Pengembangan Kota Makassar Menuju Kota Kreatif UNESCO

Senin, Desember 10, 2018
Assalamu alaikum, manteman.

Di awal bulan November lalu saya mengikuti kegiatan FGD atau Focus Group Discussion yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Makassar. FGDnya membahas tentang Pengembangan Kota Kreatif Makassar - Makassar Sebagai Kota Kreatif UNESCO. Acaranya berlangsung selama 3 hari, yakni 13. 14. 15 November 2018.


Sebelum membahas FGD yang diadakan, kita perlu tau dulu, apa sih yang dimaksud dengan Kota Kreatif UNESCO?


Well, tentang UNESCO atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization gak perlu lah saya jelasin, semua pasti udah tau.

Sedangkan tentang Kota Kreatif ini adalah salah satu program kerja UNESCO yang ada sejak tahun 2004 yang disebut dengan UNESCO Creative City Network atau Jaringan Kota Kreatif UNESCO.



Badan khusus PBB ini memiliki misi untuk mempromosikan kreativitas sebagai salah satu elemen penting dalam pembangunan masyarakat perkotaan. Sedangkan tujuan dari program ini adalah untuk menjalin kerjasama antara kota yang berjejaring dengan menempatkan kreativitas dan industri budaya sebagai koridor utamanya, dimana masyarakat dari kota tersebut yang menjadi fokus utamanya.

Jaringan Kota Kreatif pilihan UNESCO ini terdiri dari 180 kota di 72 negara dan mencakup 7 elemen kreatif, yaitu Crafts & Folk Art (kerajinan tangan tradisional), Design, Film, Gastronomy, Literature, Music, dan Media Arts. Yang membanggakan adalah Indonesia yang memiliki dua perwakilan dalam Jaringan Kota Kreatif UNESCO ini! Dua kota ini adalah Bandung di Jawa Barat yang mewakiliki kreativitas dalam bidang Design dan Pekalongan di Jawa Tengah yang mewakili kreativitas dalam bidang Crafts & Folk Art.

Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sendiri telah mengusulkan Kota Makassar sebagai Kota Kreatif sejak tahun 2014 karena memiliki daya tarik di bidang budaya dan pariwisata. Namun untuk mewujudkan hal itu, bukan perkara mudah. Selain harus memperkuat sektor yang akan diangakat, Kota Makassar juga bersaing dengan beberapa kota lainnya di Indonesia.

Akhirnya di tahun 2018 ini, dalam rangka mewujudkan Makassar sebagai salah satu jejaring Kota Kreatif UNESCO, Pemkot Makassar melalui Dinas Pariwisata Kota Makassar kembali mengumpulkan berbagai unsur seperti pemerintahan, akademisi, media, komunitas dan bisnis dalam Focus Group Discussion (FGD) terkait hal tersebut.

Pada hari pertama, tanggal 13 November 2018 mengusung tema “Strategi Penentuan Subsektor Unggulan Makassar Makassar Kota Kreatif UNESCO” dengan menghadirkan tiga orang pembicara, yakni Lektor Kepala Poltekpar Makassar Bapak DR. Syamsu Rijal, Sekretaris BAPPEDA Kota Makassar Bapak Nur Kamarul Zaman, dan Ketua Umum Indonesian Creative City Network (ICCN) 2017–2019/Dosen Peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran Bandung Kang Tubagus Fiki C. Satari.

Kang Fiki, Ketua Umum ICCN

Di awal presentasinya, Bapak Syamsul Rijal menyampaikan bahwa kuliner Makassar yang sudah terdata hingga saat ini berjumlah 230 jenis. Untuk itu para peserta FGD diminta untuk menyamakan persepsi bahwa Makassar dari sektor GASTRONOMI adalah yang paling siap untuk diajukan ke UNESCO.

Adapun konsep Gastronomi adalah :
1. Culinary art : seni dari sebuah masakan.
2. Food science : gizi dan komposisi.
3. Food technology : industri kuliner.


Pisang Epe' salah satu ikon kuliner Makassar
*pic source Dinas Pariwisata Kota Makassar


Bapak Nur Kamarul Zaman menjelaskan visi Kota Makassar adalah mewujudkan Kota Makassae sebagai kota dunia yang nyaman untuk semua. Pemerintah pun melakukan pengawasan terhadap industri kuliner dengan penanganan ketahanan pangan, serta pengembangan wisata kuliner di beberapa titik kota.

