Senin, Juli 31, 2017

Berwisata Ke Rammang-rammang


Hola manteman!
Udah hari Senin lagi nih. Pada ke mana weekendnya kemarin bareng keluarga? Saya dan keluarga kecil saya hari Sabtu kemarin ngetrip ke Rammang-rammang. Sebuah kawasan karst atau gunung kapur terbesar ke-3 di dunia, setelah yang terdapat di Madagascar dan China, yang pada tahun 2001 lalu ditetapkan oleh UNESCO sebagai World Heritage. Membanggakan banget kan?

Rammang-rammang berlokasi di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Jaraknya 40 kilometer dari Makassar atau kurang lebih 2 jam perjalanan. Nama "Rammang-rammang" berasal dari Bahasa Makassar, dimana kata rammang berarti "awan" atau "kabut". Jadi rammang-rammang berarti sekumpulan awan atau kabut. Menurut cerita penduduk setempat, tempat ini diberi nama Rammang-rammang karena awan atau kabut yang selalu turun, terutama di pagi hari atau ketika hujan.
*sumber Wikipedia


Kenapa kami memilih Rammang-rammang? 

Sebenarnya sih udah lama banget saya dan Alifah pengen ke sana, sejak lihat banyak foto-foto di Instagram orang-orang yang udah ke sana. Ditambah lagi setelah nonton film The Nekad Traveller yang salah satu lokasinya syuting di Rammang-rammang, makin penasaran lah kami. Sampe akhirnya Alifah janjian bareng mantemannya untuk pergi ke sana, etapiii... seperti biasa lah yaow, gak diizinin terutama oleh Atu. Pertimbangannya sih karena untuk ke sana itu harus naik perahu kecil, tau kan anak remaja kayak Alifah kalo udah ngumpul pasti ribut, heboh, banyak goyang dan semacamnya. Takutnya pas di perahu mereka lupa diri, kan bisa aja perahunya kebalik! Huhu.. maklum yee ortu banyak khawatir. Mending dihindari daripada kali udah kejadian baru nyesal 😕

Dan berhubung Alifah udah ngambek karena gak diizinin, akhirnya saya bilang aja ke Atu "Ayo mi hari Sabtu nanti kita bawa anak-anak ke Rammang-rammang" dan Atu langsung setuju. Saya pun mulai bertanya-tanya ke manteman yang udah pernah ke sana.

Hari Sabtu tanggal 29 Juli 2017, jam 5 subuh saya udah siap-siap. Pesan Atu sejak semalam "Bawakan pelampungnya Pica" huahaha... mulai parno dia! Tapi tetap aja tuh pelampung saya bawa, biar Atu gak khawatir.

Jam 6 lewat dikit kami langsung cuzzz... Di mobil, anak-anak pada molor soalnya masih pagi banget. Berbekal petunjuk jalan melalui aplilasi Google Maps di gadget, kami menyusuri jalan yang masih lenggang, jadinya Atu bisa ngebut. Soalnya kata orang kalo udah lewat jam 10 ada di Rammang-rammang bakalan puanas banget, jadi ini kita kejar waktu ceritanya.

Baca juga : Batu Cave Malaysia

Tujuan kami masuk dari Dermaga 2 Rammang-rammang. Kami melewati hamparan sawah dengan latar belakang jejeran batu-batu karang yang menjulang. Tapi sayang banget keliatan gak terlalu cantik karena padinya udah dipanen. Cuman namanya aja kita gila foto ya bo! Hehe.. Teteup aja turun dari mobil sejenak trus pose, klik! 📷

Perjalanan ke Rammang

Setelah itu lanjut lagi perjalanan yang masih berkelok-kelok dan sempit. Lalu ada belokan ke kanan dengan papan petunjuk tertulis Dermaga 2, gak jauh dari situ deh dermaganya. Di dermaga ada beberapa orang pria yang tungguin pengunjung. Di dinding kayu sudah tertempel tarif perahu yang akan mengantar kita ke Rammang-rammang, jadi gak perlu pake tawar-menawar. Bayarnya pun nanti setelah balik lagi ke Dermaga 2 ini.

Tarif perahu


Peta Rammang-rammang

Kami pakainya perahu dengan kapasitas maksimal 4 orang penumpang, yang tarifnya Rp.200.000. Waktu baru naik, perahunya goyang-goyang, bikin panik! Hihi.. Oya, perahu ini disebut juga Katinting.

