Jumat, Maret 30, 2018

MEDINAH yang Selalu Dirindukan


Assalamu alaikum, manteman 😊

Sesuai janji saya di postingan sebelumnya kalo saya akan menulis secara detail perjalanan ibadah umroh yang saya lakukan tanggal 3-14 Maret 2018, ini saya pengen cerita pengalaman saya selama berada di Kota Medinah.


King Abdul Azis International Airport, Jeddah

Setelah menempuh 6 jam perjalanan dari Jeddah, akhirnya jam 10 malam bus kami tiba di Medinah. Kami langsung dibawa ke Al Shourfah New Hotel. Hotel bintang 3 yang tampak mewah dengan tangga besar yang terletak di tengah lobby. Kami lalu diminta untuk berkumpul di restaurant yang ada di lantai 2, untuk mendengar pembagian kamar. Ketika itu semua jamaah gak ada yang saya kenal bahkan gak pernah saya lihat sebelumnya, kecuali pada waktu manasik umroh tempo hari. Semuanya asing.

Atas : Saya dengan latar belakang hotel
Bawah : Tangga cantik di hotel
*dokumentasi pribadi

Saya kebagian kamar 633 yang terletak di lantai 6. Sekamar kami ada 4 orang, yaitu saya, Ibu Hj. Coa dan anaknya Ati serta Ibu Radiah. Seketika kami langsung menjadi akrab satu sama lain.

Kami pun naik ke lantai 6. Ternyata kamar-kamar di hotel ini unik, seingatku seperti apartment yang pernah saya tempati waktu di Hongkong dulu, yakni sebuah ruangan besar dengan 2 kamar yang masing-masing berkapasitas 4 orang, toilet dan tempat cuci pakaian yang berisi mesin cuci dan wastafel. Di kamarnya sendiri berisi 4 tempat tidur dan furniture lainnya termasuk kulkas dan televisi.

Suasana kamar hotel
*dokumentasi pribadi

Di restonya sendiri, makan tersedia dalam set prasmanan. Alhamdulillah makanan yang tersaji cocok di lidahku, padahal beberapa teman yang sudah ke Tanah Suci bilang kalo makanan di sana itu terlalu berbau kari dan sebagainya, tapi saya rasa semuanya biasa aja tuh. Mungkin aja karena koki di hotel itu orang Indonesia juga.

Salah satu menu sarapan
*dokumentasi pribadi

Baca juga : CHARA - Hotel Berbentuk Container di Bandung

Di samping hotel berjejer pertokoan, ada jual baju, kurma, aneka minuman dan snack, ice cream, kebab hingga money changer. Suasananya selalu ramai, soalnya penjualnya pada ribut manggil-manggil pembeli ditambah banyak penghuni hotel yang duduk-duduk santai di sepanjang koridor itu. Favorit saya adalah penjual minuman dan snack. Nikmatnya siang hari beli jus atau botolan rasa buah dan roti 7 Days aneka rasa yang murah meriah.

Susu Mangga & Kebab
*dokumentasi pribadi

Masjid Nabawi berjarak 3 blok dari hotel kami. Dekat banget. Akses kami masuk ke sana melalui pintu 16, dekat dengan pintu masuk khusus untuk jamaah perempuan. Waktu pertama kali masuk di Masjid Nabawi untuk sholat Subuh, baru juga di pelataran udah menetes air mata karena haru, apalagi saat udah berada di dalam masjid. Yang ada di pikiranku, "Masya Allah akhirnya saya bisa lihat langsung Masjid Nabawi. Selama ini cuma terkagum-kagum lihat foto teman-teman di sosmed, sekarang bisa mengagumi langsung bangunan yang cantik ini"

Di dalam Masjid Nabawi
*pic by Hj.Murni
Pelataran Masjid Nabawi
*dokumentasi pribadi
Suasana di pelataran jelang Maghrib
*dokumentasi pribadi

Keutamaan sholat di Masjid Nabawi adalah 1000 pahala dibanding tempat lain, kecuali Masjidil Haram. Itulah sebabnya saya gak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk memperbanyak sholat di sana. Selain itu ada pula keutamaan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan di Masjid Nabawi, yaitu sholat di Raudhah.

