Sabtu, April 29, 2017

Kartini Menggugat Adat Istiadat

Poster film Kartini

Menonton film berlatar sejarah atau tokoh yang ada dalam kehidupan nyata adalah salah satu kegemaran saya. Apalagi kalo di balik film itu ada pekerja-pekerja seni yang memang mumpuni dan berkelas. Salah satunya adalah film Kartini karya Hanung Bramantyo yang tayang sejak tanggal 19 April 2017 lalu.

Sebagai penikmat film dan pengamat film abal-abal saya kagum pada film ini. Sinematografinya keren, totalitas para pemain patut diacungi jempol. Adalah Dian Sastro, Christine Hakim, Dedy Sutomo, Jenar Maesa Ayu dan yang lainnya. Usaha mereka dalam mendalami peran masing-masing, hingga harus bisa bahasa Jawa dan Belanda di hampir sepanjang durasi film membuat saya kagum. Dari segi kualitas pemain, film ini memang tidak diragukan lagi. Salut!

Dari cerita filmnya sendiri, interpretasi bisa tergantung siapa yang menonton. Saya pribadi menangkap penggambaran Kartini sebagai sosok yang anti mainstream pada zamannya. Dia berlaku tidak selayaknya wanita pada masanya, mendobrak segala aturan yang menyangkut tradisi atau adat istiadat, baik lewat tulisan, lisan dan perbuatan. Maka dari itu judul dari tulisan saya ini : Kartini Menggugat Adat Istiadat.


Baca juga : Kartini Masa Kini

Adanya lampu kuning dari ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, yang merupakan kalangan bangsawan (yang menurutku berpikiran sangat moderat) dengan menyekolahkannya di sekolah Belanda setingkat SD, yaitu ELS (Europese Lagere School) hingga usia 12 tahun, saat dia harus menjalani pingitan, tentu membuatnya sedikit lebih beruntung dibanding wanita lain sederajat. Selain itu banyaknya masukan dari sang kakak, Sosrokartono, yang bersekolah di Leiden - Belanda, mulai dari komunikasi langsung, lewat surat, maupun buku-buku yang dikirimkannya kepada Kartini serta adik-adiknya telah membuka pikiran Kartini.

Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar melalui korespondensi, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa.

Dalam surat-surat Kartini tertulis pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi, bahwa banyak kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu demi menyandang gelar dan status Raden Ayu.

Dalam sebuah surat kepada Stella, ia mengungkapkan kebenciannya terhadap cara hidup masyarakat feodal Jawa, seakan menyembah manusia yang dianggap lebih tinggi kedudukannya hanya karena keturunan ningrat. Adik-adik Kartini tak boleh berjalan melewatinya, kalau terpaksa mereka harus merangkak di atas tanah atau jalan jongkok. Kepadanya, setiap perkataan harus menggunakan bahasa krama inggil (paling halus) dan diakhiri dengan sembah. Kartini menyebut bahwa tiada yang lebih gila dan bodoh daripada melihat orang yang membanggakan asal dan keturunannya.

Baca juga : Wanita Hebat

Kartini ingin membebaskan dirinya dari adat dan hal ini ia mulai tularkan dari lingkungan rumahnya. Kartini melarang adik-adiknya berjalan jongkok, menyembah, menunduk dan bersuara pelan ketika berbicara dengannya. Ia pun membebaskan adiknya untuk memanggilnya dengan nama saja. "Panggil aku Kartini saja" demikian katanya.

Kartini - Kardinah - Roekmini

Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, juga berisi harapan untuk memperoleh pertolongan dari luar. 

Cita-cita luhur R.A Kartini adalah ia ingin melihat perempuan pribumi dapat menuntut ilmu dan belajar seperti sekarang ini. Gagasan-gagasan baru mengenai emansipasi atau persamaan hak wanita pribumi olah Kartini, dianggap sebagai hal baru yang dapat mengubah pandangan masyarakat. Selain itu, tulisan-tulisan Kartini juga berisi tentang yaitu makna Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan, Peri Kemanusiaan dan juga Nasionalisme.

Kartini juga menyinggung tentang agama, misalnya ia mempertanyakan apakah hanya laki-laki yang bisa berilmu, mengapa laki-laki dapat berpoligami, dan mengapa kitab suci itu harus dibaca dan dihafal tanpa perlu kewajiban untuk memahaminya. Sedangkan pada saat itu, sedemikian sucinya Al Qur'an sehingga para ulama melarang untuk menerjemahkannya.

Para pemain film Kartini

Dalam filmnya, saya sangat suka adegan ketika Kartini mengajukan syarat-syarat saat hendak dinikahkan. Pada masa itu tentu saja tidak ada perempuan yang berani berbuat seperti Kartini. Mereka semua tentu saja hanya nrimo apa kata orang tua, yang dianggap sebagai takdir dari tradisi yang mereka anut selama ini. Salah satu syarat yang diajukan Kartini adalah ia tidak mau membasuh kaki suaminya saat upacara pernikahan karena hal tersebut dianggap sebagai bentuk penindasan kepada perempuan dan sangat merendahkan martabat kaum perempuan.

Itulah Raden Ajeng Kartini, dengan segala plus dan minusnya, layak diberi gelar pahlawan nasional, karena berbagai pemikirannya telah melampaui zamannya. Dalam kegetiran hidupnya, dia tetap mencoba berkiprah dalam pemikiran dan dunia pendidikan.

Bisa kalian bayangkan bila tidak ada beliau sebagai pendobrak?

Quote favorit saya 😉



*buah pikiran emaronie, disadur dari berbagai sumber.

Posting Komentar