Rabu, Januari 18, 2017

Jalan, Jajan & Sarapan Di MONAS


Hampir semua negara atau kota di dunia punya landmark masing-masing. Landmark atau simbol penanda kota sengaja dibuat sebagai elemen sebuah kota yang mengandung unsur penting bagi kota tersebut. Jika di negara luar kita mengenal Menara Eiffel sebagai landmark kota Paris, Patung Liberty di New York, Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur dan lain sebagainya, maka di Indonesia ada Gedung Sate di Bandung, Jam Gadang di Padang dan tak ketinggalan Monumen Nasional atau Monas di Jakarta.

Tapi sayangnya masih banyak dari orang Indonesia sendiri yang tidak bangga akan keberadaan landmark kotanya atau malu berfoto di depan landmark kotanya, bahkan tidak jarang malah menertawakan atau mencemooh orang lain yang berfoto di depan landmark kotanya. Padahal orang lain itu bisa saja turis. 


Buat Faizah yang baru pertama kali ke Jakarta tentu saja kurang lengkap jika belum ke Monas. Makanya hari Sabtu tanggal 31 Desember 2016 kemarin, hari terakhir di tahun 2016, kami pun ke Monas. Perginya pagi karena rencana mau naik ke puncak tugu. Jalanan dari Apartment Green Pramuka City menuju ke Monas cukup lengang di pagi hari, selain karena weekend bisa jadi juga karena sebagian masyarakat Jakarta udah berlibur ke luar kota. Jarak tempuh kurang lebih 15 menit lancarrr jayaaa... Tiba di Monas parkirannya ternyata udah cukup padat. Untuk menuju ke Monas kami masuknya dari Taman Medan Merdeka Selatan dengan gerbang Lenggang Jakarta. Di area ini terdapat warung makan semacam food court dan kedai penjualan souvenir. 

Gerbang Lenggang Jakarta
*pic courtesy Google

Medan Merdeka adalah lapangan yang luas yang berada di titik 0 Kota Jakarta. Lapangan ini dibangun sejak awal abad ke-19 oleh pemerintah Hindia Belanda pada masa pemerintahan Daendels. Lapangan ini berkali-kali berganti nama, mulai dari Buffelsveld (Lapangan Kerbau), Champs de Mars (Lapangan Militer), Koningsplein (Lapangan Raja), Lapangan Gambir (penamaan oleh penduduk setempat karena banyak tanaman Gambir di sekitarnya), Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta), hingga akhirnya setelah Indonesia merdeka dalam pidatonya di Lapangan Ikada ini, Presiden Soekarno mengganti nama lapangan tersebut menjadi Medan Merdeka.

Medan Merdeka ditandai dengan jalanan silang berbentuk X dengan Monas yang berada tepat di tengahnya. 4 jalan silang inilah dinamakan sesuai arah mata angin, Medan Merdeka Utara, Medan Merdeka Timur, Medan Merdeka Selatan dan Medan Merdeka Barat.

Lalu oleh Presiden Soekarno diprakarsai pula pendirian sebuah monumen untuk memperingati perjuangan mencapai kemerdekaan sebagai simbol kebanggan bangsa. Maka pada tanggal 17 Agustus 961 dimulailah pembangunan Monumen Nasional atau yang disingkat dengan Monas. Monumen ini setinggi 133 meter dengan dimahkotai lidah api yang dilapisi emas sebagai perlambang semangat perjuangan yang menyala-nyala. Di dalam Monas terdapat museum yang berisi diorama perjuangan bangsa Indonesia. Dari bagian atasnya kita bisa melihat keseluruhan Kota Jakarta. Monumen dan museum ini buka setiap hari mulai jam 8 pagi hingga 3 sore.

Kami pun berjalan mendekati Monas, tapi ternyata oh ternyata... dari kejauhan sudah nampak antrian orang yang mau naik ke puncak Monas! Akhirnya kami batal deh naik ke atas soalnya gak kuat bo sama antriannya, heheee...
Kami cuman jalan-jalan di sekitar taman sambil foto-foto. Faizah dan Khansa senang banget bisa bebas berlarian :) 

Senangnya!

Di jalan silang ini dioperasikan mobil berbentuk kereta yang bisa dinaiki untuk berkeliling kawasan. Kadang ada juga delman dengan kuda poninya yang bisa disewa.

Puas jalan-jalan dan berfoto, kami memutuskan untuk cari makan di food court. Tapi sebelumnya singgah dulu di kedai penjualan souvenir buat beli ole-ole. Lumayan banget harganya, t-shirt dijual seharga Rp.100ribu 3 lembar. 

Kedai souvenir
*pic courtesy Google

Di depan area food court ada penjual jajanan tradisional Kerak Telor. Hmm.. langsung ngiler deh saya. Jajan dulu aah... "Bang, pesan 1 bang!"

Faizah pun dengan serius memperhatikan si abang beraksi membuat Kerak Telor.
Beras ketan putih, telur ayam dan ebi disangrai lalu ditambah bawang merah goreng. Setelah itu dimasukkan bumbu-bumbu lainnya. Dimasaknya di atas tungku arang. Kelincahan si abang membolak-balik wajan kecilnya di atas tungku jadi ciri khas tersendiri saat membuat makanan khas Betawi ini.

Penjual Kerak Telor sedang beraksi
Faizah serius memperhatikan penjual Kerak Telor

Setelah Kerak Telornya selesai dibikin, kami pun mencari menu sarapan lainnya di deretan kantin yang ada di food court Monas ini. Tapi sayang banget masih banyak yang belum siap menunya, bahkan ada juga yang belum buka.
Akhirnya kami makan Ketoprak yang juga merupakan makanan khas Betawi. Terdiri dari lontong, bihun, toge dan tahu yang ditabur kerupuk lalu disiram bumbu kacang. Sekilas mirip gado-gado, bedanya ketoprak tanpa sayuran.

Kenapa makannya serba menu tradisional khas Betawi? Karena begitulah cara saya mengisi kunjungan ke daerah lain... Makan makanan yang gak ada di kota asalmu, kalo perlu makan makanan khas daerah tersebut! Eh ini TIPS dari saya lho ;)

 
Deretan penjual makanan
Suasana di food court
Kasir food court Monas
 
Ketoprak

Mengawali hari lebih pagi dengan sesuatu yang positif adalah obat jiwa yang paling ampuh. Jalan, jajan dan sarapan di Monas bareng keluarga tentu bikin senang dan selalu bakal terkenang. 

Semoga saja keberadaan Monas sebagai landmark kota Jakarta, ibukota negara tercinta selalu menjadi kebanggaan seluruh rakyat Indonesia. Apalagi sekarang Monas dan sekitarnya sudah cantik, bersih dan lengkap fasilitasnya. 



*sumber sejarah : Wikipedia
Posting Komentar