Sabtu, Maret 31, 2018

MEKKAH & Keinginan Untuk Kembali


Assalamu alaikum, manteman 😊

Buat umat muslim yang beriman, Mekkah pasti jadi tujuan utama perjalanan, khususnya bagi yang belum pernah ke sana. Walopun bukan tujuan yang utama tapi paling tidak ada di wish list. Namanya juga untuk ibadah, ya gak?

Sama halnya seperti saya yang sering dapat pertanyaan dari orang-orang, "kenapa belum umroh?" atau "ke luar negeri terus... Kapan ke tanah suci?", tapi semua pertanyaan itu hanya saya anggap sebagai angin lalu. Ya, bisa jadi juga karena emang belum ada panggilan dari Allah. Lalu suatu hari Mami bilang gini, "pergi memang mo ko ke tanah suci, mumpung masih kuat. Kalo sudah tua itu bisa setengah mati ko di sana kalo tawaf dan sa'i". Kalimat ini yang terus saya ingat dan jadi kepengen banget ke sana... Saya jadi takut tua dan gak kuat lagi sebelum ke sana πŸ˜•

Sampai akhirnya Atu berniat memberangkatkan Papi untuk umroh, saya pun meminta untuk ikut juga dengan niat pengen ibadah skaligus temani Papi di sana. Dan Alhamdulillah Allah melapangkan jalanku πŸ˜‡


Nah, lanjut lagi cerita perjalanan umroh saya di tanggal 3 - 14 Maret lalu, kali ini tentang pengalaman 5 hari berada di kota suci Mekkah, setelah dari Medinah.

Kami (saya dan rombongan jamaah unroh ZNH Tour & Travel) diberangkatkan ke Kota Mekkah pada tanggal 8 Maret 2018 setelah sebelumnya berada di Medinah selama 5 hari. Setelah Dhuhur, bus pun membawa kami menempuh 6 jam perjalanan. 

Di sepanjang jalan terlihat padang tandus dan bukit berbatu, tapi ada juga bukit-bukit yang sudah mulai agak kehijauan ditumbuhi lumut. Lalu dijelaskan oleh salah satu ustadz pembimbing kami yakni ustadz Ridwan Adrian dari ZNH Tour & Travel, bahwa salah satu tanda kiamat sudah dekat adalah suburnya jazirah Arab. Innalillahi wa innailaihi rojiun.

Bukit di antara Medinah - Mekkah
*dokumentasi pribadi


Sore hari, bus kami singgah sejenak di sebuah rest area, yang saya gak tau itu di daerah mana. Sebuah tempat makan yang tidak begitu besar tapi terlihat cantik karena di depannya teratur rapi kursi dan meja dari plastik. Di sekeliling rest area hanya padang tandus dan ketika senja tiba, matahari terbenam bisa kita saksikan di sini. Saya dan Papi pesan kopi susu panas dan Indomie ...seleraku...🎢 Hahaha πŸ˜‹

Di rest area
*dokumentasi pribadi

Selain bus kami yang singgah, ada banyak bus lainnya yang berisi jamaah unroh tidak hanya dari Indonesia tapi juga dari negara Timur Tengah lainnya seperti Pakistan dan Turki. Suasana rest area ini rame banget. Sempat saya dan seorang teman berwudhu untuk sholat Maghrib di sini tapi ternyata oleh pihak travel, kami diminta untuk segera naik ke bus karena akan berangkat ke Mekkah dan menunaikan sholat Maghrib di Masjidil Haram saja.
Kurang lebih 1 jam dari rest area, kami pun tiba di Kota Mekkah. Bus langsung menurunkan kami di depan hotel Dar Al Khalil Al Rushad yang terletak di sebuah jalan yang tidak begitu besar. Kami pun berkumpul di lobby untuk pembagian kunci kamar. Saya kebagian kamar 933 dan teman sekamar yang sama dengan sewaktu di Medinah.

