Jumat, Desember 02, 2016

Sesi Foto Gigi


Sudah pernah mengalami yang namanya foto gigi?
Foto gigi?
Mungkin masih ada yang bingung, hehee... Kalo belum, berarti kita sama! Dan semoga tulisan ini membantu menghilangkan ketegangan saat kamu juga harus foto gigi  :D

Ini adalah pengalaman saya untuk pertama kalinya melakukan foto gigi. 
Iya, ini foto gigi dalam arti sebenarnya. Gigiku yang difoto. Tapi bukan seperti foto biasa atau selfie-selfie gitu sambil memperlihatkan gigi lho... hehe. Foto gigi di sini adalah foto dengan sinar laser alias rontgen. Bahasa medisnya Dental Radiography.

Berawal dari tambalan gigi taring yang lepas dan saya biarkan begitu saja. Gigi itu tetap saya pakai mengunyah. Hingga akhirnya mulai terasa sakit, yang bisa jadi karena seringnya kemasukan setan makanan di dalam lubangnya dan cuman saya keluarin dengan tusuk gigi. Lalu tetiba suatu pagi setelah sarapan, seperti ada jarum pentul yang menusuk di dalam lubang gigi itu sampai ke akarnya. Huuu...sakitnyaaa minta ampyuuunnnn!!!
Saya langsung minum obat penghilang rasa sakit. Alhamdulillah sakit di giginya pun hilang tapi malah terasa di ujung akar yang letaknya di dekat hidung. "Duh, gak bener nih!" pikirku, apalagi sakitnya akan bertambah kalo kena benturan atau kepencet di area situ. 

2 hari kemudian barulah saya sempakan ke dokter gigi untuk periksa. Dokter ini sudah seperti keluarga buat kami, namanya dr.Fitrah Wahyuni atau yang akrab kami panggil Pita. Setelah diperiksa, kata dr.Pita akar gigi taringku ini sudah infeksi dan giginya sudah tipis karena patah. Ada 2 pilihan yang berikan :
1. Dicabut lalu pasang gigi palsu. Itupun cabutnya harus dengan bedah gusi karena gigi tarik akarnya panjang.
2. Dipertahankan tapi harus ditambal dan dilanjutkan dengan perawatan.
Tapi sebelum ditentukan akan mengambil opsi yang mana, gigiku ini harus difoto atau dirontgen dulu untuk dilihat bagian akarnya.

Mendengar kalimat "rontgen gigi" saya langsung ilfil... agak ngeri-ngeri gimana gitu. Langsung kebayang segala peralatan khas dokter gigi dan rasa sakit yang mungkin bakal menjadi-jadi huhuuu...
Tapi kata dr.Pita "nda apa-apa ji kak, dirontgen biasa pakai laser. Nda ada ji rasanya" agak tenang lah saya mendengarnya. dr.Pita lalu memberi surat pengantar ke Klinik Parahita.

Keesokan paginya saya pun ke Klinik Parahita yang terletak di Jalan Gunung Latimojong no.123 Makassar. Tempatnya lumayan besar dan suasananya juga tenang karena tidak banyak orang. Pokoknya terlihat ekslusif lah. Klinik ini merupakan laboratorium klinik yang melayani beragam diagnostic dengan peralatan yang canggih. Lantas apa yang ada di pikiran saya sebelum menyerahkan surat pengantar dari dr.Pita? Biayanya! hahaha.... Agak ciut juga nyali saya dengan biaya perawatan yang satu ini. 

Klinik Parahita Makassar
Pic courtesy : web Parahita
Meja reception Parahita
Surat pengantar dari dr.Fitrah Wahyuni

Ketika akhirnya tiba di meja reception, si mbak bilang "Biayanya 80 ribu bu" hah? gak salah nih cuman Rp.80.000?? Kata mbaknya itu sesuai giginya yang mau difoto. Oh i see... jadi mungkin lain gigi lain harga gitu kali ya? hehee...

Gak perlu menunggu lama, nama saya pun dipanggil. Ruang foto gigi adanya di lantai 2. Ruang Radiologi namanya. Saya harus menunggu dulu sebelum masuk ke dalam. Di saat menunggu ini saya makin penasaran "akan diapain ya nanti??" koq saya jadi nervous, apalagi setelah melihat ruangan di sebelah Ruang Radiologi, yang berisi bermacam mesin baik besar maupun kecil lengkap dengan para petugasnya yang memakai baju berwarna hijau selayaknya baju untuk laboratorium. 

Suasana lt.2 Klinik Parahita
Ruang laboratorium


Tiba-tiba pintu Ruang Radiologi terbuka, seorang pasien yang telah selesai rontgen gigi keluar, diikuti seorang petugas yang juga berbaju hijau memanggil saya untuk masuk. Begitu masuk dalam ruangan ternyata di luar dugaan saya... Saya yang tadinya membayangkan akan melihat banyak peralatan dokter gigi, ternyata dugaan saya salah! Yang ada hanya kursi dan alat yang tinggi dan panjang seperti belalai gajah dengan pipa di ujungnya. Di ruangan ini ada lagi 2 ruang lainnya yang salah satunya seperti ruangan komputer untuk melihat hasil rontgen dan mencetaknya. 

Suasana di dalam ruang Radiologi
Salah satu alat Dental Radiology

Saya pun disuru duduk rilex sambil membuka mulut dengan lebar. Sebelumnya saya nanya dulu, "ini sakit nda, mbak?" Hihihii... Soalnya udah keder duluan nih saya! Tapi katanya sih tidak, dan jangan goyang saat proses berlangsung. Kemudian petugas memasukkan alat seperti penyangga yang lubang di bagian di ujungnya. Lalu alat yang seperti pipa ditempatkan pas di depan lubang. Kemudian petugas masuk ke dalam ruang komputer mengecek di layar monitor sesuai tampilan dari pipa yang ada di depan mulut saya. Selanjutnya petugas hanya bilang ke saya "tenang ya bu...". Sekira 5 menit kemudian dia bilang lagi "ok, selesai". Hwah! cepat banget prosesnya, bahkan gak terasa sama sekali. Oh! seperti ini toh yang namanya foto gigi... hihihi.

Saat dimasukkan alat penyangga
Alat rontgen yang diarahkan ke gigi yang akan difoto

Setelah itu saya kembali turun ke lantai 1. Disuru menunggu kurang lebih 15 menit untuk mengambil hasil. Benar saja, 15 menit kemudian hasil rontgen gigiku pun keluar. Dari balik cahaya terlihat susunan gigi taring hingga ke akarnya. Hasil ini yang nantinya harus saya bawa kembali ke dokter gigi yang menangani pengobatan dan perawatan gigi saya (dr.Fitrah Wahyuni) untuk selanjutnya menentukan apakah gigi saya yang sakit ini akan dicabut atau tetap dipertahankan. Kalo saya sih pengennya tetap dipertahankan dan dirawat lebih baik lagi. So, wish me luck temans! :)

Hasil foto gigiku :D
Posting Komentar