2 Hari Tanpa MedSos di SHENZHEN

Rabu, Juli 25, 2018

Sebagai penggiat media sosial, saya gak pernah bayangin bakal hidup tanpa menggunakannya, sehari aja. Sampai akhirnya saya ke Kota Shenzen dan itu terjadi!

Pada liburan yang saya lakukan bersama keluarga di akhir bulan Juni lalu, kami mengunjungi Kota Shenzhen. Kunjungan ke kota ini sebenarnya gak ada dalam itinerary, tapi tiba-tiba aja waktu dijemput sama pihak travel di Hong Kong, sang guide bilang "sekarang kita langsung ke Shenzhen. Mobilnya sudah siap di luar".

Kontan aja kami yang taunya cuman akan berkunjung ke 2 kota, yakni Hong Kong dan Macau, jadi kaget, karena emang gak ada sama sekali dalam itinerary perjalanan. Kami pun jelasin hal itu, tapi si guide ngotot bawa kami ke Shenzhen karena katanya mobilnya udah terlanjur disewa. Atu yang sedari tadi diam aja, langsung bilang "ayo mi deh, ikut saja sesuai yang travelnya atur". Yo wisss, ikuttt.... Maka dimulailah petualangan perjalanan penuh hikmah ini.


Hari Pertama

Waktu tempuh Hong Kong - Shenzhen hanya 1 jam dengan mobil. Kami akhirnya tiba di perbatasan. Paspor dicek, barang diperiksa lewat mesin scan. Masuk ke Shenzhen inj harus pake Visa juga dan berapa hari kita izin untuk tinggal ya harus sesuai dengan itu. Gak boleh lebih atau kurang.

Tas TUMI Hilang?

Sebuah kejadian heboh di perbatasan adalah... Tas ransel merk Tumi punya Atu yang sejak dari Makassar dibawa oleh Nadhif tiba-tiba hilang! Bukan karena isinya yang cuman baju ganti, pampers dan alat mandinya Pica, tapi karena harga tasnya, hahaha... πŸ˜…

Atu marahin Nadhif yang teledor dan saya pun jadi panik, karena menurut Kak Shany dan Ibu Wirnah (agen travel dan teman seperjalanan kami), mereka masih lihat Nadhif manggul ransel itu waktu lagi ngantri di loket pemeriksaan paspor. Petugas yang bahasa Inggrisnya terbata-bata pun sempat marah waktu saya ngotot mencari di area depan mesin scan barang. Dan ternyata bener juga! Tas itu nyangkut di dalam mesin scan. Tapi koq bisa gak terlihat di layar monitornya ya?? Hmm, whatever lah yang penting tasnya udah ketemu.

Di perbatasan Kota Shenzhen kami disambut sama guide lokal, Acin namanya. Orangnya ramah, banyak bicara, dan lincah. Ciri fisiknya yang khas adalah rambutnya yang seperti mangkok, hihi... Dia fasih banget berbahasa Indonesia. Katanya sih dia pernah kuliah jurusan Bahasa Indonesia kurang lebih 2 tahun, makanya dia yang asli orang Shenzhen menguasai banget bahasa Indonesia, padahal belum pernah sama sekali ke Indonesia.

Guide kami, Acin, yang berbaju pink

Selama di bus, Acin jelasin tentang kota Shenzhen yang merupakan bagian dari negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Kotanya baru berusia 38 tahun tapi udah jadi salah satu kota terbesar karena perkembangannya yang pesat. Shenzhen termasuk kota industri karena banyaknya pabrik yang berdiri di kota ini. Beberapa merk produk elektronik seperti HP, juga buatan Shenzhen.

Tujuan pertama kami di Shenzhen adalah makan malam. Kami langsung dibawa ke sebuah restoran yang menyajikan makanan halal. Ada sayuran, daging sapi, ayam dan sebagainya. Tapi kami tetap buka bekal, ikan teri! Aah, nyammannaaa... πŸ˜‹

Makan malam di resto halal

Setelah makan, Acin membawa kami shopping di Louhu. Sejak di bus acin udah cerita tentang Louhu yang katanya seperti Tanah Abang-nya Jakarta, menjual produk KW murah meriah. Berbagai macam merk ada, seperti LV, Prada, Kate Spade dan sebagainya, tapi sebagian besar KW. Kita harus pintar menawar harga. Tiba di Louhu, ternyata malnya sekelas Karebosi Link kalo di Makassar. Alifah dan Nadhif langsung drop lihat yang kayak gini, hahaaa... Lucunya lagi karena ada beberapa merk yang dipaksain, seperti Calvin Klein jadi Calvin Kulun, YSL jadi Y8L, LV jadi LW... Apa coba?! Wakwkakwkk.. πŸ˜†Akhirnya kami cuman dapat capeknya doank di sini. Oya, dari sini saya jadi tau kalo ternyata mata uang yang digunakan di China Darataan, termasuk Shenzhen, adalah Yuan dengan kurs Rp.2.000 dan gak semua toko mau terima dibayat pake Dollar Hong Kong.

