BOHEMIAN RHAPSODY : Film Tentang Freddie Mercury, Bukan Tentang QUEEN

Jumat, November 09, 2018

Bismillah
No, We will not let you go
Let me go!!
Bismillah
No, We will not let you go
Let me go!!
Bismillah
No, We will not let you go
Let me go!! 
Oo.. Oo.. Oo..

Penggalan lagu Bohemian Rhapsody yang sangat fenomenal itu mulai tergiang-ngiang di telingaku dan sesekali saya nyanyikan sejak tau kalo film dengan judul yang sama akan segera tayang. Waktu itu masih bulan Juli dan infonya Bohemian Rhapsody akan tayang tanggal 2 November 2018. Masih lama, pikirku. Tapi saya udah gak sabar pengen nonton. Bahkan trailler filmnya langsung saya posting di IGTV.

Saya mendengar lagu-lagu Queen tentu saja dari kaset yang biasa Papi putar di rumah sejak kecil dulu. Lagu seperti We Are The Champion, We Will Rock You, Radio Gaga, dan sebagainya udah akrab di telingaku. Sedangkan lagu Bohemian Rhapsody ini dulu yang jadi salah satu backsound operet yang saya mainkan di masa SMA, tahun '93, waktu acara perpisahan kakak kelas. Itu adalah pengalaman pertama saya berakting dalam operet dan ditonton ratusan orang. Makanya jadi serasa flashback setiap dengar lagu Bohemian Rhapsody, hihi...

Queen dalam klip Bohemian Rhapsody


Lalu di bulan November 2018, saya ngetrip Jakarta-Bandung untuk menghadiri pernikahan ponakan, dan jreng..jreng.. Sesuai jadwal, Bohemian Rhapsody pun tayang di bioskop! Huhu... Gimana bisa nonton, jadwal tripnya padat, sepadat orderan jastip cyiin. Waktu tau kalo Sherief, adikku udah nonton, begitu juga dengan Alifah dan Atu di Makassar, envylah saya.

Maka, begitu udah tiba di Makassar, agenda pertamaku : Nonton Bohemian Rhapsody!

Akhirnya, saya pulang ke Makassar hari Minggu, gak keluar seharian karena capek sangat dan hari Seninnya langsung kumpulin tenaga biar malam bisa ke bioskop.

So, here's my review about the movie!
Yang suka baper dengan spoiler, mending gak usah baca 😜

1. Filmnya kehilangan fokus
Melihat judulnya, buat penggemar Queen mungkin pikir film ini tentang grup band Queen, kisah perjalanan karirnya dan seterusnya. Atau mungkin mikir bagaimana proses terciptanya lagu Bohemian Rhapsody. 
Ok, film ini bias. Kehilangan fokus menurutku.

Filmnya ini sebenarnya bercerita tentang perjalanan hidup Faroukh Bulsara alias Freddie Mercury, sang legenda, vokalis band Queen.

2. Ceritanya serba tanggung
Karena kehilangan fokus itu, akhirnya ceritanya nanggung. Tentang bagaimana Queen terbentuk hanya digambarkan diawal saat dengan PDnya Freddie mendatangi Brian May dan Roger Taylor lalu mereka manggung bareng, lengkap dengan John Deacon.

Proses pembuatan lagu Bohemian Rhapsody hanya digambarkan sedikit saat Freddie mendapat musiknya di tempat tidur waktu bareng Mary Austin, kemudian menjadi lengkap ketika mereka "diasingkan" ke sebuah daerah perbukitan yang asri, lalu lagu itu direkam secara analog dalam studio rekaman. Tidak ada cerita latar belakang lagu itu tercipta, terutama inspirasi dari kata-kata aneh yang diucapkan.

3. Cerita tidak sesuai aslinya
Film ini sepertinya mau menjadikan konser Live Aid 1985 sebagai gong dalma cerita. Dimana saat seluruh personil Queen selesai latihan, Freddie mengumumkan ke teman-temannya kalo dia menderita AIDS. Padahal yang sebenarnya adalah Freddie menyampaikan hal itu ke teman-temannya di tahun 1987.

Adapun Jim Hutton, kekasih Freddie, yang diceritakan dalam film adalah seorang karyawan catering yang melayani saat Freddie mengadakan pesta, padahal sebenarnya mereka bertemu di bar gay dan Jim Hutton adalah seorang pekerja di salon.

