Kenangan di MACAU

Senin, Agustus 20, 2018

Assalamu alaikum, temans!

Setelah menjelajah ke beberapa kota di berbagai negara di belahan dunia ini, saya akhirnya tersadar kalo kota yang saya sukai itu adalah kota yang tidak begitu besar tapi sarat akan bangunan bernilai sejarah dan tentu saja nyaman. Maklum, orang kepo, jadinya suka sejarah, hihiii ๐Ÿ˜…

Kalau disebutkan kota seperti itu yang pernah saya datangi adalah Bali, Bandung, Malang, Erfurt di Jerman, Melaka di Malaysia dan Macau di RRT. So, di tulisan ini saya pengen cerita pengalaman saya sewaktu 2 kali ke Macau.

Suasana di depan The Ruins of St.Paul Church

Macau adalah sebuah wilayah di pesisir selatan negara Republik Rakyat Tiongkok atau berjarak 70km sebelah barat daya dari Hong Kong. Untuk mencapai Macau bisa dengan perjalanan darat atau laut. Tapi kebanyakan memilih jalur laut yang ditempuh hanya 1 jam dengan naik Ferry.

Dulunya Macau merupakan negara jajahan Portugis selama 400 tahun! Sehingga Macau menjadi koloni tertua Eropa di Tiongkok. Lalu pada tahun 1999, Pemerintah Portugal menyerahkan kedaulatan Macau kepada Republik Rakyat Tiongkok dan kini berstatus sebagai Daerah Administratif Khusus.

Bendera dan mata uang Macau berbeda dengan Hong Kong dan RRT. Bendera Macau berwarna hijau dengan gambar bunga Teratai di tengahnya. Mata uangnya bernama Pataka atau disingkat MOP. Tapi mereka juga terima Dollar Hong Kong koq, kalo kamu pas belanja dan gak punya MOP. Penduduk Macau sebagian besar adalah etnis Tionghoa, tapi banyak juga yang turunan Portugis sehingga menghasilkan wajah-wajah blasteran nan ganteng dan cantik, yang bisa buat cuci mata, hihi... Nama mereka pun kebanyakan bernama khas Portugis.

Baca juga : Panggil Saya PICA

✈ 2012

Pertama kali saya ke Macau di tahun 2012 bareng Atu dan rekan kerjanya kala itu di Dinas Pariwisata Kota Makassar. Waktu itu kami tiba malam hari dan pihak travel langsung mengantar kami ke hotel The Venetian, tempat kami menginap. Hotelnya dekat banget dari pelabuhan ferry, cuman selemparan high heels gitu deh #eh ๐Ÿ˜

The Venetian ini adalah sebuah gedung yang terdiri dari hotel, mall dan pusat perjudian. Kami di sini sempat 2 kali mencoba peruntungan di mesin putar, hehee.. Dan ternyata main judi itu emang lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya, itu yang saya rasakan. Buktinya, 3X main baru menang, giliran menang mau lagi nambah, setelah menang banyak eh tiba-tiba kalah. Trus menang lagi, akhirnya kalah lagi, habisss deh... Haha ๐Ÿ˜œ

Keesokan harinya kami dibawa city tour, tapi sayang banget waktu itu lagi turun hujan deras. Alhasil kami hanya melewati The Ruins of St. Paul's Church yang menjadi ikon kota Macau. Lalu kami singgah di City Of Dreams, sebuah mal besar, di sini ada Hard Rock Hotel dan Hard Rock Store yang jadi favorit Atu dan teman-temannya beli t-shirt. Kemudian sebagai tujuan terakhir, kami dibawa ke sebuah tempat yang ada replika gunung berapinya serta benteng khas China tempo dulu. Tempat ini jadi salah satu spot foto keren di Macau. Di sekitarnya adalah kompleks pertokoan factory outlet, tapi sayang banget sepertinya sudah banyak yang tutup dan area koridornya jadi gak keurus. Dan waktu kedatanganku ke Macau di tahun 2018, gunung berapi buatan dan bentengnya udah gak ada lagi. Berganti menjadi hotel mewah, tempat judi juga. 

Di depan The Venetian
Suasana sekitar City of Dreams
Rombongan traveler dari Dinas Pariwisata Kota Makassar 2012

Selama di Macau kami naik bus pariwisata. Kotanya benar-benar kecil dan bersih dengan banyak bangunan tua bergaya Eropa, tapi banyak juga bangunan baru dan modern yang sebagian besar berfungsi sebagai tempat perjudian. Ya, Macau memang terkenal sebagai kota judi, sama halnya seperti Las Vegas di Amerika. Bahkan devisa terbesar dari kota Macau ya datangnya dari judiiii... ๐ŸŽถ*bacanya sambil nyanyi lagunya bang Rhoma Irama ya ๐Ÿ˜„



Kota Macau cantik kan?