Raudhah
Raudhah atau yang disebut juga dengan Taman Surga adalah area di sekitar mimbar Rasulullah. Bagi yang sudah sholat di sana, baik wajib maupun sunnah, seakan-akan ia telah duduk di taman dari taman-taman surga. Di Raudhah ini juga terdapat makam Rasulullah dan 2 sahabatnya, yakni Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Khattab yang tertutup pagar besi keemasan. Tapi kita tidak boleh mengelus-elus apalagi mengharap berkah dari ketiga makam tersebut. Bermunajat tetap kepada Allah SWT.


Untuk jamaah perempuan masuk di Raudhah ada waktu tertentu, yaitu setelah sholat Subuh dan setelah sholat Isya. Saya 2 kali berkunjung ke sana sesudah sholat Isya. Pertama dengan ditemani seorang pemandu, mahasiswi asal Indonesia yang memang sering membantu jamaah untuk masuk ke Raudhah. Sebelumnya kami diinformasikan letak Raudhah, lalu diajarin bagaimana untuk masuk ke sana, amalan doa yang panjatkan dan gimana triknya biar bisa berlama-lama bermunajat di sana.


Suasana di dalam Raudhah

Ternyata situasi di Raudhah memang riuh, banyak jamaah yang berdesakan pengen masuk sehingga teriakan para askar yang berpakaian serba hitam lengkap dengan cadar dan kaos tangan sangat lazim terdengar. Kalimat bahasa Indonesia beraksen Arab, seperti "Ibu, duduk!" paling sering mereka teriakkan. Hihi... 😁

Kunjungan kedua kalinya ke Raudhah saya dan beberapa teman lantas mencoba masuk sendiri tanpa didampingi. Rasanya lebih cepat proses masuknya karena kami sudah paham seluk beluknya untuk masuk ke dalam.

Saat berada di Raudhah, gak ada jamaah yang gak menitikkan air mata, terutama saat sholat dan berdoa. Di sini adalah kesempatan untuk berdoa sebanyak-banyaknya semua keinginan kita dan Insya Allah akan mustajab.

Suasana masjid yang adem dengan deretan payung besar di pelataran, pintu berlapis emas yang iconic, interior masjid dengan pilar dan cat yang khas bikin betah untuk duduk berlama-lama di dalamnya, menunggu waktu-waktu sholat. Apalagi waktu pertama kali lihat kubah masjid tiba-tiba terbuka saat abis sholat Dhuhur.. Huhuuu, sukses bikin baper.

Pelataran Masjid Nabawi
Pintu masuk Masjid Nabawi
Suasana sekitar Masjid Nabawi

Etapi entah kenapa selama perjalanan ibadah ini saya jadi mellow. Hampir di semua tempat yang saya datangi pasti menitikkan air mata, apalagi kalo ustadz pembimbing kami cerita tentang perjuangan Rasulullah dalam menegakkan Islam dan kecintaan beliau pada umatnya. Ditambah lagi kalo saya tetiba kangen Atu dan anak-anak, pengen mereka juga melihat apa yang saya lihat.

Selama di Medinah, pihak travel memang membawa kami berkeliling ke beberapa tempat bersejarah. Di hari ke-3 kami dibawa berkeliling Masjid Nabawi mulai dari gerbang 16 lalu memutar dan kembali ke hotel. Tampak  para pekerja sedang membersihkan lampu yang ada di pelataran masjid. Di beberapa bagian juga tampak lantai marmer yang sedang dikilapkan. 

Pembersihan lampu dan lantai di Masjid Nabawi
*dokumentasi pribadi

Dan inilah yang kami saksikan saat berkeliling :

Pemakaman Baqi
Makam ini disebut juga Jannatul Baqi. Letaknya berseberangan dengan Masjid Nabawi. Ada 10.000 jenazah yang dimakamkan di sini termasuk keluarga dan sahabat Rasul. Hanya 2 istri Rasulullah yang tidak dimakamkan di Baqi, yakni Khadijah binti Khuwaylid (di Mekkah) dan Maimunah binti al-Harits (di Sarif), selain dari itu seperti Aisyah, Hafsah dan Saudah, dimakamkan di Baqi.