Kamar hotelnya seperti kamar hotel pada umumnya. Sekamar terdiri dari 4 ranjang kecil, lemari, kulkas dan ada wastafel di dalam kamar dekat pintu masuk. Toiletnya bersih, ada wastafel juga. Di area shower lantainya beda, seperti bak gitu. Yang kami suka dari hotel ini karena toilet hanya digunakan oleh kami berempat sekamar, beda dengan sewaktu di Medinah yang toiletnya harus berbagi 8 orang, hihihi...

Dar Al Khalil Al Roushad Hotel
*dokumentasi pribadi

Hotel ini terdiri dari 12 lantai. Sebenarnya liftnya ada 4 di area lobby dan 1 lift service yang agak tersembunyi, tapi karena jumlah tamu hotel yang banyak banget jadinya kami mesti ngantri lama setiap kali mau naik atau turun, terutama saat jam makan. Pfiuh...

Makannya pake system catering. Bukan hotel yang sediain makanan tapi pake catering dan tersaji secara prasmanan. Jadi ada beberapa travel yang nginap di hotel ini, ya segitu juga jumlah catering yang sediain makanan untuk jamaah masing-masing travel. Catering yang dipake oleh travel kami adalah milik orang Indonesia, jadi makanannya pun menu Indonesia yang semuanya cocok aja tuh di lidahku. Alhamdulillah.
Ok, lanjut cerita tentang ibadah umroh...

Setelah bersih-bersih sedikit di kamar masing-masing, kami lalu kembali berkumpul di lobby untuk menuju ke Masjidil Haram, menunaikan ibadah umroh yang pertama. Dari hotel, kami berjalan kaki ke Masjidil Haram yang jaraknya kurang lebih 400 meter dari hotel. Para pendamping dari pihak travel sudah mengingatkan sejak manasik umroh di Makassar bahwa medan di Kota Mekkah sedikit lebih berat dengan tanah yang agak berbukit, banyak tanjakan. Selain itu kami diminta untuk berjalan sambil pegangan tangan biar gak terpisah. Patokan untuk masuk dan keluar dari Masjidil Haram adalah gedung jam alias Clock Tower.

Masuk ke Masjidil Haram, kami langsung tunaikan dulu sholat Isya dan Maghrib, setelah itu kami pun berjalan menuju ke Ka'bah untuk pelaksanaan umroh. Sewaktu berjalan ke Ka'bah ini jantungku rasanya berdegub kencang, seperti anak gadis yang mau ketemu pacar, hihiii.. 😍Etapi emang bener lho, perasaan campur aduk antara senang, grogi dan haru bercampur jadi satu, hingga akhirnya Ka'bah di depan mata. Masya Allah!!!

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda tentang berkah yang dilimpahkan Allah SWT kepada Baitulharam, “Dalam setiap siang dan malam hari, Allah SWT menurunkan 120 rahmat ke Baitullah ini. 60 untuk orang yang tawaf, 40 untuk orang yang melakukan salat, dan 20 untuk orang yang menyaksikan.”. Alhamdulillah buat yang mendapatkannya.

Ka'bah
*dokumentasi pribadi
Pilar-pilar dalam Masjidil Haram
*dokumentasi pribadi
Pusat informasi di Masjidil Haram
*dokumentasi pribadi
Menara-menara Masjidil Haram
*dokumentasi pribadi

Kami lantas tawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali putaran, setelahnya sholat di belakang Maqam Ibrahim (bongkahan batu dengan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim yang digunakan saat beliau membangun Ka'bah). Lalu meminum air Zam-zam dari galon-galon yang banyak terdapat di dekat tempat kami sholat. Kemudian kami menuju ke bukit Shofa untuk melakukan Sa'i atau berjalan di antara bukit Shofa dan bukit Marwah sebanyak 7 kali. Dan sebagai tahapan ibadah umroh yang terakhir yang ber-tahallul atau mencukur atau menggunting sejumput rambut. Harunya rasa hati ini begitu semua tahapan telah selesai.

