak berubah resepnya sejak dulu sampai sekarang. Tetapi buat Latte dan Cappucino kopinya beda, menggunakan kopi yang udah diblend alias campuran antara arabica dan robusta.

Baca juga : Pengalaman Pertama Meracik Kopi

Selain itu, ada pula Cold White, kopi susu dalam botol yang kopinya udah melalui proses fermentasi sehingga rasanya emang beda. Lebih maknyus! Kalo kamu biasa minum Cold White buatan cafe terkenal yang berlogo cangkir warna merah itu, kamu mesti cobain juga buatan 148 Coffee ini. Rasanya sama, dengan harga yang lebih murah. Malah punya 148 Coffee kalo dibuka tutupnya, aroma karamel langsung keluar, hmm... Wangiii.

Cold White - Rp.25.000
Es Kopi Tetangga - Rp.15.000

Ada juga kopi yang unik namanya, yaitu Es Kopi Tetangga alias EsKoTeng. Gak cuman namanya, rasanya pun unik dan enak, karena pake gula aren. Pahitnya juga pas di lidahku. Eh, kenapa dinamain Kopi Tetangga? Menurut Ryan, putra mom Sri yang mengelola warkop ini, dinamakan kopi tetangga agar penikmatnya merasa dekat dengan 148Coffee seperti tetangga yang selalu saling bertegur sapa dengan keramahan dan kelembutan.

Bermacam menu lainnnya yang juga gak kalah enaknya. Mulai dari makanan, minuman non coffee hingga jus dengan harga yang relatif terjangkau. 

Green Tea - Rp.17.000
& mom Sri Rezeki yang cantik
Markisa Juice - Rp.16.000
Nasi Kuning Spesial 148 - Rp.23.000

Baca juga : Menu Sehat Untuk Sarapan

Kisah di balik 148Coffee

Hari pun makin senja sewaktu saya dan mom Sri serta manteman lainnya masih asyik duduk menikmati kopi dan hidangan lainnya. Terlihat pengunjung yang makin ramai berdatangan, ada yang sendiri, tapi lebih banyak yang datamg serombongan. Saya pun takjub melihatnya!

Mom Sri lalu bercerita tentang perjalanan panjang 148 Coffee hingga jadi seperti sekarang...

Diawali pada tahun 2005, mom Sri membuka usaha bersama sang ibunda tercinta, berjualan Nasi Kuning dan Songkolo (nasi ketan khas Makassar) bernama Songkolo 148. Usaha ini awalnya kecil-kecilan di rumahnya dengan menyasar para tetangga di lingkungan sekitar yang ingin sarapan pagi. Namun ternyata para pembeli gak hanya pengen makan nasi kuning dan songkolo aja, mereka juga pengen ngopi. 

Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya Sri memutuskan untuk juga menjual kopi. Tepatnya di tahun 2009 barulah dia membuka Warkop 148 dengan menu andalan kopi susu yang diracik sendiri oleh suaminya. Warkopnya pun makin rame, gak hanya pada saat sarapan tapi hingga malam hari. Lalu pada tahun 2012 mereka pun mencoba inovasi baru dengan menggunakan mesin kopi.

Karena naluri bisnis yang sangat kuat dalam diri mom Sri dan sang suami, mereka lantas merakit mobilnya menjadi coffee bus, tempat berjualan kopi, sebagai usaha untuk dijalankan oleh Ryan, anak mereka yang sudah beranjak dewasa. Coffee Bus 148 ini parkir di kampus Riyan dengan sasaran pembeli para mahasiswa. Terjunnya Ryan di bisnis kopi bukan modal nekad dan hanya sekedar ikut usaha orang tua, tapi dibekali dengan ilmu dalam dunia barista yang digelutinya sekarang.

Ryan menimbang kopi
Salah satu jemis kopi bubuk yang dijual di 148Coffee

Ryan inilah yang lantas memberi masukan dan ide kepada ayah dan ibunya untuk mengubah konsep Warkop148 menjadi lebih kekinian untuk menyasar anak muda, kaum milenial yang sekarang doyan nongkrong di cafe dengan berbagai kegiatan yang positif. Akhirnya pada tahun 2018, tepatnya di bulan Agustus, Warkop 148 bertransformasi menjadi 148 Coffee yang dikelola langsung oleh Riyan, namun kontrol manajemen tetap oleh Sri dan suami.

Baca juga : Menjelajahi Masa Lalu di SAGOO

Saya pun senter-senter bella alias curi-curi pandang mengamati Ryan, terbukti dia emang terlihat sangat mencintai dunianya saat ini. Terlihat dia terlibat langsung membuat kopi, mulai dari menimbang biji kopi, menghaluskan hibgga menyeduhnya. Semua dilakukan dengan serius. Riyan bahkan sempat duduk ngobrol bareng kami, walaupun hanya sebentar, karena lebih sibuk di meja barista.

