Pertama Kali Faizah Mudik

Minggu, Mei 20, 2018
Assalamu alaikum, manteman.

Salah satu tradisi menjelang bulan Ramadhan yang dilakukan keluarga kami adalah mudik ke kampung halaman Atu yaitu Palopo, untuk nyekar makam. Ada 2 makam yang dikunjungi, yakni makam Bau Djemma atau yang kami sebut Puang Bau, atunya Atu dan makam Opu Datu, neneknya Atu.

Di tahun ini saya baru berkesempatan ikut mudik lagi setelah kurang lebih 7 tahun gak mudik. Nah, di tahun ini Faizah udah 3 tahun, udah cukup gede untuk dibawa berkendara dengan mobil jarak jauh dan memakan waktu kurang lebih 7 jam!


Kami berangkat hari Sabtu tanggal 5 Mei 2018 lalu, dengan 2 mobil. Semobil kami ber-5, yakni saya, Faizah, Nadhif, Atu dan seorang driver, sedangkan di mobil satunya lagi diisi sama Alifah, mertua, ipar dan ponakan. Gak terburu-buru sih berangkatnya. Jam 9 pagi kami baru cuzzz..

Faizah senang banget ikut mudik. Ini karena sebelumnya saya udah cerita tentang perjalanan jauh yang akan kami lalui dan kita bakal ngapain aja di Palopo nanti, makanya dia senang. Awalnya dia nanya-nanya "sudah mau sampai?", "masih jauh ini?" "mana mi Paloponya?", tapi mungkin dia capek sendiri nanya melulu, akhirnya dinikmati aja perjalanannya dengan pemandangan indah, sambil nyanyi lagu Pemandangan.

🎶 Memandang alam dari atas bukit,
Sejauh pandang ku lepaskan
... 🎶

Faizah dalam perjalanan
Pemandangan indah yang kani lihat dalam perjalanan

Baca juga : Traveling

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan kami singgah makan siang di Kota Pare-pare, tepatnya di resto Sedap yang menyediakan seafood dengan sambel yang endes. Faizah makannya lahap. Sebenarnya sih bukan karena suka makan tapi karena ada Atu Iwan, kakaknya Atu, yang paling dia takuti hehe... 😝

Setelah maksi, perjalanan dilanjutkan kembali menuju ke Palopo. Baidewei, resto Sedap ini adalah resto langganan Petta, mertua saya sejak lama. Saking udah lamanya nih resto, interior dan furniture-nya udah tergolong kuno, bahkan musik yang diputar pun lagu-lagu yang hits awal tahun '80an, haha.. Yang paling lucu sewaktu saya ke toilet, di pintu toilet tertempel stiker jadul! Haha... 😆

Bandung? Bukan! Ini di Pare-pare 😁
Stiker jadoel di pintu toilet resto Sedap 😀



Tepat selepas Maghrib kami pun tiba di Palopo. Suasananya meriah dengan lampu-lampu di pinggir jalan, ada banyak cafe dan jalanan tampak ramai. Beda banget sewaktu saya ke sana bertahun-tahun lalu.

Hotel Agro Wisata

Mobil langsung mengarah ke hotel Agro Wisata. Teringat waktu saya terakhir ke Palopo tahun 2011 lalu, kami nginap di sini juga. Waktu itu Alifah dan Nadhif masih usia SD. Mereka mandi di sungai Latuppa yang ada di belakang hotel. Asyiiikkk... 😍

Kenangan di sungai Latuppa tahun 2011

Hotel Agro Wisata terletak di daerah Latuppa. Konsepnya resort dengan taman yang luas di tengah dan kamar-kamar di sisi kiri kanan taman. Beragam pohon buah ada di sii, termasuk pohon Durian. Ada waterboomnya yang terbuka untuk umum. Kamarnya pun bersih terawat.

Saat kami tiba, langsung disambut dengan durian dan rambutan yang dibawa oleh keluarganya Atu yang tinggal dI Palopo. Faizah lahap banget makan durian. Doyan dia, hihiii... Sedangkan Alifah langsung kabur ke kamar, gak mau keluar-keluar lagi saking gak sukanya dia sama aroma durian, haha...

Pesta dureeennn
Hotel Agro Wisata Palopo
Suasana hotel di pagi hari

Hujan deras turun sewaktu subuh. Saya langsung mikir, "alamat gagal ke sungai nih...", Faizah pun udah saya bilangin kalo air sungainya keruh, gak bisa berenang. Tapi begitu kami menuju restoran untuk sarapan, kami harus melewati waterboomnya hotel yang kelihatan dari balik pagar dan emang menggoda banget untuk direnangi #hallah. Akhirnya setelah sarapan, Atu langsung bawa Faizah ke waterboom. Walopun hanya pake kaos singlet dan legging, dia enjoy aja!