Dari Dermaga 2 kami diantar Kampung Berua. Sempat panik lagi nih kita waktu di  tengah sungai perahu kami bersenggolan dengan perahu lain, goyang inul deh tuh perahunya! Kebayang kan kalo perahu kami terbalik.. basahlah! Ditambah lagi dalamnya sungai bikin parno 😑 Eh, pakabar pelampungnya Faizah yang Atu suru bawa semalam? Kakak-kakaknya salah turunin tasnya Faizah. Yang ada pelampungnya ketinggalan di mobil 😜 Tapi Alhamdulillah perahunya cuman goyanh doank. Kata yang bawa, bersenggolan kayak gitu biasa.. Iya, biasa buat dia maksudnya 😆


Perahu yang lagi sandar
Otw Rammang-rammang
  
15 menit kemudian, tibalah kami di Kampung Berua. Ada loket sebelum masuk dalam kawasan, bayarnya murah bingits! Cuman Rp.3000/orang. Kawasan Kampung Berua luas banget. Jejeran karst terbentang cantik sejauh mata memandang. Di tengah-tengah ada tambak dan juga sawah. Di Kampung Berua ini ada Situs Pasaung, Padang Ammarrung dan Goa Kelelawar, tapi gak satu pun yang kami masuki karena mesti jalan agak jauh dan sepertinya gak cocok kalo bawa Faizah. Dia yang sedari tadi seperti belum menyatu jiwa dan raganya keliatan seperti masih bengong, hihi... 

Di Kampung Berua ini ada mushollah yang cantik dan adem lho. Letaknya bersebelahan dengan satu-satunya cafe yang ada di Kampung Berua ini. Cafenya lumayan besar, menyediakan buah kelapa yang segar. Pas kami datang kemarin, ada serombongan fotografer yang sepertinya lagi pada photoshoot di daerah ini.


Tiket masuk Kampung Berua
Welcome!
Gugusan karst
Nice photo spot
Mushollah
Cafe di Kampung Berua
Fotografer & model on action
   
Selanjutnya operator kapal membawa kami ke satu area yang namanya Taman Batu Kampung Laku. Agak jauh juga jaraknya dari Kampung Berua. Kira-kira 20 menit gitu. Sepertinya sih lokasi ini lebih dekat dari Dermaga 1. Di tempat ini batu-batu karang berwarna hitam bertebaran di sungai. Kita harus meniti bambu untuk menyeberang dari satu batu ke batu lainnya. Ada seorang penjaga di sini, cukup beri uang seikhlasnya karena memang tidak ada tiket untuk masuk ke area ini.


Taman Batu Kampung Laku
Hati-hati jalan di bambu!
Spot keren untuk foto

Baca juga : Pantai Balangan Bali

Setelah itu perahu lantas putar balik untuk menuju ke Dermaga 2. Tapi sebelumnya kami singgah dulu di Cafe Rammang-rammang. Cafe ini hits banget di Instagram. Nama sebenarnya Eco Lodge & Coffee. Tidak hanya berupa cafe tapi ada juga penginapan yang disewakan selayaknya hotel. Harga sewa permalam Rp.300.000,- Kalo kamu pengen tau selengkapnya, bisa cek di akun Instagram @rammangrammangcafe. Tujuan kami ke sini sebenarnya cuman pengen foto-foto doank skalian beli minuman dingin, soalnya tenggorokan udah mulai terasa kering nih...


Penginapan di Rammang-rammang Cafe
Nice view
 Foto terus & lagi...

Puas foto-foto dan dahaga sudah sirna, waktunya kembali ke Dermaga 2. Dalam perjalanan pulang kami bertemu banyak kapal-kapal yang membawa penumpang yang baru datang. Jam udah menunjukkan pk.09.00, matahari udah mulai tinggi, sebentar lagi bakal makin panas nih kepala. Di sisi kiri dan kanan sungai ditumbuhi Pohon Nipa yang saya sendiri baru tau kalo itu yang namanya Pohon Nipa! Hehe 😄 Overall, dari perjalanan ini saya dapat pengalaman baru lagi yang rasanya ngeri-ngeri sedap, hihiii 😆


Sungai Rammang-rammang
Dermaga 2

Rammang-rammang keren, sekali lagi saya dibuat takjub dengan maha karya ciptaan Allah SWT. Tapi sayang, sungainya agak kotor. Banyak sampah mengikuti aliran sungai. Semoga Rammang-rammang bisa dapat perhatian lebih dari pemerintah setempat untuk lebih dipercantik dengan kebersihan sungainya. Tapi tentu saja hal ini juga butuh kesadaran dari pengunjung. Jadi, kalo kalian ke sana ingat yaa... jangan buang sampah di sembarang tempat dan jaga kelestarian alam ☺

Di tulisan selanjutnya kamu bisa baca TIPS berwisata di Rammang-rammang
Cekidot!


Posting Komentar