4. Perawakan Rami Malek yang gak mirip Freddie Mercury

Rami Malek sebagai Freddie Mercury
*pic courtesy indiewire.com

Buat penggemar Freddie Mercury, pasti akan mengatakan gak ada yang bisa menggantikan atau bahkan menyamai idolanya itu. Tapi emang perawakan Rami Malek lebih kecil dibanding Freddie sih, jadinya dia terlihat lebih "kerdil" dibanding anggota Queen yang lainnya.

Selain bentuk tubuh, matanya termasuk warna bola matanya pun beda. Bola mata Freddie Mercury berwarna hitam, sedangkan Rami berwarna abu-abu. Padahal bisa banget kelles dipakein soft lens.

But so far, aktingnya ok lah, walopun sepertinya dia agak kesulitan beradaptasi dengan gigi palsu yang tonggos a la Freddie Mercury 😁


Itu sih yang jadi kekurangan dalam film ini, menurutku, walopun sebenarnya gak menganggu sama sekali jalannya cerita karena overall saya suka banget filmnya!

πŸ‘ Lagu-lagu Queen yang diputar di film ini bisa bikin saya nyanyi sambil bergoyang. 

πŸ‘ Proses terciptanya lagu Love Of My Life bikin saya ngerti bagaimana seorang musisi merangkai kata demi kata untuk sebuah lagu indah.

πŸ‘Lagu Bohemian Rhapsody itu adalah lagu yang dulunya ditolak oleh produser EMI Records sebagai lagu andalan dalam album A Night At The Opera karena musiknya yang tidak jelas genrenya ada rock, soul, opera, kata-katanya yang aneh dan durasinya yang terlalu panjang yaitu 6 menit tapi hingga sekarang lagu itu masih jadi lagu terbaik sepanjang masa.

πŸ‘ Baru ngeh kalo lagu Ice Ice Baby punya Vanilla Ice yang ngetop di tahun 90an (anak disko pasti tau banget lagu ini, hihii..) intronya diambil dari.lagu Under Pressure-nya Queen.

πŸ‘  Jadi suka lagu Another One Bites To Dust karya John Deacon yang awalnya dicela sama Brian May dan Roger Taylor karena dianggap seperti lagu disko.

πŸ‘"Kita adalah keluarga" adalah kalmat yang sering keluar dari mulut para personil Queen, menyiratkan kalo mereka dekat satu sama lain. Walopun dalam film chemestry itu tidak nampak.

πŸ‘ 2 sisi kehidupan Freddie Mercury, di atas panggung dia terlihat begitu mempesona dengan suara yang merdu bagaikan penyanyi opera dan berpenampilan dengan fashion yang penuh percaya diri, tapi di bawah panggung betapa rapuhnya dia, tidak bisa hidup sendiri, tergantung pada Mary Austin.

πŸ‘ Konser Live Aid '85 yang dibuat persis seperti aslinya dalam acara live di tv kala itu, mulai dari angle syuting, aksi panggung, ekspresi dan pakaian para personil Queen, hingga para kru yang terlibat dalam acara itu.

Konser Live Aid '85 yang dibuat persis aslinya*pic courtesy leflion.co.uk

Selain itu banyak adegan menyentuh di film ini yang cukup bikin saya mewek, yaitu ketika :

• Freddie menyampaikan kepada pacarnya, Mary Austin kalo dia adalah gay, diiringi sayup-sayup lagu Love Of My Life di televisi. Lagu yang ia ciptakan untuk Mary.

• Seorang fans, penderita AIDS, mengenali Freddie waktu ia periksakan diri di RS. Mewek lihat Freddie membalas senandung fans itu, "eeooo...".

• Freddie menyampaikan kepada personil Queen kalo dia menderita AIDS, yang disambut dengan tetesan airmata dan kalimat "kau adalah legenda" yang diucapkan oleh Roger Taylor.


Well, Freddie Mercury adalah seorang entertainer sejati. Dia terlahir memang untuk menghibur semua orang, dengan selera musiknya yang jenius dan gayanya yang nyentrik.

So, yang belum nonton film ini, segera mi! Sebelum filmnya turun tayang. Dan sekali lagi, film ini bukan tentang Queen, tapi tentang Freddie Mercury!

Alifah & "Freddie Mercury" di Madame Tussauds Hong Kong