Hanya laki-laki yang bisa masuk dalam area Pemakaman Baqi, sedangkan perempuan tidak dibolehkan untuk masuk karena terkadang perempuan tidak bisa menahan emosinya saat di pemakaman.

Jannatul Baqi yang hanya bisa kami lihat dari luar
*dokumentasi pribadi
Masjid Ghamamah
Lokasinya berada di luar Masjid Nabawi dan sudah tidak lagi digunakan sebagai tempat sholat. Dinamakan Ghamamah atau awan karena pada saat Rasulullah sholat di masjid itu ada awan yang menaunginya dari sinar matahari.

Dengan latar belakang Masjid Ghamamah

Masjid Abu Bakar
Berada gak jauh dari Masjid Gamamah, hanya sekira 40 meter dan dari Masjid Nabawi hanya sekira 300 meter. Masjid Abu Bakar ini dulunya adalah kediaman sahabat Rasul yaitu Abu Bakar As-Shiddiq. Saat ini masjid Abu Bakar juga sudah tidak digunakan lagi.

Papi di depan Masjid Abu Bakar

Taman Safiqah Bani Saidah
Taman ini letaknya berdekatan dengan pasar Haram, atau gerbang 15. Di taman ini dulunya tempat pemilihan khalifah Abu Bakar As-Shiddiq. Walaupun taman ini tidak terlalu bagus tapi terlihat sangat terawat.

Di taman

Pasar Tradisional
Pasar ini letaknya di pinggir jalan raya, agak dekat dengan gerbang 15. Tampak pedagang berjualan aneka barang, mulai dari pakaian, kurma hingga souvenir yang bisa dijadiin ole-ole. Di pasar ini kami serombongan tidak berbelanja, hanya melewatinya saja, karena matahari yang sudah mulai naik di ubun-ubun.

Pasar tradisional
*dokumentasi pribadi

Di hari ke-4 kami dibawa city tour dan singgah di tempat-tempat ini :

Masjid Quba
Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah saat hijrahnya ke Medinah. Masjid yang dibangun atas dasar takwa dan bahkan Allah SWT pun memuji masjid ini. Itulah mengapa saya jadi mewek saat sholat di sini.

Masjid Quba
Pintu Masjid Quba

Kebun Kurma
Kurma adalah buah yang tumbuh di kawasan Teluk Persia sejak ribuan tahun yang lalu. Kebun Kurma yang kami kunjungi letaknya gak jauh dari Masjid Quba. Berbagai macam Kurma ada di sini, selain itu juga ada banyak olahan Kurma. Tapi harga di Kebun Kurma ini agak lebih mahal dibanding di luaran, jadi saran saya sih sebaiknya lebih selektif belanjanya di Kebun Kurma.

Kebun Kurma
Kurna Ajwa atau Kurma Nabi
*dokumentasi pribadi

Jabal Uhud

Jabal Uhud adalah gunung tempat Perang Uhud berlangsung yang hasilnya adalah kekalahan di pihak umat Muslim. Pemakaman para syuhadah yang gugur dalam peperangan itu terdapat di bagian depan dari Jabal Uhud.

Jabal Uhud

Sekali lagi air mata saya menetes saat tour. Gimana tidak, dikisahkan di hari akhir nanti Jabal Uhud akan bersaksi siapa-siapa saja yang pernah mengunjunginya. Masya Allah 😇

Kisah dari Jabal Uhud inilah yang selalu terngiang di telingaku. "Sedangkan gunung saja di hari akhir nanti bersaksi akan bersaksi tebtang kehadiran kita di Tanah Suci, lantas kenapa masih menunda untuk ke sana?" 😔

Ada pula Jabal Rumat yang terletak 1 kilometer dari Jabal Uhud, yang juga ramai didaki oleh para peziarah, adalah tempat berdirinya para pemanah saat Perang Uhud berlangsung.

