Kamis, Oktober 06, 2016

Saya & Film ATHIRAH


Sejak ditayangkannya film Athirah di bioskop-bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 29 September 2016 lalu saya termasuk orang yang ngebet pengen nonton film ini. Apalagi setelah nonton traillernya dan baca review teman-teman blogger yang udah nonton film itu.

Sempat saya janjian sama suami untuk nonton di malam minggu hingga akhirnya ada undangan dari pihak Kalla Grup lewat Inna Hamdi untuk para blogger yang tergabung di Kelas Menulis MAM. Alhamdulillah...rejeki blogger nih! :)

Nobar teman-teman blogger dari Kelas Menulis MAM

Bareng Inna & Nadya dari Kalla Group serta Ayu dari Trans Corp

Setelah nonton film itu, rasa pengen nulis jadi menggebu-gebu karena filmnya memang bagus. Tapiii... bukan tentang cerita film yang akan saya bahas melainkan bagaimana hidup dalam dunia poligami.

Sesuai yang tertulis di wikipedia, poligami adalah sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yg bersamaan. Dalam antropologi sosial, poligami merupakan praktik pernikahan kepada lebih dari satu suami atau istri (sesuai dengan jenis kelamin orang bersangkutan).


Ada Mira Lesmana (produser), Arman Dewarti (Puang Ajji), Indah Permatasari (Ida remaja) & Nino Prabowo (Ucu dewasa) saat nobar



Bareng Mira Lesmana

Film yang bercerita tentang poligami sebenarnya banyak beredar di Indonesia, tapi buat saya yang paling berkesan selain film Athirah yakni Berbagi Suami (2006), Ayat-Ayat Cinta (2008) dan Surga Yang Tak Dirindukan (2015). Sama-sama bercerita tentang poligami tapi dalam penuturan yang berbeda. Ada yang berseteru, ada yang hanya diam pasrah akan keadaan, ada yang berbaikan dengan si madu, bahkan ada pula akhirnya berprilaku menyimpang dengan menjadi pasangan lesbian sesama madu, heheee...

Baca juga : Surga Yang Tak Dirindukan

Film Athirah dibuat oleh Riri Riza yang disadur dari novel karya Alberthine Endah dengan judul yang sama adalah berdasarkan kisah hidup ibunda Bapak Jusuf Kalla. Seorang perempuan berdarah Bugis yang dipoligami oleh suaminya, Puang Ajji atau Hadji Kalla. Ketegaran hatinya menerima takdir malah memacunya untuk lebih produktif dan mandiri khususnya dalam menopang ekonomi keluarga. Anak-anak tetap ia rangkul, bahkan suami yang menyakitinya pun tetap ia layani. Namun Athirah tidak pasrah begitu saja, ia pun pada awalnya menolak perbuatan suaminya dengan caranya sendiri. Tidak ada teriakan histeris, yang ada hanya diam seribu makna. Bahkan saat Athirah meminta Puang Ajji untuk keluar dari rumah pun dilakukan tanpa drama. Hingga akhirnya Athirah "menang" dengan cara yang elegan. Ia menjadi malaikat penolong bagi suaminya saat perusahaan sang suami butuh dana untuk membayar gaji karyawan. Dalam kehidupan nyata, begitu berartinya Athirah dalam hidup Hadji Kalla sehingga belum genap 100 hari berpulangnya Athirah ke rahmatullah, Hadji Kalla pun menyusulnya.


Adegan Ucu & Emmak.
Sumber foto : Google

Dari kisah hidup 2 sejoli ini banyak hikmah yang bisa kita petik. Bahwa hidup sebagai "korban" poligami memang bukan hal yang mudah bagi seorang perempuan, tapi bukan berarti ia lantas melepas status sebagai istri, menjadi janda dan tidak peduli pada anak-anak. Demikian pula dengan anak, hidup dengan orang tua yang berpoligami bukan berarti sah menjadi anak yang broken home, apatis hingga terjerumus ke dalam dunia hitam. Memang akan ada kemarahan dalam diri seorang anak ketika mengetahui ibu mereka disakiti namun itu bukan alasan untuk tidak lagi menghormati sang ayah.

Disinilah peran seorang Ibu sangat dibutuhkan bagi anak-anak untuk tetap setia menjaga. Seberat apapun masalah yang dihadapi dengan suami, seperih apapun sakit yang dirasakan karena suami, jangan pernah lepas anak-anakmu! Tetap dampingi mereka dan doakan agar apa yang dialami oleh orang tuanya tidak terjadi pada mereka kelak. 

Yang namanya sabar memang tidak mudah. Tapi selalu ada buah manis dari kesabaran. Sering berjalannya waktu, tidak sedikit keluarga poligami yang akhirnya berbaikan satu sama lain, anak-anak dari istri tua dan istri muda saling merangkul. Bahkan tidak sedikit pula dari para suami yang berpoligami itu malah kembali ke dalam pelukan istri tuanya dan menghabiskan masa tuanya bersama.

Dan itu terjadi pada Papi & Mami saya... ☺

Sumber foto : Google


Posting Komentar