Dari Louhu kami diantar ke hotel. Alifah (dan saya juga sih sebenarnya) udah gelisah karena belum beli kartu untuk internet. Acin pun jelasin kalo mending pake wifi selama di hotel aja, soalnya kalo beli kartu ribet, mesti registrasi dan sebagainya. Kami pun pasrah menunggu tiba di hotel.

Hotel kami namanya Royal Century. Hotel bintang 5 yang terletak agak jauh dari pusat kota, menurut Acin. Waktu check in, wajah kami harus difoto dulu, disesuaikan dengan foto di paspor. Ketat banget ya... Usia hotelnya mungkin udah lebih dari 10 tahun, bisa ditebak dari interior kamarnya. Kami dapat 2 kamar di lantai yang sama. 1 buat saya dan Atu, 1-nya lagi buat anak-anak.

Hotel Royal Century

Sejak baru tiba di hotel, kami udah masukin password wifinya, udah berhasil masuk tapi herannya koq aplikasi yang ada di HP saya ya? Notifikasi dari beberapa aplikasi, seperti Whatsapp, Instagram dan lain-lain pada muncul tapi begitu diklik aplikasinya malah gak loading gitu. Bolak-balik kami nanya ke pihak hotel, tapi dasar mereka juga kurang ngerti bahasa Inggris jadinya makin kesel aja saya dan Alifah terutama.

Hari Kedua

Pagi hari saat sarapan, saya pun usulin ke Kak Shany untuk segera angkat kaki dari kota ini. Soalnya semalam udah BT dibawa ke Louhu yang gak banget buat kami, ditambah lagi akses internet gak bisa. Tapi katanya berdasarkan info dari  pihak travel kami gak bisa keluar dari Shenzhen sesuai aturan pemerintah setempat bahwa kalo udah izin tinggal selama 2 hari ya harus 2 hari tinggalnya. Hal ini diperjelas lagi sama Acin. Uhuk!


Internet oh Internet...

Kami pun nanya, koq akses internet susah masuk? Eh, masuk sih, tapi  aplikasinya gak bisa terbuka. Dan ternyata oh ternyata sodara-sodara sebangsa setanah air... Semua aplikasi itu diblokir oleh pemerintah RRT! Makanya gak bisa terbuka. Oalaaah, pantesan! Acin pun jelasin kalo pemerintah mereka gak mau anak-anak muda RRT, khususnya China Daratan, jadi terpengaruh efek buruk dari globalisasi yang dibawa oleh media sosial, khususnya buat para remaja. Maklum, negara dengan paham komunis. Dari sini saya dapat tambahan pengetahuan lagi.

Shenzhen city tour di hari ke-2 padat jadwalnya. Diawali dengan kunjungan ke pabrik perhiasan lalu museum mineral. Eits, jangan tertipu dengan namanya ya. Yang bener tuh toko perhiasan dan toko obat! Wakwakk πŸ˜† dan ini nih yang namanya "kena deh!". Iya kena, soalnya tanpa perencaan sebelumnya, kami akhirnya harus ngeluarin duit Rp.1.600.000 buat beli obat untuk Alifah! Obat apakah itu? Ada deh... 😜 Yang pasti saat di museum mineral itu kita diperiksa oleh Shinsei, yang katanya Professor, dan langsung diberi resep. Trus, kenapa akhirnya kami beli? Karena apa yang Shinseinya bilang cocok sama yang selama ini Alifah keluhkan. Jadinya kami yakin aja untuk membeli.

The Mix C Mall
Seni menggunting di Splendid China
Spot foto keren di Splendid China
Cafe di Splendid China
Dong Men Pedestrian Street

Baca juga : MY Trip 2016

Setelah itu kami dibawa ke mal The Mix C, mal terbesar di Shenzhen dengan banyak tenant branded. Di sini kami pun merasa hiduuuppp... Hahha. Akses internet yang PHP pun terlupakan. Dan akhirnya saya sadar, dengan gak bisanya akses ke sosia media ternyata liburan saya jadi gak ada gangguan, yang biasanya dikit-dikit nengok HP. Kali ini tenang dan bebas. Pegang HP hanya pada saat pengen foto dan syuting doank.