Faizah di waterboom Agro Wisata

Kompleks Makam Datu Luwu

Jam 9 kami check out dari hotel untuk nyekar di Lokkoe. Jaraknya kurang lebih 10 menit dari hotel. Lokkoe adalah kompleks makam raja-raja Luwu yang dibangun sejak tahun 1605. Khusus makam raja ditempatkan di dalam sebuah bangunan berbentuk piramid, termasuk mertuaku, Andi Alamsyah Bau Djemma - Datu Luwu ke-36, dan yang terakhir dimakamkan di situ adalah neneknya Atu, Andi Tenri Padang Opu Datu - Datu Luwu ke-37. Yang dimakamkan di luar bangunan tersebut adalah turunan dan keluarga dari para Datu.
Awalnya Faizah tampak bingung waktu masuk ke dalam Lokkoe karena harus buka sendal, padahal di dalam berupa tanah, soalnya saya pasti marahin dia kalo injak tanah atau turun dari teras gak pake sendal, hehe.. Selain itu dia juga gak terlalu familiar dengan tradisi nyekar. Kalo pun pergi nyekar, yang didatangin hanya kuburannya Opa Tua alias Opa Maronie, di Taman Makam Pahlawan yang rapi dan teratur, tanpa harus nyeker dan tabur bunga, hehe...

Di depan kompleks makam Lokkoe
Makam nenek mertua, Andi Tenri Padang Opu Datu, Datu Luwu ke-37
Makam ayah mertua, Andi Alamsyah Djemma Barue - Datu Luwu ke-36
Bangunan berbentuk piramid itulah disebut Lokkoe

Dari Lokkoe perjalanan lantas diteruskan ke Gunung Jati. Sebuah kawasan pegunungan yang merupakan tanah keluarga. Atu dan Nadhif naik sampai ke atas mendampingi tim dari Kantor Pertanahan Luwu yang datang mengukur kembali lahan kami. Tapi walopun gak sampai di atas, Faizah senang banget lihat banyak pohon durian, rambutan, belimbing dan sebagainya.

Di Gunung Jati

Karena cuacanya cukup panas, kami pun pengen cari yang dingin-dingin, dan cafe Rabbids jadi tujuan kami. Cafe ini terletak di Jl. Andi Djemma (yes you're right, itu nama kakeknya Atu). Kenapa kami memilih cafe ini? Karena kepo aja dulunya Arie, adenya Ika iparku, yang merintis pembukaan cafe ini, makanya saya dan Alifah jadi pengen tau seperti apa cafenya. Konsep cafenya seperti cafe kekinian, minimalis industrial. Lebih lengkapnya nanti akan saya tulis reviewnya.

Di Rabbids Caf

Baca juga : Menikmati Kopi Dingin di Tanamera

Jam 12 teng, waktunya makan siang, kami diundang makan kapurung di rumah salah satu keluarganya Atu. Kapurungnya pake daging lho... Baru sekali ini saya makan kapurung pake daging. Rasanya? Berasa makan sop brenabon! Haha.. Sayangnya saya lupa foto saking lahapnya. Faizah sendiri tentu saja gak makan kapurung. Makannya nasi + ayam, favoritnya.

Setelah makan siang dan ramah tamah, kami pun balik ke Makassar. Pada saat tiba waktu makan malam, kami singgah di resto Asia di Pare-pare yang terkenal enak Nasi Gorengnya, dan sepertinya resto Asia ini bakal jadi favoritnya Atu kalo ke luar kota lagi.

Setelah makan, kami singgah ke Carlos (toko khusus produk Malaysia) untuk beli sapu ijuk dari Malaysia yang emang terbukti kuat. Ada kejadian lucu di sini... Hehe. Rencana cuman beli sapu, akhirnya mesti bawa pulang kursi berwarna pink, karena Faizah langsung ambil dengan kalimat "oh, ini mi kursi yang saya cari-cari" hahah..

Faizah & kursi pink

Akhirnya kami berangkat kembali ke Makassar jam 9 malam. Selama perjalanan Faizah tertidur, tentunya dengan tubuh yang mungkin lelah tapi hati senang. Pengalaman mudik ke Palopo sepertinya membekas banget dalam ingatannya. Sampai sekarang pun masih sering dia ceritakan kembali pengalamannya selama di sana, terutama sewaktu dia berenang di waterboom. Bahkan kadang dia bilang "Mau ka ke Palopo lagi sama Atu", hehe... Silahkan deh nak, Mami dan kakak-kakak tahun depan aja lagi, soalnya pantat kami masih terasa teposss ingat perjalanannya!