Jumat, Februari 12, 2016

Resepsi Khitanan

Saat Nadhif dikhitan tempo hari, saya pikir acara hanya sampai disitu saja... Hanya barazanji atau baca doa, setelah itu selesai. Ternyata tidak... masih ada resepsi yang harus kami selenggarakan dengan mengundang tamu-tamu seperti layaknya membuat sebuah perhelatan pengantin, di mana Nadhif didudukkan di pelaminan lengkap dengan baju adatnya.

Resepsi Khitanan Nadhif

Hal ini sama persis yang orang tua saya lakukan waktu saya dan adekku Sherief dikhitan. Dan sudha pernah saya selenggarakan juga waktu anakku, Alifah dikhitan dulu. (Sebenarnya Atu juga, tapi gak pernah ketemu fotonya, heheee...). Waktu itu khitanan kami pun diresepsikan secara "besar-besaran" menurutku.

Saya pun bertanya ke Mamiku, "kenapa sih harus ada prosesi adat dan resepsi segala?" Karena sempat juga komentar yang saya dengar kalo khitanan itu hukumnya wajib untuk laki-laki dan hukumnya sunnat untuk perempuan, sedangkan untuk acara resepsinya tidak termasuk dalam sunnah Rasul sehingga hanya dianggap sebagai pemborosan.

Maka Mamiku pun memberi penjelasan "sunatan itu prosesi nomor 2 yang dianggap sakral untuk orang Bugis. (Yang nomor 1 prosesi pernikahan). Jadi mau tidak mau harus diadakan, apalagi suamimu turunan bangsawan. Sunatan itu kan simbol menuju dewasa. Selain itu untuk orang tua macam kami ini biasanya mikir "jangan sampai saya tidak lihat mi nanti cucu kawin", makanya acara sunatan itu diresepsikan seperti orang kawin" oh...i see :D

Karena saya anaknya penurut *uhuk* dan selalu menjunjung tinggi adat istiadat (selama tidak merugikan dan masuk di logikaku) maka diadakanlah resepsi khitanan Nadhif seperti yang sudah saya share dalam tulisan berjudul 

Jadi dalam adat Bugis Makassar, khitanan adalah sebuah proses yang termasuk penting yang harus dijalani seorang anak sebelum memasuki masa aqil balighnya, baik anak laki-laki maupun perempuan. Khitanan dilakukan pada saat anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun dan anak perempuan 2-7 tahun. Untuk anak laki-laki khitanan disebut dengan Massunna, sedangkan bagi anak perempuan disebut Makkatte'. Jika mengikuti prosesinya yang lengkap maka ritualnya termasuk panjang. Pada anak perempuan ada yang disebut dengan upacara Ripabbajui atau pemasangan Baju Bodo sebanyak 7 hingga 9 lembar untuk kalangan bangsawan Bugis. Upacara Ripabbajui ini merupakan upacara pertama kalinya seorang anak perempuan mengenakan Baju Bodo, sebab bagi masyarakat bugis yang memegang adat, anak perempuan yang belum pernah Ripabbajui tidak boleh memakai Baju Bodo. Hal itu yang kami lakukan pada Alifah waktu khitanannya dulu.

Prosesi sunatan Alifah

Upacara Ripabbajui & pelepasan ayam di khitanan Alifah

Sedangkan untuk anak laki-laki yang akan disunat berpakaian pagadu, tidak memakai baju, hanya sarung putih dan songkok putih berada di atas bembengan dengan di antar oleh kedua orang tuanya dan seorang pinati. Sebelum memasuki baruga terlebih dahulu anak yang akan di sunat beserta ke-dua orangtuanya, keluarga, kerabat serta rombongan menre baruga. Yaitu mengelilingi terlebih dahulu baruga sebanyak tiga kali, setelah itu baru bisa memasuki baruga melalui sapana(tangga) yang diatasnya terdapat hamparan taluttu(kain putih) pertanda penghormatan.
Kemudian si anak dijemput dengan hamburan benno, bente(bertih) menuju lamming, di bawah lellu yang sisi tiangnya dipegang oleh empat anak berpakaian pagadu. Si anak harus selalu memegang patteko (alat tenun) mulai dari rumah kediaman menuju ke baruga. Acara dapat dilanjutkan dengan “mangngaru” di iringi “tunrung pakanjara”. Selesai itu di akhiri dengan akkaddo, jamuan kue-kue tradisional.
Selama acara menre baruga berlangsung diiringi dengan gendang adat (gandrang) yang kemudian dilanjutkan dengan acara allekka Je’ne atau mallekke wae, yaitu upacara pengambilan air pada sebuah sumur tertentu (sumur bertuah) untuk dimandikan pada anak yang di sunat. Kegiatan selanjutnya adalah appassili atau mappassili, yaitu upacara pensucian diri lahir dan batin. Dimaksudkan agar segala kor ban dan hal-hal yang di anggap tidak baik dapat dihilangkan. Selesai di passili, si anak hanya mengenakan sarung. (Dari berbagai sumber).
Tapi prosesi tersebut di atas tidak kami lakukan saat khitanan Nadhif. Hanya barazanji setelah khitan, kemudian resepsi sebulan kemudian. Yang semuanya sudah saya share di tulisan 
Nadhif saat akan dikhitan
Barazanji khitanan Nadhif

Pemakaian baju adat

Akhirnya sekarang saya paham...
Penyelenggaraan resepsi khitanan itu bagi orang Bugis adalah sebagai maksud menghargai adat istiadat dan bukan sekedar pemborosan. Apalagi jika mengingat kata-kata Mami tadi "belum tentu kita bisa lihat cucu ta' kalo dia menikah nanti, makanya dipakaikan baju pengantin di acara sunatannya" ooouch! Jadi terharu dengarnya...
Tapi ini semua sih tergantung persepsi masing-masing orang yaa dalam memandang perhelatan adat :)

Berhubung koleksi dokumentasiku masih ada, yuk kita flashback lewat foto ;)

Resepsi khitananku bareng Era (1983)

Resepsi khitanan Sherief, adikku (1993)

Resepsi khitanan Alifah bareng sepupu-sepupunya (2001)

Nadhif bareng 2 orang berpakaiain baju bodo putih yang berperan sebagai induk semangnya
Posting Komentar