✈ 2018

Perjalanan ke Macau di tahun ini serangkaian dengan kunjungan ke Shenzhen dan Hong Kong sepaket lengkap dengan Atu dan anak-anak. Tapi kali ini gak pake nginap. Kami berangkat dari Shenzhen pagi hari naik ferry dan waktu kami di Macau hanya 5 jam, lalu berangkat ke Hong Kong. Itu berarti setelah makan siang kami udah harus cuzz...

Tujuan pertama kami ke The Venetian. Maklum aja, serasa belum ke Macau kalo gak ke Venetian, hehe, walopun hanya sekedar untuk tofoto. Puas berfoto, kami pun dibawa oleh pihak travel ke toko Kue Labu yang katanya terkenal dengan Kue Suami dan Kue Istri-nya. Kami tentu aja penasaran kayak gimana... Ternyata semacam kue kering tapi tebal. Kue Suami rasanya asin dan Kue Istri rasanya manis. Dari situ kami dibawa lagi ke toko souvenir, yang juga pernah saya datangi di tahun 2012 lalu. Oiya sekedar info, harga barang di Macau. seperti souvenir, lumayan lebih mahal dibanding harga di Hong Kong dan Shenzhen.

The Venetian
Kue Labu

Tujuan yang saya impikan pun tiba. The Ruins of St. Paul Church. Sebuah bangunan sisi depan bekas gereja yang terbakar akibat badai pada tahun 1835. Bangunan St. Paul atau Santo Paulus atau Saรด Paulo sendiri sebenarnya adalah merupakan universitas yang dibangun pada tahun 1594 oleh Yesuit dalam pelayanan Portugis. Di tahun 1995, reruntuhan ini dinobatkan sebagai salah satu Warisan Dunia atau World Heritage oleh UNESCO. Karena saya pengen banget berfoto di depan bangunan ini sejak dulu, so fotonya pun harus keren donk!

Tapi dibalik kerennya foto, ada cuaca panas terik yang menyengat, yang bikin BT anak-anak, hihiii... Ditambah lagi karena untuk mencapai tempat ini kami harus jalan kaki yang cukup jauh dari dan ke area parkiran bus yang ada di bawah jalan. Jadi, karena jalan-jalan di Macau tidak begitu lebar dan beberapa hanya terbuat dari paving blok, maka pemerintahnya bikin area parkir di bawah tanah deh.

Sebagai titisan Xena The Warrior Princess dan Dora The Explorer, hihi.. ๐Ÿ˜‚ saya sih enjoy aja selama berjalan kaki di Macau. Itung-itung merasakan jadi warga lokal yang berjalan kaki ke sana ke mari. Melewati pekuburan Kristen, rumah bertingkat bergaya khas Portugis, dan gedung-gedung perkantoran yang besar dan kokoh ala Eropa. Di sisi lain ada juga gedung bertingkat seperti flat atau rumah susun khas China seperti yang biasa kita saksikan di film-film.

Bareng rombongan tour. Yang di sampingku itu (kedua dari kiri) adalah Cecilia, guide kami
Suasana kota Macau
Melewati bangunan khas Eropa
Monumen Kedaulatan Macau


Baca juga : Shenzhen - Macau - Hong Kong 2018

Salah satu penjelasan dari Cecilia, guide kami yang bergaya tomboy, yang cukup bikin ngehe tentang Macau adalah waktu kami melewati tugu peringatan kembalinya kedaulatan Macau ke pemerintah RRT. Sebuah tugu berbentuk bulat, seperti koin jaman dulu. Katanya tugu itu banyak diprotes oleh rakyat Macau karena modelnya yang dianggap aneh dan jelek serta dicurigai sarat korupsi. Sayang ya...

Nah, kalo ditanya dari 2 kali kunjungan saya ke Macau, yang mana paling berkesan? Tentu saja yang baru-baru ini, di tahun 2018. Karena saya jadi lebih tau banyak tentang Macau karena penjelasan guidenya dan juga karena melihat lebih banyak area, walopun hanya 5 jam di sana.

Kalo ditanya lagi, apa saya masih mau ke Macau lagi? Hohoho... Aku sih YES! Soalnya belum ke Kuil A Ma, yang merupakan cikal bakal lahirnya nama Macau. Kuil yang dibangun sejak tahun 1.488 di era Dinasti Ming ini (1368-1644) merupakan kuil tertua dan tempat pertama kalinya bangsa Portugis mendarat di Makau. Pendaratan inilah yang menjadi titik awal sejarah Macau. Selain pengen ke Kuil A Ma, di kunjungan berikutnya saya juga pengen nginap lagi di The Venetian. Harus! Hihiii... ๐Ÿ˜

The Venetian

Semoga aja terwujud yaa.
Eh, bantu dengan bilang "aamiiin" donk, manteman! ๐Ÿ™