Rabu, Maret 28, 2018

12 Hari Perjalanan Spiritual


"Labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, inal hamda wan ni'mata laka wal mulka laa syariika laka"

Kalimat talbiyah terus terlantun dari bibirku tatkala niat umroh telah dilafazkan. Perasaan membuncah dalam hati, antara percaya gak percaya, akhirnya kalimat itu terucap dari bibirku, haru sekaligus juga sedih.

Dan inilah kisah 12 hari perjalanan spiritualku menunaikan ibadah umroh tanggal 3 - 14 Maret 2018.

Keberangkatan saya bareng Papi menggunakan jasa ZNH Tour & Travel dan disponsori oleh Atu (Alhamdulillah ya 🙏 makasih Atu 😘). Pendaftaran kami kurang lebih sebulan sebelum keberangkatan. Awalnya hanya Papi yang rencana diberangkatkan, tapi saya pikir kasian juga Papi kalo harus berangkat sendiri, jadi deh saya dan Papi berangkat berdua. Setelah semua berkas dikumpulkan, jadwal keberangkatan pun sudah fixed, sebelumnya kami harus ikut manasik umroh.



Baca juga : Rejeki Orang Baik

Selama menanti waktunya berangkat, saya udah menggali bekal informasi dari manteman yang udah pernah ke sana. Ada beberapa yang nakut-nakutin dengan cerita dapat ini itu di sana, tapi ada juga yang ceritanya enak didengar, tentang hati yang tenang selama di sana, dimudahkan segala-galanya dan lain-lain. Katanya, "Santai mi saja, nda usah pikir macam-macam apalagi sampai ketakutan. Yang penting perbanyak dulu sholat tobat sebelum berangkat dan di sana fokus saja untuk ibadah". Termasuk banyak browsing di internet, khususnya di You Tube tentang bagaimana suasana di Mekkah dan Medinah.

Akhirnya tibalah hari H, tanggal 3 Maret 2018. Berangkatnya jam 08.25 tapi kami diminta untuk hadir di airport jam 04.30 subuh! Karena sebelumnya pihak travel harus mengumpulkan koper dan membagi ID Card para jamaah. Saya dan Papi diantar sama Atu, Alifah, Nadhif, Faizah, Mami, Ika dan Khansa. Pokoknya formasi lengkap deh. Kami berangkat menggunakan maskapai Lion Air dan menempuh perjalanan selama 12 jam.


Tim pengantar
Sesaat sebelum berangkat

Sempat ada kejadian di pesawat. Beberapa kali saya dengar pengumuman tidak boleh buang air kecil di lantai toilet dan tidak boleh berwudhu di toilet. Rupanya ada beberapa penumpang yang melakukan itu. Waktu saya ke toilet, air di kran pun udah gak jalan. Tiba-tiba seorang penumpang marah-marah sambil berjalan ke arah awak kabin, yang sekilas saya dengar sih Bapak itu marah karena air di toilet gak jalan dan para awak kabin ngakunya air di toilet habis, hahaha.. 😅 Masuk akal gak tuh alasannya? Kalo saya sih mikirnya paling juga air di toilet sengaja dimatiin biar penumpang gak basah-basahan sampai ke lantai toilet. 

Tapi sebenarnya gak berprikemanusiaan banget deh tuh para awak pake matiin air di toilet segala. Gak mungkin juga perjalanan 12 jam penumpang gak bisa pake air di toilet! 😖

Perbedaan waktu Makassar - Saudi Arabia adalah 5 jam mundur, jadi kami tiba di Jeddah jam 15.30. Begitu pesawat mau mendarat, terlihat pemandangan kota Jeddah yang menakjubkan. Serba coklat kekuningan. Gersang. Ya, begitulah jazirah Arab, dan ini adalah pertama kalinya saya melihat pemandangan seperti itu dari atas pesawat. Subhanallah.

