Selasa, Februari 13, 2018

Jagai Anakta'


Baru-baru ini dunia pendidikan di Indonesia dikejutkan dengan sebuah peristiwa meninggalnya seorang guru akibat pemukulan siswanya sendiri. Memang tidak langsung meninggal di tempat pada saat pemukulan, tapi akibat pemukulan yang mengenai batang leher guru tersebut sehingga beberapa jam kemudian, setelah perawatan di rumah sakit maka sang guru pun meninggal dunia.

Lantas, kira-kira apa penyebabnya sehingga seorang anak bisa berbuat sesadis itu kepada gurunya?


Seminar Parenting
"Peran Orang Tua Dalam Mendidik Anak di Era Digital"

Menurut Fauziah Zulfitri (selanjutnya kita sebut Coach Ochy) - seorang psikolog, coach, trainer dan hipnoterapis, yang juga CEO konsultan psikologi Insight - anak bisa berlaku agresif karena sering melihat contoh. Baik itu dari keluarga di rumah, lingkungan atau tontonan di televisi maupun game yang sering mereka mainkan di internet. Anak-anak yang sering terpapar hal negatif akan mengakibatkan ia berprilaku negatif. Itulah anak zaman now. Bagaimana mereka ter-ekspose pada era digital.

Untuk itu orang tua harus berperan sebagai coach atau leader bagi anak-anaknya. Tapi untuk menjadi coach bagi anak, orang tua sendiri harus siap dulu, harus memperbaiki diri terlebih dahulu. Apa yang harus dilakukan?

👪 Be a happy parent
Selalu bahagia, karena bahagia itu menular. Orang tua yang bahagia, anak pun akan bahagia.
👪 Be there
Ada disaat anak membutuhkan.
👪 Be in control
Kendali penuh ada pada orang tua, dimana falam mengendalikan anak jangan mengiming-imingi dengan hadiah. Orang tua harus tegas.
👪 Be a coach
Jadi pelatih buat anak, dalam hal ini orang tua harus memberi contoh yang baik.

Baca juga : Curhat ala Ibu-ibu di Coaching Group for Mommies

Lantas bagaimana orang tua menjalankan fungsinya sebagai orang tua pelatih? Yaitu dengan mendengar dan bertanya. Tidak hanya memberi perintah atau menasehati anak. Tapi harus menunjukkan rasa empati. Parent as coach intinya adalah jadilah cermin dan pelatih bagi anak.

Untuk itu orang tua perlu hal ini :

Memantaskan diri
Perbaiki kualitas diri sebagai orang tua
Cek kualitas keimanan, ibadah, amalan, sedekah dan doa
Cek kemampuan berkomunikasi
Cek kadar kesabaran
*ini penting buat saya! Hihi...
Cek komitmen dan konsistensi

Perlu pula sering berbicara dari hati ke hati dengan anak, tanpa gangguan saudaranya atau pun ayahnya. Sesuai yang diterapkan oleh Coach Ochy kepada anak-anaknya adalah secara bergiliran mengajak masing-masing anak untuk jalan hanya berdua dengannya. Di saat itulah Coach Ochy menjalin komunikasi yang dalam dengan anak yang sedang dibawanya, menanyakan apa kebutuhan dan keinginannya.

Ada 3 prinsip dasar komunikasi yang perlu diterapkan kepada anak, yakni :

1. Understand to be understood
Memahami orang lain atau anak.
2. You can not not communicate
Semua hal bisa dikomunikasikan.
3. The meaning of you communicate is the respon you get
Makna dari kemampuan kita berkomunikasi tergantung dari respon yang mendengar. Untuk itu perbaiki cara kita dalam berkomunikasi.

Baca juga : Komunikasi Yang Baik

Peran orang tua kepada anak harus pula disesuaikan dengan usianya. Sesuai dengan ilmu psikologi barat, Diana Sterling, pada tahun 2008 mengklasifikasikannya sebagai berikut :

0 - 6 tahun ⏩  orang tua sebagai guru.
Anak dalam tahap belajar.
7 - 12 tahun ⏩ orang tua sebagai administrator
Orang tua berfungsi sebagai pengatur segalanya.
13 - 20 tahun ⏩ orang tua sebagai coach
Orang tua memberi contoh dan mengarahkan anak.


Padahal ilmu seperti ini sudah diterapkan oleh sahabat yang juga skaligus menantu Rasulullah, yaitu Ali bin Abi Thalib ratusan tahun yang lalu :

0 - 7 tahun ⏩  anak sebagai raja
Anak diajar dengan kelembutan, dilindungi dan dimanjakan.
8 - 14 tahun ⏩  anak sebagai tahanan
Orang tua menerapkan aturan-aturan kepada anak, yang jika dilanggar harus diberi hukuman.
15 - 21 tahun ⏩  anak sebagai sahabat.
Orang tua berlaku sebagai sahabat anak.


Bahkan Sayyidina Ali pun berkata :
"Didiklah anakmu sesuai jamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu"

HUT ke-18 Dharma Wanita Persatuan Kota Makassar

Seminar Parenting oleh Coach Ochy ini diadakan sebagai rangkaian acara peringatan HUT Dharma Wanita Persatuan ke-18 tingkat Kota Makassar yang diselenggarakan pada hari Selasa tanggal 6 Februari 2018 lalu.

DWP Dinas Perizinan bersama Ibu Walikota Makassar & Ketua DWP Prop. Sulsel

Baca juga : Dharma Wanita

Inti dari seminarnya adalah tentang menjaga anak. Hal ini relevan dengan program pemerintah Kota Makassar yang diberi nama "Jagai Anakta'" atau yang dalam bahasa Indonesia berarti jaga anakmu. Program ini untuk memberi perlindungan dan pengawasan  bagi generasi muda di Kota Makassar. Generasi muda dianggap cukup rentan terkena dampak dari imbas informasi elektronik, utamanya makin merebaknya penggunaan media sosial di internet yang hampir tanpa kontrol.

Walikota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto dalam sambutannya pada acara itu menyampaikan bahwa saat ini kejahatan terhadap anak makin banyak korbannya adalah anak laki-laki. Banyak orang tua beranggapan "ah, anak laki-laki ji, jangan mi terlalu dijagai", padahal setiap anak punya hak untuk dilindungi dan dijaga oleh orang tuanya.

Walikota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto

Banyak pelaku sodomi atau pedofil adalah orang yang dulunya mengalami hal serupa. Kita tidak mau kan generasi penerus kita menjadi rusak karena kelalaian kita sendiri?

Untuk itu, jagai anakta. Baik anak perempuan maupun laki-laki. Bekali mereka dengan hal-hal positif. Buat mereka menjadi anak yang bahagia dan berkarakter kuat, karena karakter yang kuat penting sebagai bekal untuk menghadapi dunia luar, termasuk untuk memproteksi diri sendiri.

Semoga keluarga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiiin 🙏

Ochy, coach andalanG guweh!




Posting Komentar