Temu Sapa

Di salah satu dinding di dalam ruangan lantai 1, ada tulisan yang cukup gede terpampang, yaitu "Temu Sapa". Saya pun bertanya ke mom Sri, itu apa? Mom Sri menjelaskan bahwa Temu Sapa adalah slogan 148 Coffee yang maksudnya untuk membiasakan diri bertemu dan bersapa dengan ramah. Slogan ini berlaku gak hanya buat  tim 148, tapi juga para customer. Dan slogan Temu Sapa itu menjadi acara bulanan di 148 Coffee, dimana acaranya seperti bedah fim, bedah buku, bedah musik, dan lain-lain.


Wah keren ya?
Sepertinya kalo Temu Sapa diadain lagi bulan depan, saya harus hadir tuh.

Dan, dari obrolan kami sore itu, paling nyesss ketika mom Sri ngomonk gini,
Kerja sama dengan anak itu penuh tantangan tapi kita mencoba untuk support dan bisa bekerja sama. Tidak mudah menjalani semuanya tetapi keyakinan saja  dan tawaqqal sampai semua terjadi. Ada-ada aja rezeki, akhirnya bisa seperti ini. Maha Baik Allah yang udah kasi petunjuk

Satu pelajaran berharga saya dapatkan lagi sore itu, bahwa usaha itu emang harus diseriusin dan fokus dijalanin. Sukses selalu 148 Coffee! 

Teman ngopi sore itu
Ki-ka : Mega, Sri, Mochdy, Ery

148 COFFEE
Jl. Pongtiku no.148
Makassar
Jam ops : Pk. 08.00 - 23.00
Instagram : 148coffeeshop






26 komentar on "148 COFFEE - Dahulu Warkop Tradisional, Sekarang Warkop Kekinian"
  1. Setuju sama ucapannya Ibu Sri, yakin dan tawakkal kuncinya. Misal Ndak pake ngambek-ngambek klo sepi pembeli. Yakin saja nnti dtg ji dengan sendiri rezekinya.

    Btw kapan2 ajak ngopi juga nah kak

    BalasHapus
  2. Iya bener. Usaha itu harus diseriusin dan fokus. Btw, kayaknya nasi ketannya enak tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak banget, apalagi dengan ikan terinya itu, hmmm...

      Hapus
  3. Ini yang keren, kolaborasi antara tua dan muda. Orang tua punya insting bisnis, anak muda punya kejelian melihat pasar.

    Kayaknya bisa dicoba ini kalau saya pulang ke Makassar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes daerng, salut ka sama ini temanku, bisa kerjasama yang bagus dengan anaknya.

      Hapus
  4. tempatnay kekinian ya, memang butuh tempat yg bikin nyaman pengunjung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes mbak, dari yang dulunya warkop tradisional, sekarang jadi keren.

      Hapus
  5. seru nih kayaknya ngopi di sini. warkopnya unik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan cuman warkopnya yang unik, rasa kopinya juga.

      Hapus
  6. Kalau diliat dari harga menu-menunya bersahabat banget nih dengan kantong �� kapan2 mw ke sana deh, apalagi di pongtiku ji �� suka banget minum kopi yg ala ala gitu �� mksh infonya kak, sukses trus deh ntuk coffeshopnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kopi yang ala-ala gimana maksudnya dek? Haha..

      Hapus
  7. Haha, saya juga punya banyak pengalaman menghadapi konsumen, santai saja Ibu, tidak semua pelanggan harus bisa disenangkan. Ada porsinya masing-masing. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf, saya agak kurang ngeh sama komennya.. Kayak gak nyambung dengan apa yang saya tulis di atas.

      Hapus
  8. Salutku tawwa. Inovasinya mantap, sekeluarga pula terjun.
    Daan ada menu songkolonya .... tradisional dengan kemasan kekinian. Semoga laris - manis 148.

    BalasHapus
  9. Deh, songkolo begadangnya mho saya,,murahnya..jarang sakeli dapat songkolo dengan harga semurah itu di tempat yang instagramble..biasanya beli songkolo harga yang sama dipinggiran ji kodonk..klw ada waktu,Insya Allah datang bawa rombongan khusus makan songkolo begadang di sini..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun kaget lihat harganya, haha... Murmer bener deh!

      Hapus
  10. jadi kapan kita ngopi di sini, kak? bisalah sambil kopdar dan bacocer atau sekalian klinik blog di warkop 148 ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bisa banget nih tempatnya dipake untuk kopdar. Sambil sharing sama mom sri juga ok.

      Hapus
  11. Dari usaha nasi kuning dan songkolo 148 menjelma warkop kekinian 148 coffe. Keren deh usaha dari mom sri Rejeki ini. Kalau sempat berkunjung ke sini saya pasti bakal pesan nasi kuningnya��

    BalasHapus
  12. Dekat rumahku gang hahaha

    Pantas banyak orang kuliat disana selalu, murah ji ternyata di'. Lancar ji wifinya kak? Besok2 kesana pale nongki deh daripada prgi jauh2 wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rumahnya di mana?
      Kalo dekat, koq gak pernah mampir? Hehe..

      WiFinya kencang di sana.

      Hapus
  13. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  14. thanks kak cerita yg sngt inspiratif

    BalasHapus

Kalau kamu suka dengan tulisan ini silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.