Pesawat kami mendarat di King Abdul Azis International Airport. Suasana di area depan airport tampak sepi, ada banyak kedai jualan tapi sebagian besar pada tutup. Kami menunggu bagasi yang lagi diurus sama pihak travel dan  duduk di tempat duduk yang terbuat dari semen. Karena haus, saya pun membeli air mineral di salah satu kedai yang terbuka dan inilah interaksi pertama saya dengan warga lokal, eh rupanya penjualnya bisa bahasa Indonesia juga! Hihi...


Kios di King Abdul Azis International Airport Jeddah

Dari Jeddah kami lantas naik bus ke Medinah. Perjalanannya selama 6 jam, huhuuu.. Lumayan lah ya, setelah 12 jam duduk di pesawat, dilanjutkan dengan 6 jam duduk di bus. Tapi semua saya nikmati aja dengan sabar dan syukur. Pokoknya banyak-banyak menahan diri selama di sana.

Baca juga : Bahagia Itu ...

Pukul 22.00 kami tiba di Medinah dan langsung ke hotel tempat kami menginap selama 5 malam yaitu Al Shourfa New Hotel yang jaraknya 3 blok dari Masjid Nabawi. Begitu dapat kamar, saya langsung mandi trus bobo, siapin tenaga untuk sholat Subuh di Masjid Nabawi. 

Oya, kamar hotelnya unik. Sebuah ruangan yang terdiri dari 2 kamar tidur, 1 kamar mandi dan 1 ruang cuci. Di masing-masing kamar ada 4 ranjang. Luasan kamarnya pun gede, berdesain cantik dengan furniture serba kayu. Lengkap tv, lemari dan kulkas, selayaknya hotel bintang 4. Saya sekamar dengan Ibu Hj.Coa dan anaknya Ati, serta ponakannya Ibu Radiah. Alhamdulillah mereka semua baik dan kami langsung akrab seperti keluarga.


My roommate
Ibu Hj.Coa, saya, Ati & Ibu Radiah

Kunjungan pertama saya ke Masjid Nabawi adalah pada saat Sholat Subuh. Masya Allah... Begitu masuk ke pelatarannya, melihat deretan payung yang berjejer, lalu pintu tertutup berlapiskan emas, kemudian masuk ke dalam masjid melihat cat pilar dengan pola yang khas, hati langsung haru dan air mata pun meleleh. Udah lama banget pengen ke sini. Masjid yang biasa hanya saya lihat di foto teman-teman, sekarang bisa saya saksikan langsung.

Suasana Kota Medinah yang adem, cuaca yang sejuk dan jarak antara hotel dan masjid yang dekat, semakin menambah semangat beribadah. Teringat perjuangan Rasulullah saat menegakkan Islam, gimana gak meleleh nih air mata setiap kali abis sholat di Masjid Nabawi.


Pintu masuk Masjid Nabawi
Kubah hijau Masjid Nabawi
Payung Masjid Nabawi

Malam hari setelah Isya saya dan beberapa teman berniat untuk beribadah di Raudhah, sebuah tempat di Masjid Nabawi yang disebut juga sebagai taman surga oleh Rasulullah,

ما بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة “
.
antara rumahku dan mimbarku adalah taman (raudhah) dari taman-taman surga

Untuk masuk ke dalam Raudhah gampang-gampang susah karena banyaknya jamaah yang ingin masuk beribadah di sana, apalagi untuk perempuan waktunya tertentu yaitu setelah sholat Subuh dan sholat Isya.


Di Raudhah

Pertama kali ke Raudhah, kami ditemani seorang mahasiswi asal Indonesia yang sudah lama bermukim di Medinah. Dia pintar berbahasa Arab dan seperti memang dia dan teman-temannya sudah sering bantu jamaah Indonesia untuk masuk ke Raudhah. Kami di"selundupkan" lewat jalan keluar jadi gak perlu terlalu lama tunggu giliran antrian masuk, hihi... 

