Senin, Desember 14, 2015

Curhat ala Ibu-ibu di Coaching Group for Mommies


Berawal dari obrolan di group alumni SD IKIP'88, diselingi dengan curcol dikit-dikit, akhirnya kami berinisiatif untuk bertemu, makan siang bareng, skaligus coaching masalah keluarga sama teman kami Fauziah Zulfitri (Ochy) yang kini berprofesi sebagai psikolog.

Setelah beberapa kali mengatur waktu yang rada susah klopnya karena masing-masing sibuk dengan kerjaannya, akhirnya diputuskan coaching diadain hari Jum'at tgl.11 Desember 2015 di Peeple Coffee Working Space. Itupun waktunya cuman 2 jam karena Ochy harus balik ngantor lagi... Dan atas permintaan Ochy peserta coaching tidak boleh terlalu banyak biar dia bisa mendengar semua uneq-uneq kami.


Dengan dress code baju warna putih biar kompakan, kami ada 7 orang hadir hampir bersamaan. Saya, Imelda Gatta (Ime), Neliana Amriawati (Ana), Orfy Alamsyah (Orfy), Fitri Arsyad (Fitri), Isma Azis Riu (Chimot), dan Asmulyanti (Yanti). Semua keliatan antusias banget dengan pertemuan ini dan udah siap dengan segala uneq-uneqnya hehee...

Diawali dengan mengisi perut dulu, biar gak ada yang keroncongan saat curhat, sambil Ochy nanyain satu-persatu usia anak kami masing-masing. Ada yang punya anak sudah remaja bahkan dewasa, ada pula yang masih balita.

Abis makan, foto-foto duyuuu...

Akhirnya mulailah mengalir cerita dari mulut kami. Beda orang, beda masalah... Tapi intinya semua merasa anak-anak susah diatur dan ibu-ibu kadang kurang bisa menahan emosi saat menghadapinya. Ada yang bahkan menerapkan hukuman secara fisik, seperti pukulan atau cubitan kepada anak. Hhmmm....

Ada teman yang cerita tentang 3 orang anaknya, cowok semua, yang jika berselisih paham tidak jarang disertai dengan adu jotos. Ada pula anaknya sewaktu kecil terlihat sangat sabar tapi ketika mulai besar sering membantah. Ada juga yang bercerita bagaimana cara menyelesaikan masalah yang mereka hadapi terhadap prilaku anak mereka.

Fitri lagi curhat & Ochy mendengarkan

Ochy memberikan contoh kasus kepada Fitri

Saya sendiri juga mengungkapkan uneq-uneq permasalahan yang saya alami dengan 2 anak yang mulai beranjak remaja, yaitu Alifah dan Nadhif. Setiap anak beda perkembangannya sehingga beda cara penanganannya. Apalagi beda jenis kelamin juga. Salah satu kasus yang sama yang pernah saya hadapi terhadap 2 anak ini adalah ketika guru mereka mengatakan "anak Ibu kalo bicara agak kasar. Tidak segan bicara, apa yang mau dibilang dikeluarkan saja", saya jelaskan kepada gurunya kalo dalam keluarga kami memang diajarkan untuk berani mengungkapkan apa yang dirasakan, tidak perlu dipendam apalagi sampai takut untuk berbicara. Sehingga hal itu sudah menjadi karakter kami. Namun Ochy memberi masukan bahwa memang bagus untuk bersikap terbuka, tapi yang perlu diperhatikan adalah cara penyampaiannya, secara halus sehingga tidak menyinggung orang. Dan ini yang disebut dengan sikap asertif, yaitu mampu mengkomunikasikan apa yang dirasakan dengan tetap menghargai perasaan dan hak-hak orang lain.

Saya mendengar

Saya menyimak

Saya berbagi pengalaman

Saya mencari solusi

Ochy dalam memberikan masukan kepada kami tidak bersikap menggurui, tapi lebih pada pendekatan personal, dengan sharing pengalaman dia juga sebagai ibu dan istri. Sehingga pertemuan menjadi asyik karena terkesan serius tapi santai. Yang disampaikan kepada kami bahwa sebenarnya menjadi ibu yang kadang suka marah itu wajar, tapi kita harus tau dulu...kenapa sih kita harus marah? Kenapa sih mudah emosi?? Dan terutama, kenapa anak yang selalu jadi pelampiasan kemarahan kita???

Ochy juga ngasi PR buat kami, agar ada perubahan dalam cara mengasuh anak. Dan PR ini nanti dilaporkan progressnya pada pertemuan berikutnya.

Jadi intinya kita harus bisa belajar menguasai diri sendiri, belajar mengendalikan emosi. Karena anak adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada kita untuk dirawat dan dibesarkan.
Mereka, seperti halnya kita, punya karakter masing2, dan punya cara pandang yg berbeda ttg dunia ini.
Kita tidak bisa meminta mereka untuk mengerti kita, tapi kita yang harus mengerti akan dunia mereka. Apalagi karena mereka dibesarkan berbeda dengan jamannya kita saat dibesarkan, sehingga faktor lingkungan juga tentunya banyak mempengaruhi.

Ochy saat memberikan masukan

Sharing yang serius tapi santai

Para peserta mangut-mangut dengar penjelasan Ochy, hahaha....

Pertemuan yang rencananya hanya 2 jam akhirnya molor jadi 3 jam... Tapi tetap terasa kurang. Rasanya masih banyak yang pengen diceritain, masih banyak yang pengen kita dengan dari Ochy. Makanya coaching group ini akan dilanjutkan lagi dengan topik bahasan yang lebih spesifik di setiap sesinya.

Harapan kami semua setelah mendapat coaching ini bisa menjadi lebih baik dalam menghadapi setiap masalah, khususnya dalam mengurus keluarga, terutama anak.

Makasih Ochy atas waktunya dan masukan-masukannya buat kami. Sukses terus buat semua!!! 

Cheers, mommies 👏👏👏😘😘😘
Posting Komentar