Di akhir presentasi, Kang Fiki, selaku Ketua ICCN membeberkan bagaimana Kota Bandung waktu itu saat pengajuan sebagai Kota Kreatif UNESCO dibidang desain, bahwa dibutuhan 3C antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat, yaitu Connect, Collaborate, Commerce/Celebrate. Selain itu untuk penciptaan nilai harus ada M. P, K dan R, yaitu :

✔ SDM = Manusia (M).
✔ Karya = Produk barang/jasa (P).
✔ Pasar = Pengguna, konsumen (K).
✔ R & D = Riset dan Pengembangan atau Research and Developement (R).


Sedangkan di hari ke-2 pelaksanaan FGD, tanggal 14 November 2018 mengusung tema "Persiapan dan Aplikasi Pengisian Dossier Makassar Kota Kreatif UNESCO” dengan menghadirkan Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar Ibu Hj. Rusmayani Madjid, MSP, Kepala BALITBANGDA Kota Makassar Ibu DR. Ariaty Puspasari Abady, dan Ketua Bandung Creative City Forum Ibu Dwinita Larasati, M.A.

Ki-ka : Ibu Dwinita, Ibu Puspa & Ibu Maya

Ibu Dwinita menginformasikan bahwa saat ini untuk sektor Gastronomi sudah terpilih 26 kota dunia dari 17 negara. Di Asia Tenggara hanya Phuket yang terpilih. Semoga berikutnya adalah Makassar. Harapan ini tentu saja diaminkan oleh seluruh peserta yang hadir, terutama Ibu Rusmayani atau yang akrab disapa Ibu Maya, Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar. Beliau  menyampaikan bahwa ada 138 restoran yang terdaftar di Kota Makassar dan Rp.40,8M pemasukan kota bersumber dari sektor kuliner.

Pada sesi tanya jawab dengan Ibu Maya ini saya sempat mengajukan pertanyaan, yaitu "kenapa pemerintah kota tidak pernah menyelenggarakan Festival Menu Tradisional atau semacamnya untuk mengangkat kuliner daerah agak semakin dikenal dan diminati oleh selurih masyarakat? Karena berdasarkan pengamatan saya pribadi selama ini event kuliner yang digelar bersifat umum dan hanya diikuti oleh pengusaha kuliner yang merupakan menu kekinian atau merk-merk waralaba dari luar Makassar". Ibu Maya menyambut baik pertanyaan ini sebagai masukan dan akan mengagendakan untuk acara tersebut.

Foto bareng peserta FGD, narasumber dan Dinas Pariwisata Kota Makassar


Sedangkan Kepala BALITBANG Kota Makassar, Ibu Puspa, menjelaskan bahwa gastronomi bisa menjadi leading sektor untuk sub sektor kreatif lainnya karena bisa menggerakkan usaha lainnya. Ia pun berharap bahwa jika Kota Makassar terpilih sebagai Kota Kreatif haruslah terus dipertahankan sebab akan ada evaluasi dari UNESCO dari hasil laporan pemerintah kota setiap 4 tahun sekali, yang jika terjadi wanrestasi selama 4 kali berturut-turut maka gelar sebagai Kota Kreatif akan dicabut.

Selanjutnya di hari terakhir, tanggal 15 November 2018, panitia mengusung tema “Aktivasi Program City Branding Makassar Menuju Kota Kreatif UNESCO” dengan menghadirkan Moh. Arief Budiman, S.Sn, Sekjen ICCN, dan ITI Network (MCCN), Ashari Ramadhan Rivay.

Presentasi Ashari Ramdhan Rivay

Kedua narasumber ini lebih banyak mempresentasikan tentang komunikasi, komunitas dan tekhnis pelaksanaan dari kegiatan yang pernah dilakukan. Termasuk juga mengkritisi beberapa kebijakan Pemerintah Kota Makassar seperti terlalu banyaknya branding kota yang digunakan, diantaranya Smart City, Sombere City dan lain-lain.

So, menurut kamu, apa Kota Makassar layak dinominasikan sebagai Kota Kreatif UNESCO dari sektor Gastronomi? 
Kalo belum, yuk kita dukung bersama untuk mewujudkannya!