Begitu tiba di depan Raudhah, kami semua gak mau buang waktu langsung sholat sunnah 2 rakaat dan gak ada yang gak nangis ketika diakhir sholat doa terucap dari bibir kami. 

Saat ke Raudhah yang ke-2 kalinya kami gak lagi ditemani sama adek mahasiswi itu, udah PD jalan sendiri dan Alhamdulillah juga bisa cepat masuknya.

Oleh pihak travel, kami juga dibawa berkeliling Masjid Nabawi. Mulai dari pintu 16, berkeliling di pelataran, melihat pekuburan Baqi, lalu keluar dari area Masjid Nabawi melihat Masjid Ghamamah dan Masjid Abu Bakar Assiddiq, taman tempat pelantikan Khalifah pada zaman dulu, lalu memutar dan kembali ke hotel.


Masjidil Nabawi Tour

Di lain hari kami dibawa city tour, mengunjungi objek-objek ibadah dan wisata di Medinah, seperti Masjid Quba, Masjid Kiblatain, Kebun Kurma, dan Jabal Uhud, sebuah gunung yang diriwayatkan sesuai sabda Rasulullah yang artinya, “Uhud adalah sebuah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya.”. 


Masjid Quba
Kebun Kurma
Jabal Uhud

Gak terlewatkan juga shopping di toko-toko yang banyak tersebar di sekeliling Masjid Nabawi, termasuk juga butik H & M. Detail dari perjalanan di Kota Medinah akan saya tuliskan secara terpisah.

Masjid Nabawi memberi kesan tersendiri buat saya. Desainnya yang cantik bikin betah berlama-lama tinggal di dalam. Menunggu jadwal sholat dengan mengaji atau membaca buku Islami jadi kegiatan yang mengasyikkan di dalam masjid ini. Galon air Zam-zam berjejer di sisi kiri dan kanan jalan masuk masjid, jadi dijamin gak bakal kehausan. Bahkan kami pun sering membasuh muka di situ.

Hari terakhir di Masjid Nabawi, kami dibawa berziarah wada di depan kubah hijau setelah sholat Subuh. Di situ kami diceritakan kisah Rasulullah yang rindu dengan saudara-saudaranya. Siapakah itu? Mereka adalah umat Muhammad yang hidup jauh dari masa Rasulullah, tidak pernah melihat Rasulullah tetapi beriman, mengikuti sunnah Rasul dan selalu mengirimkan sholawat kepada Rasul. Huhuuu... Mendengar ini siapa yang gak sedih? Rasulullah saja rindu kepada ummatnya, sedangkan kita masih bergelimang dosa... 😭

“Yang paling menakjubkan imannya adalah
Mereka yang datang sesudahku, Beriman kepadaku, 

Padahal tidak pernah melihatku, dan berjumpa denganku
Yang paling mempesona imannya

Mereka yang tiba setelah aku tiada
Yang membenarkanku

Tanpa pernah melihatku

Ziarah wada

6 hari di Medinah, saatnya harus berangkat ke Kota Mekkah untuk melaksanakan ibadah umroh. Tanggal 8 Maret 2018, kami berangkat setelah sholat Dhuhur menggunakan bus menempuh 6 jam perjalanan. Pakaian ihram sudah kami kenakan dan singgah dulu di Masjid Bir-Ali untuk miqat atau mengambil niat umroh.


Miqot di Masjid Bir-Ali
Perjalanan Medinah - Mekkah

Pemandangan selama perjalanan terlihat gersang, tapi ada juga beberapa bukit yang tampak agak kehijauan. Lalu ustadz pembimbing kami di bus menjelaskan dari hadits Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda "Tidak akan terjadi kiamat sampai jaziah Arab kembali subur dan dialiri sungai" ya, sekarang Medinah sudah mulai subur, pertanda kiamat sudah dekat. Huhu.. Jadi takut!

