Rabu, September 13, 2017

Semoga Istiqomah, Nak


Seseorang kadang butuh sebuah kejadian atau peristiwa sebagai tonggak titik balik yang bisa mengubah hidupnya. Selamanya.

Adalah ALIFAH, putri sulungku.
Tepat di hari raya Idul Adha 1438 Hijriah atau tanggal 1 September 2017 kemarin dia sudah mantap berjilbab.


ALHAMDULILLAH 🙏



Dia memutuskan pakai jilbab lebih cepat dari saya. Saya berjilbab di tahun 2003, saat itu usia saya sudah 26 tahun. Sedangkan Alifah baru 18 tahun.

Baca juga : My Hijab Style

Kejadian tidak lulusnya Alifah di perguruan tinggi negeri impiannya, yakni Universitas Hasanuddin (UNHAS) cukup membuatnya terpukul. Hal itulah yang menjadi TITIK BALIK kehidupannya. Waktu itu dia sampai nangis meraung-raung. Gimana gak gitu, tidak lulus hingga 2 kali! Saat pengumuman tes SMBPTN dan lewat jalur mandiri. Anggap saja belum rejekinya Alifah kuliah di UNHAS, or you may say Alifah belum berjodoh sama UNHAS. 

Lantas saya dan Atunya bertanya, "mau tetap ngejar UNHAS? Berarti mesti tunggu tahun depan. Tahun ini ikut kursus mi dulu" Tapi Alifah tetap mau kuliah. Akhirnya dia mendaftar di UMI alias Universitas Muslim Indonesia. Universitas berbasis pendidikan Islami ini adalah universitas swasta terbesar di Kota Makassar. Alifah ambil di Fakultas Hukum, sama seperti pilihannya waktu daftar di UNHAS kemarin.

Saya pribadi emang gak pernah terlalu ngotot memaksakan anak untuk jadi nomor 1 dalam hal nilai akademik. Karena menurutku kesuksesan tidak diukur dari nilai akademik tersebut, melainkan dari bagaimana dia bisa membawa diri dalam kehidupan, mencari jalan keluar dari mengatasi masalah yang dihadapinya dan cerdas menjalani hidup. Itu yang bisa bikin sukses, menurut saya yaa...

Saya pun curhat ke Mami dan Papiku soal dropnya Alifah dan mau gak mau mendaftar di UMI. Mami lantas mengingatkan ke saya kalo ini pasti sudah jalannya Allah. Siapa tau setelah kuliah di UMI nanti Alifah tergerak hatinya untuk pake jilbab seterusnya, tidak hanya saat kuliah saja. Saya pun meng-amin-kan. Tapi saya bilang, "untuk pake jilbab terserah Alifah. Saya tidak pernah mau paksakan."

Setiap kali ke kampus UMI mengurus segala sesuatunya yang berhubungan dengan pendaftaran, ujian hingga akhirnya lulus dan mendaftar ulang, Alifah harus memakai jilbab. Termasuk waktu ikut pengkaderan mahasiswa baru di Padang Lampe', tapi setelah itu ya buka lagi.


Alifah & sahabat-sahabatnya, Laili & Ainun

Baca juga : Restu OrTu


Lalu, waktu pengen ngemall di malam minggu, Alifah nanya ke saya dan Atu "Mam, gimana kalo saya pake jilbab ke mall?" Atu yang langsung menjawab, "Kalo cuman iseng-iseng pake trus nanti dilepas lagi, mending nda usah dulu". Agree, Atu! 👍 Ini juga yang Atu terapkan ke saya : Pakai jilbab itu seterusnya. Jangan buka tutup.

Belum seminggu kemudian, tepatnya tanggal 1 7 September 2017, disaat umat muslim merayakan Idul Adha, Alifah pun memakai jilbabnya. Awalnya saya pikir jilbab itu hanya karena sesuai perayaannya aja, suasana lebaran. Dia pun tadinya bilang gitu. Tapi ternyata keesokan harinya dan hingga sekarang, jilbab itu masih dipakainya. Ya ke mall, ke laundry, ke rumah Oma, pokoknya ke manapun dia pergi.

Dalam hal ibadah, Alifah memang tekun. Dia rajin sholat, bahkan kadang ngaji setelahnya. Semua dia lakukan tanpa disuruh. Dan sekarang ditambah lagi dengan berjilbab. Syukurnya saya 🙏


Alifah dengan penampilan barunya
di Hari Raya Idul Adha

Namanya juga kita orang Indonesia yang masih kental menganut azas kekeluargaan, dimana anak khususnya yang belum menikah, akan selalu dianggap anak kecil. Demikian pula dengan Alifah yang sudah beranjak dewasa karena udah 18 tahun. Segala sesuatunya masih kami, orang tuanya, yang mengatur tapi tanpa paksaan. Keputusan akhir tetap pada dia setelah kami beri masukan mengenai baik buruknya sesuatu yang akan dipilihnya.

Kalo bisa diuraikan, pola asuh anak yang beranjak dewasa (16 tahun ke atas) tuh kayak gini :

💝 Perbanyak komunikasi dengan menjadi pendengar yang baik.
💝 Tidak memaksakan kehendak pada anak.
💝 Tetap mengarahkan anak pada pilihan-pilihan yang baik dengan memberi pertimbangan baik buruknya.
💝 Serahkan keputusan pada anak terhadap pilihan hidupnya dengan tetap diawasi pada pelaksanaannya.

Intinya adalah perlakukan mereka sebagai anak sesuai usianya, selayaknya orang dewasa.

Gaya Alifah berjilbab

Hal ini yang saya terapkan pada keputusan Alifah untuk akhirnya berjilbab. Tanpa paksaan. Apalagi berjilbab menyangkut masalah aqidah. Saya hanya selalu mengingatkan kalo berhijab adalah wajib hukumnya dalam Islam.

(QS. An Nur : 31)
“... Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan hiasan (anggota badan) mereka, kecuali yang (biasa) nampak dari mereka dan hendaklah mereka menutupkan kerudung mereka ke dada mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, ...”

Sedangkan dalam ayat ini berbunyi :


(QS. Al-Ahzaab : 59) 
"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan wanita orang-orang mukmin, agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Itu menjadikan mereka lebih mudah dikenal, sehingga mereka tidak mudah diganggu. Dan Allah maha pengampun lagi maha Penyayang.”


Ayat tersebut tidak hanya menunjukkan kewajiban kita kaum muslimah untuk berhijab, tapi juga menjelaskan bahwa pria dalam hal ini adalah ayah atau suami kita, wajib menutup aurat semua kaum wanita dalam keluarganya. Maka dengan berjilbab berarti Alifah menyelamatkan Atu dari api neraka. Gak mau kan jika akhirat nanti Atu diminta pertanggungjawabannya karena Alifah tidak menutup aurat?

Doaku, semoga kamu selalu istiqomah nak. Aamiiin 😇



*tulisan ini diikutsertakan dalam #kebcolabblogging Grup Raisa dengan trigger : Ayah, I Need You





Posting Komentar