Selesai tawaf umroh pertama

Umroh pertama ini dilaksanakan malam hari, jadi gak terasa panasnya. Pada umroh yang kedua dilaksanakan siang hari, bawah panas terik matahari dan suhu 36 derajat celcius. Silaunya itu lho... 😎 Tapi terasa berat hanya saat Tawaf aja. Sewaktu Sa'i udah gak terasa lagi karena lantai di dalam Masjidil Haram selalu terasa sejuk bahkan dingiiin... Alhamdulillah.

Umroh kedua yang saya dan Papi laksanakan adalah badal umroh kami buat Opa Maronie dan Oma Deetje, jadi walopun waktu Tawaf terasa silau dan kepanasan tapi kami tetap semangat. Semoga pahala umroh yang kami jalankan terkirim buat mereka berdua. Aamiiin πŸ™

Umroh kedua untuk Opa & Oma

Baca juga : Restu Ortu

Usai umroh yang kedua ini, Papi lantas mengajak saya untuk sholat di Hijir Ismail. Hijir Ismail sebenarnya adalah bagian dari Ka'bah. Al-Hijr berarti bagian berbatu, yaitu sebuah bangunan terbuka berbentuk setengah lingkaran yang terletak antara dinding Ka'bah bagian utara dan tembok rendah yang ada di hadapannya. Al-Hijr ini bukan makam Nabi Ismail. Penamaan Hijir Ismail pun tidak memilik dasar, karena penamaan ini baru ada saat pemugaran di zaman Rasulullah Muhammad SAW, jauh setelah zaman Nabi Ismail.

Karena termasuk bagian dari Ka'bah yang mulia, maka Hijir Ismail juga memiliki fadhilah atau keutamaan seperti Ka'bah, makanya banyak jamaah yang berkeinginan besar untuk bisa sholat di situ. Setelah masuk dengan susah payah, akhirnya kami bisa sholat dan bermunajat di tempat itu. Sholat dan berdoanya harus secara bergantian biar lebih leluasa karena ada yang jagain.

Papi sholat di Hijir Ismail
Bermunajat di Ka'bah
Alhamdulillah

Kalo manteman sudah baca tulisan saya sebelumnya tentang ibadah umroh ini, pasti udah tau betapa mellownya saya selama berada di sana. Sering banget dalam sholat tetiba saya nangis, atau pas selesai sholat teringat Atu dan anak-anak, tapi lebih sering sih saya nangisnya karena teringat dosa-dosa yang pernah saya lakukan, termasuk dosa karena sering mengabaikan kewajiban sholat. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya. Aamiiin πŸ™πŸ™πŸ™

Untuk pertama kalinya di kota suci ini saya menunaikan Sholat Jum'at. Tadinya sempat ragu, apa perempuan bisa sholat Jum'at? Setelah dijelaskan oleh ustadz pendamping, kami pun bergegas ke mesjid. Ternyata di hari Jum'at jamaah Masjidil Haram lebih banyak lagi.. Kami kebagian sholat di pelataran bangunan baru Masjidil Haram. Bayangin aja, betapa luasnya Masjidil Haram tapi tetap saja jamaah tumpah ruah. Masya Allah.

Saat Sholat Jum'at inilah saya ketemu dengan seorang anak perempuan cantik yang terlihat keren dengan kacamata model aviator yang dipakainya. Langsung aja saya minta izin ke mamanya untuk foto bareng anak itu, Alhamdulillah mamanya mengizinkan dan anak itu tampak luwes berfoto. Foto itu lalu saya kirim via WA ke grup keluarga untuk diperlihatkan ke Faizah. Aauh... Rupanya dia cembokur lihat fotoku, hihi.. Kasihan anak Mami. Sejak itu, setiap kali video call ke Faizah pasti dia selalu teriak "Mami jangan sayang anak perempuan! Sayang Pica saja!!" haha.. Anak perempuan itu maksudnya si anak cantik yang saya temui itu.

Ramainya jamaah pulang Sholat Jum'at
*dokumentasi pribadi
Anak perempuan cantik di Mekkah

Oya, selama di Mekkah kami juga jalan-jalan dan shopping, teteup donk yaa... Namanya juga buibu, hehe. Untuk city tournya kami dibawa ke tempat-tempat ini :

Jabal Tsur
Tempat Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di sebuah gua yang bernama Ghar Al-Thawr (Gua Banteng) untuk menghindari kejaran kaum Quraisy saat akan hijrah ke Medinah.