Pukul 20.00 kami pun tiba di Mekkah, langsung dibawa ke hotel Dar Al Khalil Al Rushad. Kemudian tepat pk.21.00 kami diminta untuk berkumpul di lobby dan bersama-sama ke Masjidil Haram melakukan umroh. Jarak antara hotel ke Masjidil Haram kurang lebih 400 meter, dengan harus menyeberangi jalan raya lalu berjalan di samping Mekkah Clock Tower.

Ketika memasuki Masjidil Haram lalu berjalan masuk ke area Ka'bah, di situlah air mataku tumpah tak terbendung. Bangunan yang selama ini hanya saya lihat di sajadah, hiasan dinding dan televisi, kini terpampang nyata di depan mataku. Ka'bah atau baitullah atau baitulharam yang merupakan kiblat umat Islam di seluruh dunia.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda tentang berkah yang dilimpahkan Allah SWT kepada Baitulharam, “Dalam setiap siang dan malam hari, Allah SWT menurunkan 120 rahmat ke Baitullah ini. 60 untuk orang yang tawaf, 40 untuk orang yang melakukan salat, dan 20 untuk orang yang menyaksikan.” Masya Allah 🙌🙌🙌

Kami melakukan tawaf, lalu sholat di belakang Maqom Ibrahim, setelahnya meminum air Zam-zam, kemudian melakukan sa'i antara bukit Shofa dan Marwah dan terakhir ber-tahallul atau menggunting sejumput rambut. Suasana haru meliputi kami semua ketika seluruh rangkaian ibadah umroh telah selesai.

Setelah umroh pertama

Ibadah umroh pertama itu dilakukan di malam hari. Bagaimana dengan umroh kedua yang kami laksanakan? Di bawah panas terik matahari yang bersinar di Kota Mekkah dan di tengah suhu 36 derajat celcius! Berat? Tidak. Kalopun berat, tapi tidak sebanding dengan niat ibadah yang saya lakukan. Apalagi ibadah umroh kedua ini adalah badal umroh saya untuk Opa Maronie, sama halnya dengan Papi yang membadalkan untuk Oma Deetje. Insya Allah pahala buat mereka berdua. Aamiiin 🙏

Setelah umroh kedua
Bermunajat di Hijir Ismail

Umroh ke-dua ini dilanjutkan dengan sholat sunnah di Hijir Ismail. Walopun Hijir Ismaik selalu penah sesak, tapi Alhamdullah saya dan Papi bisa masuk ke dalamnya, sholat dan bermunajat.

Memang di bulan Maret Saudi Arabia, khususnya di Kota Mekkah sudah memasuki musim panas. Suhu berkisar antara 22 - 33 bahkan hingga 36 derajat celcius. Udaranya sih gak bikin gerah buat saya, hanya mataharinya aja yang terik banget. Beda sama Medinah yang terasa lebih sejuk. Makanya kudu pake kacamata dan sunblock terus biar bebas silau dan bebas kulit terbakar. Bahkan Papi juga rasa kulit wajahnya seperti kasar bersisik, karena lupa oles vaseline 😁

Tapi Alhamdulillahnya, walopun di luar ruangan terasa panas, tapi kalo udah masuk di Masjidil Haram langsung segerrr karena ACnya yang sejuk dan lantainya yang terbuat dari marmer terasa dingin kalo dinjak. 

Target utamaku setiap kali sholat di Masjidil Haram adalah melihat langsung Ka'bah. Kurang afdol rasanya kalo sholat tapi bukan Ka'bah yang ada di depan mata. Makanya paling tidak 30 menit sebelum sholat saya udah buru-buru ke sana. Malah kalo udah Sholat Maghrib saya dan manteman tinggal aja skalian menunggu Sholat Isya. Di waktu menunggu ini kami sering kecipratan rejeki dari orang-orang yang bersedakah, seperti kurma, permen, teh, kue-kue hingga sup. Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan?