Jabal Rumat

Selain itu untuk belanja buat ole-ole, seperti mukenah, tasbih, parfum, souvenir dan lain-lain, ada banyak penjual di sekitar Masjid Nabawi. Saya sih gak melewatkan kesempatan untuk ke butik H&M yang terletak di dekat gerbang 26. Walopun agak jauh dari hotel tempat kami nginap, saya bela-belain deh untuk ke sana demi ole-oleh buat anak-anak, hihi... 😜

Karena barang belanjaan tidak bisa masuk ke dalam Masjid Nabawi, di sudut-sudut pelataran ada loker penyimpanan barang. Loker ini menggunakan tekhnologi terkini yang cara pembayarannya seperti setor duit di mesin ATM. Tinggal pilih kita maunya pake loker ukuran besar atau kecil. Biayanya perjam masing-masing 4 SR (Saudi Real) untuk loker besar dan 3 SR untuk loker kecil.

Shoppingggg
Loker di Masjid Nabawi
*dokumentasi pribadi

Saat hari terakhir kami di Kota Medinah adalah hari yang penuh haru karena kami harus meninggalkan kota kecintaan Rasul, menuju ke Mekkah. Setelah sholat Subuh, ustadz pembimbing mengajak kami untuk ziarah wada alias ziarah di area depan Masjid Nabawi yang tampak kubah hijaunya. Ziarah wada ini sebenarnya bukan ibadah wajib, karena banyak peziarah yang ditegur oleh orang-orang Arab di tempat itu, termasuk juga oleh ashkar yang bertugas. Padahal tujuan kami melakukan itu hanya untuk bersholawat dan mendoakan Rasulllah, juga berdoa semoga bisa kembali lagi ke Kota Medinah tahun berikutnya bersama keluarga.

Ziarah wada di depan kubah hijau Masjid Nabawi

Siang hari setelah Dhuhur, kami semua para jamaah sudah lengkap berpakaian ihram, lantas meninggalkan Kota Medinah menuju Mekkah dengan sebelumnya singgah dulu di Masjid Bir-Ali untuk melakukan miqot.

Masjid Bir-Ali
Sebelum melakukan ibadah umroh, jamaah harus mengambil miqot sebelumnya. Miqot adalah batas dimulainya ibadah haji atau umroh. Saat miqot kita telah mandi besar, bercukur, berpakaian ihram dan berniat untuk haji atau umroh. Setelah itu ada larangan-larangan yang tidak boleh lagi kita lakukan sampai ibadah umroh selesai dilaksanakan, seperti mencukur atau mencabut rambut atau bulu, membunuh binatang, dan sebagainya.

Miqot di Masjid Bir Ali

Masjid Bir Ali dibangun pada masa Rasulullah karena merupakan tempat miqot Rasulullah sebelum bertolak ke Kota Mekkah untuk melakukan umroh. Dinamakan Bir Ali dari kata Bir atau sumur dan Ali dari nama Ali bin Abi Thalib, sebagai pengingat bahwa beliaulah yang paling banyak menggali sumur di masjid ini. Dari depan tampak bangunan masjid seperti benteng, tapi di bagian dalam ada taman yang sangat rindang dengan pohon kurma dan tanaman lainnya.

Setelah selesai mengambil miqot, bus kami lalu bergerak menuju ke Mekkah menempuh 6 jam perjalanan dari Medinah. Sedih rasanya harus meninggalkan Kota Medinah... Kota yang cantik dengan hawa yang sejuk dan penduduknya yang ramah. Gak heran jika Rasulullah sangat mencintai kota ini dan memilih kota ini sebagai tempatnya untuk hijrah. Beberapa teman yang sudah pernah berkunjung ke sini pasti selalu mengatakan rindu untuk kembali.

Bersiap meninggalkan Medinah

Baca juga : Alhamdulillah

Saya pun berharap bisa kembali lagi ke Medinah bersama keluarga tercinta. Serta terkirim salam dan sholawat kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.
Aaamiiiin allahumma aamiiin 🙏




Posting Komentar