Jabal Tsur

Ketika Abu Bakar mulai khawatir, Rasulullah berkata "La tahzan innalloha ma'ana" (jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita). Lalu datanglah laba-laba membuat sarang di pintu gua dan burung-burung bersarang di dekat situ. Kaum Quraisy pun lantas pergi karena berfikir secara logika, tidak mungkin ada orang di dalam gua jika ada sarang laba-laba yang masih utuh di mulut gua.

Jabal Rahmah
Jabal Rahmah adalah sebuah gunung kecil yang terletak di Padang Arafah. Walopun tidak disebutkan dalam Al Qur'an dan hadits, tapi tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah dibuang dari surga dan terpisah selama 200 tahun.

Ramainya Jabal Rahmah

Banyak orang yang melakukan bid'ah di Jabal Rahmah ini seperti wukuf dan menuliskan nama pasangan di tugu yang terpancang di sana.

Peternakan Onta
Inilah pertama kalinya saya melihat langsung hewan Onta. Peternakannya terdapat di Hudaibiyah. Bukan seperti ranch atau peternakan kuda, hanya berupa padang tandus yang gersang. Onta dibiarkan berkeliaran dan berinteraksi langsung dengan pengunjung.

Hello Onta!

Selain itu ada juga dijual susu dan kencing Onta. Kencing Onta ini konon bisa menyembuhkan beberapa penyakit tapi masih menjadi perdebatan di kalangan ulama karena kencing pada umumnya adalah hadats besar. Kalo saya pribadi sih jijay aja minum kencing, mending minum susu, hehe... Apalagi waktu kami baru turun dari bus, bau kencing Onta tercium menyengat banget.

Kencing dan Susu Onta yang dijual
*dokumentasi pribadi

Ada yang lucu waktu di peternakan Onta ini. Saya langsung video call Faizah, ceritanya mau kasi lihat Onta ke dia. Eh.. Tau-taunya doi langsung ngambek, katanya "Pica juga mau ke situ lihat Onta!!" huhu... Maaf ya nak, nanti Insya Allah kita umroh bareng sekeluarga biar Faizah bisa lihat Onta juga. Aamiiin.

Faizah ngambek lihat Maminya ketemu Onta πŸ˜„

Baca juga : #gagalpaham Karena Faizah

Masjid Hudaibiyah
Masih ingat pelajaran Agama Islam jaman kita SD dulu tentang Perjanjian Hudaibiyah? Alhamdulillah dalam perjalanan umroh ini saya banyak sekali melihat peninggalan sejarah Islam, termasuk Masjid Hudaibiyah, tempat berlangsungnya perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah dengan kaum kafir Quraisy, walaupun sekarang hanya berupa puing bangunan berusia 1400 tahun.

Puing Masjid Hudaibiyah yang lama
Masjid Hudaibiyah yang baru
*dokumentasi pribadi

Di Masjid Hudaibiyah yang baru, yang terletak di depan puing bangunan masjid lama, adalah tempat mengambil miqot sebelum umroh atau haji. Masjidnya sederhana, tidak seperti di Masjid Bir Ali Medinah.

Jaffaria Squd
Untuk shopping, kami dibawa ke Jaffaria Squd. Sebuah pusat perbelanjaan yang rame dikunjungi oleh  sebagian besar jamaah umroh asal Indonesia. Berbagai macam barang dijual di sini, mulai dari produk fashion, kosmetik, souvenir hingga perabotan rumah tangga. Penjualnya bahkan ada yang bisa menyapa dalam bahasa Bugis, haha...

Shopping di Jaffaria
Supir taxinya mirip Keenan Pearce 😁

Kami ke Jaffaria menggunakan taxi. Yang lucu waktu pulang karena supir taxinya mirip Keenan Pearce, haha.. Tapi sayangnya doi malu difoto. Ah, sok ngartis loe! 😜

Sebenarnya di sekitar hotel dan jalan menuju ke Masjidil Haram ada banyak penjual seperti di Jaffaria itu, bahkan di hotel pun ada. Tapi konon di Jaffaria harganya bisa lebih murah apalagi kalo beli dalam jumlah banyak.