34 komentar on "Pengembangan Kota Makassar Menuju Kota Kreatif UNESCO"
  1. Menurut saya makassar sudah layak masuk nominasisebagai Kota Kreatif UNESCO dari sektor Gastronomi.. karena art dan kuliner makassar sudah sangat terkenal dan juga memang sangat membanggakan Indonesia.. saya mendukung makassar!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Elly.
      Udah pernah berwiskul di Makassar?

      Hapus
  2. Aku baru tahu kalau Kota Kreatif ini adalah salah satu program kerja UNESCO yang ada sejak tahun 2004 salah satunya adalah Makassar...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makassar belum Masuk mbak, baru diusulkan untuk jadi nomisasi, soalnya ada penilaiannya.

      Hapus
  3. Kak, ada mi perkembangan dari kegiatan kemarin itu? Jangan sampai tiap akhir tahun ada pertemuan tapi tidak ada tindaklanjut, ka tiga tahun mi begitu terus :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Tercium aroma penghabisan anggaran? Semoga tidak ya. Soalnya kak Rini bilang tunggu undangan sslanjutnya.

      Hapus
  4. Dari sejak setahun apa dua tahun lalu ya, ketika wacana ini mulai diembuskan sempat ada diskusi kecil dengan teman2 komunitas. Waktu itu kak Jimpe dari Ininnawa sebenarnya menawarkan Makassar menjadi kota kreatif di bidang literasi, mengingat kita punya budaya literasi yang kuat. terbukti dengan adanya naskah Lagaligo.

    Tapi karena pemkot sudah memilih kuliner dan gastronomi ya sudah lanjut saja dan kita dukung.

    Hal berat yang harus dibenahi oleh pelaku kuliner (khususnya kuliner asli) adalah soal profesionalitas dalam melayani pelanggan. Kita harus mengakui di hal ini, pelaku bisnis kuliner lokal kita masih kurang. Pelayannya jutek, gerak tubuh yang tidak sopan, tanpa senyum dan wajah ramah. Belum lagi tempat makannya yang banyak tisu kotor di lantai, lantai basah dan lain-lain.

    Ini peer besar untuk kita semua karena menurutku gastronomi bukan hanya di makanannya tapi juga di SDM-nya, termasuk SDM yang melayani.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin kalo di bidang gastronomi atau kuliner, ada pengusaha resto berdana kuat yang bisa mereka gandeng. Sedangkan kalo di bidang literasi, rata-rata penulis kan pribadi, jadi ya gitu deh hehe.. Eh ini mungkin yaaa

      Hapus
  5. Kota Makassar semakin mantap memajukan diri di era digital ini, dimana sekarang segala sesuatunya makin dipermudah dengan teknologi.. saya sendiri baru kenal dengan istilah Gastronomi, ternyata ada kaitannya dgn dunia kuliner dan makanan.. Jujur nih kak Ery, sejauh manapun kakiku melangkah, lidahku tak pernah menemukan yg seenak dan secocok masakannya Makassar.. selalu dan selalu kangen dgn kuliner Sulsel yg bercitarasa tradisional namun otentik.. saya bangga mendukung Makassar untuk dinominasikan sebagai kota kreatif UNESCO di sektor Gastronomi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gastronomi itu istilah dalam bidang kuliner, mulai dari penyiapan bahan, cara memasak hingga penyajian.

      Semoga Makassar bisa jadi Kota Kreatif UNESCO yaa

      Hapus
  6. Kalau pendapat pribadi memasukan Makassar untuk untuk kota kuliner itu belum tepat bagiku kak, walau memang kita punya kuliner beragam. Makassar belum benar-benar siap untuk itu, bahkan walau data jenis kuliner yang sudah tercatat ada ratusan seperti lapisan wafer tango -ahaha #eh-, tidak banyak sdm yang mampu hadir untuk ini. Terlalu memaksakan...
    Tapi sebagai warga kotak kosong yang baik saya siap mensukseskan dan mendukung dinominasikannya Makassar sebagai kota kreatif UNESCO dalam sektor Gastronomi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting ada lagi undangan, dapat amplop dan makan enak ya kitaa.. Hahaha

      Hapus
  7. Jujur aku amazing loh dgn perkembangan kota Makassar ini. Dibandingkan kota lain yg lbh dkt dgn sekitar. Semoga Makassar makin jayaaa makin sukses dan hebat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makassar sekarang udah termasuk kota dengan perkembangan yang pesat mbak.

