Kenapa Papi Terkena Penyakit Jantung?

Rabu, November 14, 2018

Assalamu alaikum!
Semoga manteman semua sehat ya.. Maklum aja, saat perubahan cuaca seperti sekarang ini, banyak penyakit yang bisa menjangkiti kita. Ditambah lagi di zaman yang makin canggih,  berbagai macam penyakit langka atau yang belum pernah kita dengar sama sekali malah jadi momok yang mengerikan.

Tapi tahu enggak, salah satu penyakit yang paling mematikan di dunia ini adalah penyakit jantung. Penyakit ini menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian.

Di Indonesia berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2013, jenis penyakit jantung dan pembuluh darah yang banyak terjadi adalah penyakit jantung koroner (PJK). Penyakit ini sering disebut “silent killer” atau pembunuh tak bersuara, karena dalam banyak kasus, seseorang tidak menyadari memiliki penyakit ini hingga mereka menunjukkan tanda-tanda serangan jantung atau gagal jantung. 

Begitu pula dengan data dari Survey Sample Registration System (SRS) tahun 2014 di Indonesia menunjukkan penyakit jantung kini menjadi penyebab kematian tertinggi. Data ini menyebutkan bahwa 12,9% kematian di Indonesia diakibatkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah, dan hal ini berpotensi untuk terus meningkat setiap tahunnya.

Makanya, jangan heran sewaktu Papi terkena serangan jantung, saya khawatir luar biasa. Panik sih tidak karena saya tetap berusaha tenang. Tapi pikiran kalo orang yang kena serangan jantung itu bisa berakibat fatal, itu yang bikin saya was-was. Mulai sejak Papi menelepon dan bilang kalo “sakit dadaku”, saya langsung berinsiatif untuk menjemputnya dan segera bawa ke rumah sakit. Saya udah bisa perkirakan, dalam waktu singkat, gak boleh sampai 1 jam Papi udah tertolong. 

Syukur Alhamdulillah waktu itu Papi tertangani dengan cepat. Proses dari terkena serangan jantung hingga akhirnya dipasangin cincin di pembuluh darahnya tidak lama, bahkan tergolong cepat. Dari hasil foto jantungnya, tampak ada 4 penyumbatan pembuluh darah ke jantung, yang semuanya sudah di atas 80% dan yang terkena serangan adalah yang penyumbatannya sudah 99%.

Cerita tentang Papi yang kena serangan jantung waktu itu bisa kamu klik di sini

Kondisi penyumbatan di jantungnya Papi

Akibat dari serangan jantung itu, banyak keluarga dan kerabat Papi yang bertanya-tanya, apa selama ini Papi emang ada keluhan? Atau sudah ada gejala sakit jantung sebelumnya? 

Usut punya usut, ternyata pada tahun 1980an lalu, Papi pernah mengalami sakit di dada sebelah kiri sewaktu ikut senam aerobik yang high impact di kantornya. Bahkan Papi sampai dibaringkan karena sakit yang amat sangat. Tapi waktu itu tidak sampai dibawa ke dokter atau ke rumah sakit karena sakitnya berangsur-angsur pulih tidak berapa lama. Rupanya menurut dokter yang menangani Papi di PJT (Pusat Jantung Terpadu) RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar kemarin, itulah awal Papi terkena serangan jantung, tapi baru dalam tahap serangan yang ringan.

Setelah kejadian di tahun '80an itu, Papi lantas mengabaikannya. Bisa juga karena Papi tidak tahu kalau itu adalah serangan jantung. Papi tetap merokok, makan makanan yang berlemak, kurang berolahraga, pola hidup yang tidak terjaga, hingga akhirnya terkena diabetes yang merupakan penyakit keturunan dari Opa dan Oma.

Diabetes menjadi salah satu penyebab timbulnya penyakit jantung koroner, selain kebiasaan merokok, kadar kolestrol yang tinggi, pola hidup tidak terjaga, hipertensi atau tekanan darah meningkat, kelebihan berat badan, adanya penyakit diabetes, faktor usia, dan jenis kelamin.

Bertepatan dengan Peringatan Hari Ayah Sedunia, yang jatuh pada tanggal 12 November kemarin, Papi melakukan pemasangan cincin yang kedua. Alhamdulillah prosesnya cepat dan berjalan lancar. Masih ada 2 lagi penyumbatan yang akan dipasangin cincin oleh dokter, tapi menunggu kondisi Papi pulih kembali.

Setelah pemasangan cincin kedua

Baca juga : Happy Father's Day

Dari kejadian yang menimpa Papi ini, saya jadi mulai sadar diri dan mencoba untuk hidup dengan pola yang sehat. Hidup sehat adalah gaya hidup yang aktif dan rutin berolahraga, menerapkan pola makan seimbang rendah lemak jenuh serta kebiasaan sehat tanpa rokok dan minuman beralkohol (karena emang saya juga gak merokok dan minum beralkohol sih). Hmm, sebenarnya gak susah ya menerapkan pola hidup sehat?