Untuk city tour Kota Mekkah kami dibawa ke Jabal Tsur, tempat persembunyian Rasul saat akan hijrah ke Medinah, Jabal Rahmah, gunung yang diyakini sebagai tempat pertemuan Adam dan Hawa, Peternakan Onta, dan Masjid Hudaibiyah, tempat perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah dengan kaum kafir Quraisy. Selain itu kami juga pergi shopping di Jaafaria Squd dengan menggunakan taxi. Detail perjalanan selama di Kota Mekkah akan saya tuliskan terpisah.


Jabal Tsur
Jabal Rahmah
Peternakan Onta
Masjid Peejanjian Hudaibiyah

Di sela-sela perjalanan menuju ke Masjidil Haram, waktu temanku bilang "Di sini kita tidak tau waktu ya. Yang kita tau cuman waktu sholat. Mulai dari Subuh kita tunggu Dhuha, balik ke hotel untuk sarapan, trus Dhuhur ke masjid lagi, balik hotel untuk makan siang. Sore kita di masjid lagi untuk Sholat Azhar. Begitu seterusnya.". Kalimat ini seperti menancap di jantung saya. Selama ini saya begitu mengabaikan waktu sholat. Sholat hanya pas ingat saja atau kalo dengar adzan. Di mall pun kadang saya lebih memilih untuk nongkrong atau cerita bareng teman dibanding ke mushollah mall padahal saya tau waktu sholat udah tiba. Astaghfirullah... Nangis hati ini ingat dosa-dosa 😢

Ya, selama perjalanan umroh ini saya emang banyak mengingat dosa dan saya syukuri itu... Berarti saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bertobat.

Sebelum berangkat umroh, ada beberapa orang yang bilang kalo umroh itu berat, jamaah pada nafsi-nafsi alias mikirin diri sendiri, ditambah dengan cerita pengalaman buruknya di sana. Mendengar itu saya sih sempat keder juga... Takut di sana saya khilaf trus dapat balasan atau dosa-dosa saya di tanah air balasannya saya dapat di sana. Tapi Alhamdulillah selama di sana dan menjalankan ibadah umroh, gak ada sama sekali kesulitan atau cobaan seperti pengalaman orang-orang itu. Saya malah selalu dapat kemudahan. Semua ketakutan yang saya rasakan sebelum berangkat malah seperti gak berbekas. Saya dipertemukan dengan teman-teman jamaah yang gak sungkan untuk selalu membantu dan menemani, saat tetiba pengen makan pisang eh ternyata sudah tersaji di meja makan, bahkan saya merasa selama di sana sifatku berbanding 180 derajat dengan di tanah air, seperti jadi lebih sabar dan gak cerewet lagi, hihihiii...




Duh, nulis ini jadi mewek sendiri dan rindu pengen balik ke sana lagi... 😭

Baca juga : Nobody's Perfect

So, setelah mikir akan semua yang terjadi di sana, saya jadi lebih paham, bisa jadi semua itu kembali lagi ke niat kita untuk berangkat ke sana, hanya untuk ibadah dan terutama saya karena pengen temanin Papi. Selain itu dari pikiran juga, kalo kita selalu berpikir negatif ya itulah yang akan didapat, karena apa yang kita pikirkan maka alam semesta akan berkolaborasi untuk memberikan itu kepada kita. Jadi pikirannya harus yang positif aja. 