Jelang sore kami ke Splendid China Folk Park. Area seluas kurleb 30 hektar yang menampilkan kebudayaan China. Di sini ada panggung pertunjukan setiap 2X sehari, yakni pada sore dan malam hari. Kami nontonnya sore.  Sambil menunggu pertunjukannya dimulai, kami ngopi dulu. Cafenya keren deh, unik bernuansa tradisional. Menunya pun enak-enak. Hanya saja harganya yang gak enak! Hihii...

Pertunjukan dimulai jam 5 sore. Penonton dipanggil menggunakan pengeras suara. Jadi kita yang lagi asyik ngopi langsung bergegas ke gedung pertunjukan. Panggungnya emang spektakuler, bisa berjalan, terbuka, bahkan keluar air seperti air mancur dari bawahnya.

Sayang banget kami gak sempat keliling seluruh area Splendid China yang luas itu. Padahal spot foto cantik banyak banget di sana... Tapi kami menemukan sebuah stand yang unik, yakni seorang pekerja seni menggunting kertas yang hasilnya mirip banget dengan siluet orang yang dicontohinya. Saya sekeluarga langsung minta diguntingin siluet kami dan Nadhif yang paling mirip, hihi..

Dari Splendid China kami menuju ke Dong Men Pedestrian Street, pusat perbelanjaan yang berupa mal, toko dan pedagang kaki lima. Ruame banget tempatnya tapi asyik. Di mal, saya ketemu sama toko NoMe asal Swedia, sekelas  Usupso dan Miniso dari Jepang, yang menjual pernak-penik murah meriah. Saya pun dapat kacamata keren seharga 19,90 Yuan alias Rp.40.000!  Kusenaaanggg...



Hari Ketiga

Di hari ketiga ini waktunya kami ke Macau. Sejak lepas Subuh, bareng udah saya persiapkan dengan rapi. Jam 6 pagi morning call berbunyi dan kami pun bersiap-siap.

Kenapa sepagi itu?
Karena ferry yang mengantar kami ke Macau akan berangkat jam 8 pagi. Sedangkan di pagi hari jalanan Kota Shenzhen agak macet karena penduduknya pada pergi kerja dan sekolah. Ya, sama lah ya di kota-kota besar lainnya.

No Expire Date

Berhubung kami mesti check out dari hotel pagi banget, sarapan pun gak sempat. Tapi untungnya pihak hotel berbaik hati ngasiin kami breakfast box. Isinya telur rebus, roti, apel dan susu dalam kemasan.

Uniknya di RRT karena tanggal yang tertera di kemasan makanan atau minuman adalah tanggal produksi, bukan tanggal kedaluarsa, haha... Dan batas kedaluarsa makanan dan minuman dalam kemasan itu terhitung 1 tahun dari tanggal produksi. Oalaah... Rempong yes ngitungnya! 😜

Breakfast box dari hotel
Pelabuhan Ferry Shenzhen
Pica dan pemandangan dari atas ferry

Baca juga : Pertama Kali Pica Ke Luar Negeri

Jam 7 lebih dikit kami udah tiba di pelabuhan ferrynya Shenzhen. Cukup luas, bersih dan sejuk banget. Yang ngantri juga pada rapi. Dan terutama jadwal keberangkatan ferrynya on time!

Waktu tempuh dari Shenzhen ke Macau dengan ferry hanya 1 jam. Dan pelayarannya tenang banget, gak pake goyang, gak ada ombaT dan gak bikin mabuT. Hihiii... πŸ˜†

Btw, ternyata setelah 2 hari di Shenzhen terasa menyenangkan juga. Bener juga pikiranku "kalo bukan sekarang perginya, kapan lagi bisa ke Shenzhen?". Selain itu yang sempat KZL karena aplikasi medsos yang diblokir dan jadinya gak bisa eksis, udah gak kepikiran lagi. Yang ada jadinya bisa fokus dengan liburannya. Sooo, semuanya diakhiri dengan Alhamdulillah πŸ™πŸ˜‰




19 komentar on "2 Hari Tanpa MedSos di SHENZHEN"
  1. Hahaha ini mi kalau manusia zaman now, kehilangan akses internet langsung panik dan bete.

    Untungnya saya sudah terbiasa hidup tanpa internet. Kalau masuk ke kabupaten di Papua, tidak ada pilihan lain selain puasa internet.