      Hapus
  8. kota Makassar makin maju dan layak disebut sebagai kota metropolitan, mengingat pembangunannya yang makin ke sini makin banyak gedung-gedung bertingkat yang keren banget.

    BalasHapus
  9. Makassar punya potensi karena memiliki banyak keanekaragaman kuliner. Namun untuk menjadi Kota Kreatif bidang Gastronomi perlu banyak effort juga. Jangan hanya di sisi pemerintah yang begitu menggebu gebu namun harus merangkul juga para pelaku industri kuliner yang ada.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua pihak terkait harus ikut terlibat untuk sukseskan program ini.

      Hapus
  10. Wah keren Mbak Ery bisa ikut di FGD sekeren ini. Semoga Makassar bisa jadi lebih baik ya Mbak.... Karena potensinya memang jelas besar banget kota ini....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo untuk FGD yang diadain pemerintah kota, emang kami blogger Makassar sering dilibatkan ��

      Hapus
  11. Menurut saya sangat layak, Makassar ini orang2nya kreatifitas, banyak sumber dayanya apalagi di bidang ekonomi, tempat wisata pun gak kalah, mudah2an di Acc yah sama Unesco klu sudah diajukan ��

    BalasHapus
  12. Kalau saya sendiri bangga sekali Makassar jadi kota gastronomi kak, secara kuliner ta sangat beragam. Tapi apa pelaku bisnisnya sudah pada siap? Pelayanannya sudah mantap dan ramah? Kebersihannya bagaimana? Jangan sampai hanya pemerintah yang menggebu-gebu tapi tak merangkul dengan baik para pelaku usaha kuliner.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu mi yang jadi PRnya pemerintah untuk membina dengan pelaku usaha biar standar mutu lebih diperhatikan.

      Hapus
  13. Secara jumlah dan ragam, kuliner Makassar (Sulawesi Selatan) memang berlimpah. Tapi memang harus kerja keras di SDM nya sepertinya, agar layak jadi ikon kota gastronomi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, keragaman kuliner gak akan ada artinya kalo SDMnya tidak diedukasi lebih baik dari segi higienitas dan pelayanan.

      Hapus
  14. Kalau soal makanan, memang menurutku Makassar masih nda ada lawan sih, yaa paling mendekati itu rasa-rasa masakan sumatera tp baru mendekati belum menyamai apalagi mengalahkan hahaha, tulisan yang inspiratif untuk terus bekerja keras agar Makassar lebih baik lagi mams ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soal rasa masakan, pasti relatif tergantung lidah masing-masing. Kita bilang enak masakan Makassar karena sudah terbiasa makan itu ��

      Hapus
  15. Jika ditanya tentang layak atau tidaknya Kota Makassar dinominasikan sebagai Kota Kreatif UNESCO dari sektor Gastronomi, saya jawab kenapa tidak?

    Kota Makassar layak untuk itu jika di barengi dengan peran pemkot dalam membina pelaku kuliner, SDM harus ditingkatkan dalam dunia perkulineran dan bisa mencontoh negara Asia lainnya seperti Phuket.

    Saya lernah ada di Phuket selama seminggu. Dan memang saya angkat jempol kuliner disana. Hingga saat ini, makanan khas disana masihbterasa di lidah dan selalu bikin rindu balik kesana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Phuket, sama halnya di Bali, daerah tujuan wisata yang utama. Jadi dari segi rasa, penyajian dan pelayanan pastinya lebih unggul ya kak.

      Hapus
  16. Menurutku sih Makassar memang pantas dan layak mendapat gelar Kota Kreatif UNESCO di sektor Gastronomi, karena kulinernya unik-unik plus enak dan tentu saja bikin nagih😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bikin nagih, apalagi kalo ditraktir ya? Ahahah..

      Hapus
  17. Nah itu kak, sama pertanyaan ta. Setiap Kali datang ke event kuliner, sanging kuliner modern yang nongol, yang tradituonal tenggelamki kodong.

    Kuliner traditional juga perlu naik kelas dalam hal pelayanan, keramahan, kebersihan Dan kemasannya.

    BalasHapus

Kalau kamu suka dengan tulisan ini silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.