Tentang kesabaran dan ketidak-cerewetanku mungkin karena saya banyak beristighfar, gak mau komen sembarang, juga lebih banyak menundukkan pandangan terutama kalo udah lihat sesuatu yang kadang bikin saya jadi terpancing untuk berpikir negatif atau mencela. Huhuuu... Gak mau mikir macam-macam. Etapi bukan berarti saya tidak dapat cobaan atau teguran, ada juGa beberapa kejadian yang menimpaku yang menurutku unik dan.. Ah, nanti aja saya ceritain detailnya, hihiii 😁

Di samping itu saya banyak dapat pencerahan ilmu, baik dari para pemdamping, terutama dari para  ustadz pembimbing, khususnya ustadz Ervan Arsyad (Ketua DPD Wahdah Islamiyah Kab. Bone). Saya yang dulunya begitu kagum akan segala hal tentang dunia barat, malah jadi terbuka pikiran saya bahwa apa yang digaungkan oleh orang-orang di belahan bumi sebelah barat sana ternyata sudah lama terjadi dalam dunia Islam, seperti disebutkan "Life begin at Fourty" bahwa hidup seseorang itu dimulai di usia 40, hal ini sesuai dengan Rasulullah di mana beliau pertama kali menerima wahyu pada usia 40. Usia 40 ini juga adalah satu-satunya umur yang disebut dalam Al Qur'an.

“Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdo’a, “Ya Rabb-ku, tunjukkanlah kepadaku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (QS. Al-Ahqaf : 15)

Baca juga : Life Begin at Fourty

Selain itu, ada yang menyebutkan "New York is the city that never sleeps", tapi setelah melihat kehidupan masyarakat di Kota Mekkah, khususnya para jamaah yang berdatangan dari seluruh penjuru negeri, terutama saat menyaksikan langsung aktifitas tawaf di Ka'bah, maka menurut saya Kota Mekkah-lah kota yang tidak pernah tidur. Tidak pernah saya melihat di sekeliling Ka'bah sepi. Tidak pernah saya melihat lalu-lalang orang ke Masjidil Haram berhenti. Tidak pernah saya melihat toko-toko tutup, kecuali di waktu sholat. Masya Allah 😍

Gak salah kiranya kalo saya pikir merugi sekali seorang Muslim yang punya banyak duit, traveling ke berbagai negara, tapi gak ke Tanah Suci... 


King Abdul Azis Int'l Airport, Jeddah

Well, mungkin juga karena kekagumanku kepada dunia barat, orang bule dan sebagainya, sehingga Allah perlihatkan saat saya mau mencium Hajar Aswad. 2 kali saya berusaha untuk pergi menciumnya tapi 2 kali juga gagal karena melihat orang bule yang usai mencium. Yang pertama waktu udah hampir dekat, terdengar suara perempuan menjerit histeris. Rupanya ada seorang ibu dan anaknya yang tergencet hingga terlempar ke luar saat mau mencium Hajar Aswad. Mukenah sang ibu sampai hampir terbuka saking beratnya medan di area itu. Di situlah saya lihat kalo ibu dan anak itu berperawakan bule. Karena teriakan yang terdengar mengenaskan itu, saya bilang ke Papi kalo saya gak sanggup. Takut sesak nafas sampai di sana. Akhirnya kami mundur.

Lalu, pada usaha mencium Hajar Aswad yang kedua kalinya, saat lagi berdesak-desakan, saya lihat seorang pria bule keluar dari area Hajar Aswad dengan tampak kelelehan. Wajahnya putih kelihatan seperti kepiting rebus, kemerahan dan nafasnya seperti tersengal-sengal.  Langsung aja saya mikir "waduh, bule segede itu aja setengah mati untuk sampai ke Hajar Aswad", akhirnya mundur lagi deh... Jadi, gak ada tuh yang namanya bule lebih kuat dan hebat, karena jika Allah tidak mengizinkan sesuatu hal terjadi maka tidak akan mungkin terjadi.

Setelah melaksanakan Tawaf Wada atau tawaf perpisahan, kembali air mata gak terbendung karena itu berarti seluruh rangkaian ibadah umroh kami telah selesai dan gak lana lagi kami akan kembali ke tanah air.


Setelah Tawaf Wada

Saya pun memohon kepada Allah semoga dibukakan pintu rejeki untuk kembali ke Tanah Suci bersama keluarga tercinta. Aamiiin 🙏




Posting Komentar