    Kadang juga kalau liburan berdua, kita komit nda buka HP kalau nda urgent.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, soalnya mau posting-posting di ig story hahaa

      Hapus
  2. Aneh juga ya kak, kok tasnya bisa nyangkut di tempat scan tapi syukurlah bisa ketemu.

    Hihi ada pelajaran juga yah yang bisa dipetik selama di shenzhen. Jadi fokus liburan tanpa medsos selama 2 hari. So keren nih pemerintahnya, sampai blokir gitu. Jadi oran2 di shenzhen gak ada yang main medsos ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka ada aplikasi khusus yang serupa medsos yang kita gunakan, tapi hanya bisa diakses di negara RRT saja.

      Hapus
  3. Saya juga suka kalau liburan tanpa internet, baru terasa liburannya. Kalaupun harus ada internet sekadar main game ataupun share sesuatu. Tidak harus berbalasan chat apalagi kalau kerjaan. Yang ada malah liburan rasa kerjaan ini mcam ke KL lalu. Hiks..hiks..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ya, harus sesekali detox medsos terutama saat lagi liburan.

      Hapus
  4. Wah seru juga perjalanannya kak, btw baik di china maupun hong kong kayaknya memang diblokir semua media sosial tapi biasanya untuk akali itu teman teman yang pernah kesana pakai VPN di hpnya atau di laptopnya jadi tetap bisa akses media sosial meskipun ada keterbatasan..

    BalasHapus
  5. Wah seru juga perjalanannya kak, btw baik di china maupun hong kong kayaknya memang diblokir semua media sosial tapi biasanya untuk akali itu teman teman yang pernah kesana pakai VPN di hpnya atau di laptopnya jadi tetap bisa akses media sosial meskipun ada keterbatasan akses..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya... Dan saya baru tau tentang VPN ini setelah udah balik ke Indonesia, hihi

      Hapus
  6. Biasa klo ke Ln pasti bawa makanan dr indo jg yah, hahaha. Sy jg pernah bawa buar ke sg trus bawa indomie sndiri sm sambel jg, jadinya malah masak2 sndiri dahh..

    Utk akses internet org2 sana memang agak tertutup yah dr modernisasi dunia luar hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya bawa makanan itu lebih penting buat suamiku soalnya dia orangnya gak gampang soal makanan, jadi biasanya bawa sambel teri kacang, abon dan semacamnya.
      Kalo saya sendiri sih gak masalah makan apa aja. Malah saya suka cobain local food.

      Hapus
  7. Kehilangan akses internet membuat liburan jadi fokus ya kak. Ada hikmah dibalik semua kejadian. Next time mau bawa "bekal" juga deh supaya tetap terasa di daerah sendiri walaupun lagi liburan hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penting itu bekal, apalagi kalo di negara yang mayoritas non muslim dan kalo memang orangnya pemilih makanan.
      Kalo saya sih apa aja diembat, asal halalan toyyiban .Hehe..

      Hapus
  8. Tas Tumi ilang, duh sayang banget cyiin kalau sampai ilang. Harga tas itu bisa buat beli tiket liburan domestik ����. Btw kalau liburan pakai tour and travel tuh aku kurang suka, rasanya kurang bebas. Belanjapun kadang jadi terpaksa karena udah dianter ke sana wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah tasnya cuman nyangkut di mesin scan barang.
      Saya pun sukanya jalan sendiri sih, cuman kemarin ini ditawarin harga murah banget, HK + Macau + tiket Disneyland hanya 6juta. Eh malah dapat + Shenzhen pula nih, hehe.

      Hapus
  9. Kalo di Indonesia keadaannya seperti kota shenzhen, pasti pada heboh nih netijen hahaha.

    Tapi kotanya keren yah, ketat dan tegas banget pemerintahan mereka (sisi positivenya).

    Btw, saya juga kalo ke desa jarang sekali pegang hp. Apalagi kalokalo harus ikut pemberdayaan lagi di Pulau. Deh 4 hari tanpa sosmed + hpnya. Fokus sama warga dan kegiatan saja. Nanti kalo pulang hpku baru sya nyalakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo negara yang menganut sistem pemerintahan komunis pasti ketat dan tegas, contohnya ya RRT dan Korea Utara.

      Hapus
  10. jadi malah seru yah kak.. bisa menikmati liburan tanpa gangguan hape dan media sosial. bisa lebih menikmati kebersamaan dengan keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener. Selain itu HP jadi gak cepat lobet, haha..

      Hapus

Kalau kamu suka dengan tulisan ini silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.