Jualan di sepanjang jalan menuju Masjidil Haram
Pasar kaget di sekitar Masjidil Haram
*dokumentasi pribadi
Jajan Martabak di kedai fasfood di sekitar Masjidil Haram

Selain ke tempat-tempat yang saya tuliskan di atas, ada beberapa tempat bersejarah dan penting juga yang ditunjukkan kepada kami tapi gak disinggahi, seperti tempat Wukuf jamaah haji di Arafah, Terowongan Mina, dan sebagainya. Dari perjalanan ini juga kami ditunjukkan rel kereta api cepat yang dibangun untuk jalur Mekkah - Medinah yang nantinya hanya berjarak 1 jam dengan kereta cepat itu. Wow!

Tenda-tenda wukuf di Padang Arafah
*dokumentasi pribadi
Rel kereta cepat melintasi Padang Arafah
*dokumentasi pribadi

Sehari sebelum kepulangan kami ke tanah air, kami melakukan Tawaf Wada atau tawaf perpisahan. Siapa yang gak sedih karena harus berpisah dengan tanah suci. Rasanya pengen ada perpanjangan waktu kayak pertandingan sepak bola, biar masih bisa berlama-lama di tanah haram ini. Tapi bersyukur karena kami sudah melaksanakan ibadah umroh dan ibadah lainnya yang semoga semuanya mendapat pahala dan ridho Allah SWT. Aamiiin πŸ™

Setelah Tawaf Wada

Tanggal 13 Maret 2018, berarti waktu kepulangan pun tiba. Sebelum menuju ke King Abudul Azis International Airport, kami singgah sejenak di Al Balad Chornich, sebuah kawasan pertokoan di Jeddah yang hampir semuanya bernama "murah", seperti Ali Murah, Gamal Murah dan lain-lain. Sepertinya ini trik dagang buat mancing jamaah Indonesia yang terkenal tukang belanja, hihiii...

Waktu yang dikasi oleh pihak travel untuk shopping di Al Balad hanya kurang lebih 1 jam. Emang gak butuh waktu lama sih karena belanja di sini ibaratnya "Lontar Real" plesetan dari Lontar Jumrah, wakwkak... Alias hanya untuk menghabiskan lembaran real yang ada di dompet. Yaiyalah, mending dihabisin dari pada dibawa pulang ke Indonesia lagi, nilai tukarnya lebih rendah.

Al Balad Chornich

Kami tiba di airport kurang lebih 5 jam sebelum keberangkatan. Harus cepat emang soalnya mengejar waktu sholat dan pihak travel juga harus mengurus bagasi para jamaah.

Perasaan saat kepulangan itu antara senang dan sedih. Senang karena akan bertemu lagi dengan keluarga di tanah air tapi juga sedih karena harus meninggalkan tanah suci, tempat Islam diturunkan Allah.

King Abdul Azis International Airport Jeddah

Sebuah renungan dari perjalanan ibadah umroh saya bahwa untuk bisa ke tanah suci itu bukan karena kedalaman agama atau banyaknya materi seseorang, tapi karena adanya panggilan dari Allah. Kita hanya bisa berniat dengan kuat untuk bisa ke sana dan Allah lah yang menentukan kapan waktu yang tepat buat kita beribadah di sana.

Dan setelah pulang dari tanah suci, sudah menjadi kewajiban kita untuk tetap istiqomah, terus memperdalam ilmu agama, menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.

"Ya Allah, panggil lagi aku ke tanah haramMu, beserta seluruh keluargaku, suami dan anak-anakku, untuk beribadah kepadaMu. 
Ya Allah, Engkaulah sang maha pembolak-balik hati, kumohon tetapkanlah imanku di dalam Islam, agama yang Engkau ridhoi.
Amiiin ya robbal alamiiin.."

Mekkah, kota yang tak pernah tidur




Posting Komentar